Medan (Humas) – Kesempatan untuk mempelajari dan memahami Al-Qur’an merupakan hak setiap umat Islam, termasuk penyandang tunanetra yang membutuhkan metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mereka. Komitmen menghadirkan pembinaan keagamaan yang inklusif diwujudkan oleh Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, M. Dahri Pohan, melalui kegiatan Pengajian Ilmu Tajwid di Majelis Taklim Al-Qur’an Braille (MATAB), Senin (2/11/2026). Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi jamaah tunanetra untuk memperdalam ilmu tajwid dan meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an menggunakan huruf Braille. Sejak resmi digagas dan dibentuk, jumlah jamaah yang mengikuti kegiatan tersebut terus mengalami peningkatan.
MATAB hadir sebagai wadah pembelajaran Al-Qur’an yang memberikan kesempatan kepada penyandang tunanetra untuk memperoleh pembinaan keagamaan secara berkelanjutan. Dalam kegiatan tersebut, jamaah mempelajari ilmu tajwid sebagai bekal untuk memahami kaidah membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan huruf Braille sehingga jamaah dapat mengenali dan mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Selain menjadi tempat menimba ilmu, MATAB juga berperan sebagai ruang untuk membangun kebersamaan dan mempererat silaturahmi ant jamaah. Melalui pertemuan rutin, para peserta memiliki kesempatan untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, serta menumbuhkan semangat dalam mempelajari Al-Qur’an. Kehadiran majelis taklim ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran keagamaan bagi penyandang tunanetra secara lebih terarah dan berkesinambungan.
M. Dahri Pohan menyampaikan rasa syukur atas perkembangan MATAB yang ditandai dengan bertambahnya jumlah jamaah sejak awal pembentukannya. Menurutnya, antusiasme tersebut menjadi dorongan untuk terus mengembangkan kegiatan pembelajaran Al-Qur’an Braille agar semakin banyak penyandang tunanetra memperoleh kesempatan belajar.
“Alhamdulillah, setelah MATAB resmi kami gagas dan bentuk, jumlah jamaah yang bergabung semakin bertambah. Hal ini menjadi kebahagiaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan pembelajaran ilmu tajwid dan Al-Qur’an Braille bagi saudara-saudara tunanetra,” ungkap Dahri.
Bertambahnya jumlah jamaah menunjukkan bahwa keberadaan MATAB mendapat sambutan positif sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pembelajaran Al-Qur’an yang inklusif. Kondisi ini menjadi dorongan untuk menjaga keberlangsungan kegiatan dan meningkatkan kualitas pembinaan. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, jamaah diharapkan semakin percaya diri dalam membaca Al-Qur’an serta memiliki kesempatan yang sama untuk memperdalam ilmu agama.
Pembelajaran Al-Qur’an Braille juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan keagamaan bagi penyandang disabilitas netra. Melalui metode yang sesuai, keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk mempelajari kitab suci dan meningkatkan kualitas ibadah. Semangat untuk terus belajar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT menjadi nilai penting yang tumbuh melalui kegiatan MATAB.
Melalui semangat Penyuluh Bergerak dan Penyuluh Berkarya, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan terus berupaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. MATAB menjadi salah satu wujud nyata pembinaan yang memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas netra. Diharapkan, majelis taklim ini terus berkembang, semakin banyak jamaah yang bergabung, dan menjadi ruang belajar Al-Qur’an yang membawa manfaat bagi masyarakat.

