Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal Edukasi Umat tentang Arti dan Penggunaan Air Suci

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal melaksanakan kegiatan pembinaan iman bagi umat Lingkungan Santa Teresa Kalkuta melalui pendalaman materi tentang air suci dalam Gereja Katolik. Kegiatan ini berlangsung pukul 20.00–21.30 WIB di rumah keluarga K. Hutajulu/br. Tampubolon, Jalan Tanah Tinggi, Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan. Pertemuan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman umat mengenai makna dan penggunaan air suci dalam kehidupan iman Katolik.

Dalam kegiatan tersebut, umat diajak mengenal air suci sebagai salah satu sarana sakramentali dalam Gereja Katolik. Air suci diberkati oleh Gereja dan digunakan untuk membantu umat mengungkapkan iman, mengingat kembali Sakramen Baptis, serta memohon perlindungan dan berkat Allah. Melalui penjelasan ini, umat diharapkan memahami bahwa penggunaan air suci bukan sekadar kebiasaan atau tradisi, melainkan bagian dari penghayatan iman yang mengarahkan hati kepada Allah.

Materi selanjutnya membahas hubungan air suci dengan Sakramen Baptis. Air memiliki makna penting dalam tradisi Kristiani sebagai lambang penyucian, kehidupan baru, dan kelahiran kembali dalam Kristus. Ketika umat membuat tanda salib dengan air suci saat memasuki gereja, tindakan tersebut menjadi pengingat akan janji Baptis serta panggilan untuk hidup sebagai pengikut Yesus Kristus yang setia.

Selain itu, dijelaskan pula penggunaan air suci dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika memasuki dan meninggalkan gereja maupun saat berdoa secara pribadi atau bersama keluarga. Umat diajak menggunakan air suci dengan penuh hormat dan disertai sikap batin yang sungguh-sungguh. Air suci bukanlah benda yang memiliki kekuatan magis, melainkan sarana sakramentali yang membantu umat mempersiapkan diri menerima rahmat Allah dan semakin menghayati kehidupan doa.
Melalui pendalaman materi ini, umat Lingkungan Santa Teresa Kalkuta juga diajak memperkuat kebiasaan doa dalam keluarga dan membangun kesadaran akan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan air suci hendaknya disertai iman, pertobatan, dan komitmen untuk menjalankan ajaran Kristus. Dengan demikian, simbol-simbol iman dalam Gereja tidak hanya dipahami secara lahiriah, tetapi juga membawa perubahan nyata dalam sikap dan perilaku umat.

Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Katolik dalam memberikan pelayanan dan pembinaan keagamaan kepada umat. Menurutnya, kegiatan penyuluhan seperti ini sangat penting untuk memperluas wawasan serta memperkuat keimanan umat sesuai dengan ajaran agama masing-masing.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan Penyuluh Agama Katolik yang senantiasa memberikan pelayanan dan pemahaman keagamaan kepada umat. Pembinaan seperti ini sangat berguna untuk meningkatkan pengetahuan dan keimanan umat. Semakin banyak pengetahuan keagamaan yang diperoleh dan diamalkan, diharapkan semakin baik pula moralitas, akhlak, serta perilaku umat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Agus Salim.

Ia berharap kegiatan pembinaan keagamaan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bentuk pelayanan KUA kepada masyarakat. Menurutnya, penyuluhan agama tidak hanya berfokus pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga berperan dalam membangun karakter, memperkuat nilai-nilai moral, serta menumbuhkan kehidupan bermasyarakat yang rukun dan harmonis.
Kegiatan pembinaan iman ini diharapkan dapat membantu umat Lingkungan Santa Teresa Kalkuta semakin memahami kekayaan tradisi dan ajaran Gereja Katolik. Melalui penyampaian materi tentang air suci, umat diharapkan semakin menghayati makna Sakramen Baptis, meningkatkan kehidupan doa, serta bertumbuh dalam iman dan kekudusan.

Pendalaman materi tentang arti dan penggunaan air suci menjadi bagian dari pelayanan Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal dalam mendukung pertumbuhan iman umat. Melalui kegiatan ini, umat diharapkan tidak hanya memahami makna air suci secara teoretis, tetapi juga mampu menghayati nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, diharapkan tumbuh umat yang semakin dewasa dalam iman, memiliki moralitas yang baik, serta mampu menjadi saksi kasih Kristus di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.(RAS/PAI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *