Medan (Humas) — Keterbatasan ruang dan jumlah peserta didik bukan menjadi penghalang bagi terlaksananya pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di UPT SD Negeri 060910 Medan. Semangat belajar seorang siswa kelas II yang tetap antusias mengikuti pembelajaran meskipun seorang diri mendapat apresiasi dari Pengawas Pendidikan Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Lidia Rayani Pinem. Hal tersebut terlihat saat Lidia melaksanakan supervisi proses belajar mengajar (PBM) bagi guru Pendidikan Agama Katolik di sekolah yang berada di Medan Tenggara VII, Kelurahan Medan Tenggara, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Rabu (9/9/2026).
Supervisi tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Katolik sekaligus memastikan proses pendidikan berjalan dengan baik sesuai kebutuhan peserta didik. Dalam kunjungannya, Lidia mengamati proses pembelajaran serta berdialog dengan guru mengenai kondisi dan tantangan yang dihadapi dalam memberikan layanan pendidikan agama di sekolah. Ia juga memberikan penguatan dan motivasi agar guru terus menghadirkan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan mampu membangun semangat peserta didik.
Salah satu hal yang menarik perhatian Lidia adalah semangat siswa kelas II yang tetap mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Katolik meskipun tidak memiliki teman belajar dengan keyakinan yang sama di kelasnya. Kondisi tersebut tidak membuat siswa kehilangan minat untuk belajar, bertanya, maupun mengikuti materi yang disampaikan oleh guru. Semangat tersebut menjadi gambaran bahwa setiap peserta didik memiliki hak untuk memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama dan keyakinannya, tanpa terhalang oleh jumlah siswa maupun kondisi lingkungan belajar.
Proses pembelajaran pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan di luar ruang kelas karena keterbatasan ruangan yang tersedia di sekolah. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi kualitas dan antusiasme dalam proses belajar mengajar. Guru Pendidikan Agama Katolik, Nurmajon Sijabat, M.Pd., terus berupaya menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dengan memanfaatkan kondisi yang ada serta menghadirkan berbagai inovasi agar peserta didik tetap nyaman, aktif, dan termotivasi mengikuti pelajaran.
Lidia Rayani Pinem mengapresiasi ketekunan dan kreativitas guru yang tetap memberikan pendampingan secara optimal di tengah keterbatasan tersebut. Menurutnya, guru Pendidikan Agama Katolik memiliki peran penting dalam memastikan peserta didik mendapatkan pendampingan keagamaan sekaligus pengalaman belajar yang bermakna. Ia menilai semangat guru dalam mendampingi siswa yang belajar seorang diri merupakan bentuk komitmen dalam memberikan pelayanan pendidikan yang inklusif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Tempat dan keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi siswa untuk tetap belajar sesuai agamanya. Semangat guru dalam mendampingi anak patut diapresiasi. Justru dari kondisi seperti ini kita dapat melihat ketulusan dan kreativitas guru dalam memberikan pelayanan pendidikan agama kepada peserta didik,” ujar Lidia.
Ia menambahkan, pembelajaran agama tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga bagaimana guru menanamkan nilai-nilai iman, karakter, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, guru diharapkan terus membangun suasana belajar yang positif sehingga peserta didik merasa diperhatikan, dihargai, dan memiliki ruang untuk berkembang meskipun berada dalam kondisi yang terbatas.
Lidia berharap semangat yang ditunjukkan guru dan peserta didik tersebut dapat terus dipertahankan serta menjadi motivasi bagi seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung penyelenggaraan Pendidikan Agama Katolik di sekolah. Kementerian Agama Kota Medan melalui pengawas pendidikan agama akan terus melakukan pendampingan dan supervisi sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pembelajaran serta memastikan hak peserta didik dalam memperoleh pendidikan agama dapat terpenuhi dengan baik.
Semangat belajar siswa yang tetap terjaga di tengah keterbatasan menjadi pesan penting bahwa kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan sarana dan jumlah peserta didik. Dengan ketulusan guru, dukungan sekolah, dan perhatian dari berbagai pihak, pembelajaran tetap dapat berlangsung secara bermakna. Dari ruang belajar yang sederhana tersebut, semangat untuk mengenal, memahami, dan menghidupi nilai-nilai iman justru terus tumbuh.

