Kenalkan Panca Tugas Gereja, Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal Berikan Pendampingan Katekumen

Medan Sunggal (Humas) – Penyuluh Agama Katolik KUA Medan Sunggal, Roni Antonius Sitanggang, melaksanakan kegiatan pendampingan katekumen secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 20.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh Santi Manalu, seorang katekumen yang berasal dari Kabupaten Toba. Pendampingan ini merupakan bagian dari proses pembinaan iman Katolik yang bertujuan memperkenalkan ajaran Gereja serta membantu katekumen memahami panggilan dan tanggung jawab sebagai calon anggota Gereja Katolik.

Materi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah “Panca Tugas Gereja”. Dalam pemaparan materi, dijelaskan bahwa Gereja memiliki lima tugas pokok dalam menjalankan perutusannya di tengah dunia, yaitu Kerygma (pewartaan), Leitourgia (peribadatan), Koinonia (persekutuan), Diakonia (pelayanan), dan Martyria (kesaksian). Kelima tugas ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Gereja dalam mewartakan Injil, merayakan iman, membangun persaudaraan, melayani sesama, dan memberikan kesaksian tentang kasih Kristus.
Tugas pertama adalah Kerygma, yaitu pewartaan Sabda Allah kepada semua orang. Pewartaan ini dilaksanakan melalui pemberitaan Injil, katekese, pendalaman Kitab Suci, homili, dan berbagai kegiatan pembinaan iman. Melalui tugas ini, Gereja membantu umat mengenal Yesus Kristus, memahami ajaran-Nya, serta menjadikan Sabda Tuhan sebagai pedoman hidup.

Santi Manalu diajak memahami bahwa pewartaan tidak hanya menjadi tanggung jawab para imam atau petugas pastoral, tetapi juga merupakan panggilan setiap orang Katolik sesuai dengan kemampuan dan lingkungan hidupnya. Tugas kedua dan ketiga adalah Leitourgia dan Koinonia. Leitourgia berarti peribadatan, yakni perayaan iman melalui doa bersama, Ekaristi, dan perayaan sakramen-sakramen Gereja. Sementara itu, Koinonia berarti persekutuan yang diwujudkan melalui persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian di antara umat beriman. Kedua tugas ini mengingatkan bahwa kehidupan Katolik tidak dapat dipisahkan dari doa dan persekutuan. Umat dipanggil untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan liturgis serta membangun hubungan yang harmonis dengan sesama anggota Gereja.

Selanjutnya, dijelaskan tugas Diakonia dan Martyria. Diakonia merupakan pelayanan kasih kepada sesama, terutama mereka yang miskin, sakit, menderita, dan membutuhkan pertolongan. Pelayanan ini dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial, kunjungan kepada orang sakit, bantuan bagi keluarga yang mengalami kesulitan, serta tindakan sederhana yang menunjukkan kepedulian. Adapun Martyria berarti kesaksian iman, yaitu keberanian untuk menunjukkan nilai-nilai Injil melalui perkataan, sikap, dan perbuatan. Melalui kedua tugas ini, umat diajak menghadirkan kasih Kristus secara nyata sehingga kehadiran Gereja membawa harapan dan kebaikan bagi masyarakat.

Melalui pendampingan katekumen ini, Santi Manalu diharapkan semakin memahami Panca Tugas Gereja dan menyadari bahwa setiap umat memiliki peran dalam menjalankan perutusan Gereja. Kelima tugas tersebut hendaknya tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, lingkungan Gereja, maupun masyarakat. Meskipun dilaksanakan secara daring, kegiatan ini menjadi sarana pembinaan iman yang mendukung proses persiapan katekumen. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan Santi Manalu semakin siap menjadi anggota Gereja Katolik yang aktif, bertanggung jawab, dan mampu menjadi saksi Kristus di tengah kehidupan masyarakat.

Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Katolik dalam memberikan pembimbingan dan pelayanan kepada umat. Menurutnya, pelayanan penyuluhan agama harus terus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana bimbingan dan pembinaan keagamaan.
Ia berharap ilmu dan materi keagamaan yang disampaikan oleh para penyuluh dapat memberikan manfaat bagi umat dalam meningkatkan pemahaman, pengamalan, serta nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan penyuluhan agama diharapkan turut memperkuat kerukunan, toleransi, kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. .(RAS/PAI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *