Medan (Humas) – Kementerian Agama Kota Medan terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan madrasah melalui penguatan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Komitmen tersebut diwujudkan dengan penyelenggaraan Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Kerangka Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025 yang berlangsung selama dua hari, 17–18 Juli 2026.
Workshop diikuti oleh kepala madrasah dan para guru sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman serta kesiapan pendidik dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di lingkungan RA dan madrasah. Kegiatan menghadirkan Pengawas Madrasah, Fadhilah Juli Yanti Harahap, S.Pd., M.Si., sebagai narasumber dengan didampingi Kepala Madrasah Ibrahim Rangkuti, S.Pd.I.
Suasana workshop berlangsung dinamis dan interaktif. Para peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi, berbagi pengalaman, serta menyusun strategi implementasi kurikulum yang sesuai dengan karakteristik madrasah. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan, gagasan, dan praktik baik yang dibagikan selama kegiatan berlangsung.
Melalui workshop tersebut, Kementerian Agama Kota Medan mendorong seluruh pendidik untuk memahami arah kebijakan KMA Nomor 1503 Tahun 2025 sebagai pedoman terbaru dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Berbagai materi yang disampaikan meliputi Kerangka Dasar Kurikulum, Struktur Kurikulum, Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), hingga penerapan Kurikulum Berbasis Cinta melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai integrasi nilai-nilai Panca Cinta ke dalam proses pembelajaran. Nilai-nilai tersebut diharapkan mampu menjadi fondasi dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Pengawas Madrasah, Fadhilah Juli Yanti Harahap menjelaskan bahwa implementasi KMA Nomor 1503 Tahun 2025 merupakan langkah strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman di madrasah. Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta harus menjadi ruh dalam setiap proses pendidikan sehingga pembelajaran benar-benar memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik.
“Kurikulum Berbasis Cinta harus menjadi ruh dalam setiap proses pembelajaran. Melalui implementasi KMA Nomor 1503 Tahun 2025, kita ingin melahirkan peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kepedulian sosial, serta kecintaan kepada Allah SWT, ilmu pengetahuan, sesama manusia, lingkungan, dan tanah air,” ujar Fadhilah.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum sangat ditentukan oleh kesiapan guru dalam merancang pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan berpihak kepada peserta didik. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru harus terus dilakukan agar transformasi pendidikan di madrasah dapat berjalan secara optimal.
“Guru memiliki peran sentral dalam menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Ketika guru memahami filosofi Kurikulum Berbasis Cinta, maka proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas, tetapi juga pribadi yang memiliki karakter kuat dan mampu hidup berdampingan secara harmonis di tengah masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Madrasah Ibrahim Rangkuti menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Agama Kota Medan atas penyelenggaraan workshop yang dinilai sangat bermanfaat bagi peningkatan kompetensi pendidik. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai arah kebijakan kurikulum sekaligus menjadi bekal dalam menyusun pembelajaran yang lebih inovatif dan berorientasi pada pembentukan karakter.
“Kami siap mengimplementasikan hasil workshop ini dalam proses pembelajaran di madrasah agar Kurikulum Berbasis Cinta benar-benar menjadi budaya yang hidup dalam setiap aktivitas belajar mengajar. Kami ingin menghadirkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, peduli, dan memiliki semangat mencintai sesama,” ungkap Ibrahim.
Selama dua hari pelaksanaan workshop, peserta mengikuti berbagai sesi pemaparan materi, diskusi kelompok, simulasi penyusunan perangkat ajar, serta berbagi praktik baik mengenai penerapan Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta. Para guru juga dibimbing menyusun perencanaan pembelajaran yang mengintegrasikan delapan dimensi profil lulusan serta nilai-nilai Panca Cinta sesuai amanat KMA Nomor 1503 Tahun 2025.
Melalui workshop ini, Kementerian Agama Kota Medan berharap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh madrasah dapat berjalan secara optimal, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Penguatan kapasitas guru menjadi langkah strategis dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sehingga madrasah mampu melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap agama, sesama, lingkungan, dan bangsa.

