KUA Medan Amplas Hadirkan Podcast IKMA Edisi ke-33, Bahas Tiga Tahun IPARI Berkarya Perkuat Dakwah dan Harmoni Bangsa

Medan (Humas) – Komitmen memberikan pelayanan keagamaan yang profesional, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman terus diwujudkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas. Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., secara berkelanjutan mengarahkan seluruh jajaran penghulu, penyuluh agama, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk tidak hanya memberikan pelayanan administrasi yang prima, tetapi juga aktif melakukan pembinaan, edukasi, serta penguatan moderasi beragama di tengah masyarakat.

Menurutnya, transformasi pelayanan KUA harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi informasi agar pesan-pesan keagamaan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif.

“Aparatur KUA harus mampu menjadi pelayan masyarakat sekaligus agen edukasi keagamaan. Kita tidak cukup hanya memberikan pelayanan administrasi, tetapi juga harus hadir memberikan pembinaan, penguatan moderasi beragama, serta memanfaatkan teknologi sebagai media dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” ujar H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan.

Sebagai implementasi dari komitmen tersebut, KUA Medan Amplas yang dikenal sebagai KUA Inspiratif terus mengembangkan Podcast Informasi Keagamaan Medan Amplas (IKMA). Program ini merupakan inovasi yang diinisiasi langsung oleh Kepala KUA Medan Amplas dan hingga kini menjadi satu-satunya podcast resmi di lingkungan KUA se-Kota Medan yang secara konsisten menyajikan edukasi keagamaan kepada masyarakat.

Pelaksanaan Podcast IKMA dikoordinasikan oleh Dr. Syarto, Lc., M.A. selaku Koordinator Podcast dengan dukungan Muhyiddin Nasution sebagai videografer. Melalui kolaborasi tersebut, Podcast IKMA terus menghadirkan narasumber kompeten dari berbagai kalangan untuk membahas isu-isu keagamaan yang aktual, inspiratif, dan mencerahkan.

Podcast IKMA kembali hadir melalui episode ke-33 dengan menghadirkan Dr. H. Marasakti Bangunan, M.A. sebagai narasumber. Mengusung tema “Tiga Tahun IPARI Berkarya: Meneguhkan Dakwah, Menguatkan Harmoni Bangsa”, dialog dipandu oleh Dewi Anggraini, S.Ag. sebagai host dan berlangsung interaktif dalam suasana hangat serta penuh inspirasi. Kamis (2/7/2026)

Dalam sesi pertama, narasumber mengulas sejarah berdirinya Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI)beserta perjalanannya sebagai organisasi profesi yang menaungi para penyuluh agama di seluruh Indonesia.

Pada sesi kedua, Dr. Marasakti Bangunan memaparkan berbagai capaian dan kontribusi IPARI selama tiga tahun berkarya. Menurutnya, IPARI telah menjadi wadah strategis dalam meningkatkan kompetensi penyuluh agama, memperkuat jejaring profesional, serta memperluas kontribusi penyuluh dalam pembinaan masyarakat.

“Selama tiga tahun perjalanan ini, IPARI telah menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi profesi yang terus berkembang. Kehadirannya menjadi ruang kolaborasi, peningkatan kapasitas, dan penguatan peran penyuluh agama dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis di tengah masyarakat,” jelasnya.

Memasuki sesi ketiga, pembahasan difokuskan pada tantangan dakwah di era digital. Dr. Marasakti menegaskan bahwa penyuluh agama harus mampu memanfaatkan teknologi informasi dan media digital sebagai sarana dakwah yang efektif, edukatif, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Era digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Penyuluh agama harus hadir di ruang digital untuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan yang moderat, menyejukkan, mencerdaskan umat, serta mampu menangkal berbagai informasi yang menyesatkan,” ungkapnya.

Pada sesi keempat, narasumber menyoroti peran strategis penyuluh agama dalam menjaga kerukunan dan memperkuat harmoni bangsa. Ia menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki tanggung jawab besar dalam membangun moderasi beragama, memperkuat persatuan, serta menjadi jembatan komunikasi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

“Penyuluh agama merupakan garda terdepan dalam membangun harmoni sosial. Melalui pembinaan yang humanis dan moderat, penyuluh dapat menjadi perekat persaudaraan serta memperkuat persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama,” ujarnya.

Pada sesi penutup, Dr. Marasakti Bangunan menyampaikan harapannya agar IPARI terus berkembang menjadi organisasi profesi yang semakin solid, inovatif, dan profesional dalam menjawab dinamika kehidupan masyarakat.

“Penyuluh agama harus terus belajar, meningkatkan kompetensi, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan berinovasi dalam metode dakwah agar tetap relevan serta mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pesannya.

Usai pelaksanaan podcast, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi pemikiran, pengalaman, dan wawasan yang telah dibagikan melalui Podcast IKMA.

Melalui Podcast Informasi Keagamaan Medan Amplas (IKMA), KUA Kecamatan Medan Amplas kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat layanan dan edukasi keagamaan yang inovatif. Inisiatif ini diharapkan semakin memperkuat transformasi digital dalam dakwah, meningkatkan literasi keagamaan masyarakat, serta mendukung terwujudnya kehidupan beragama yang moderat, harmonis, dan berkemajuan di Kota Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *