Medan (Humas) — Komitmen KUA Kecamatan Medan Baru dalam menciptakan lingkungan yang hijau, sehat, dan berkelanjutan kembali tampak melalui program pengembangan ekoteologi yang terus digiatkan. Salah satu wujud nyata dari program tersebut adalah pemanfaatan lahan kosong di samping kantor KUA yang kini tumbuh subur dengan berbagai tanaman produktif. Kawasan yang dulunya tidak termanfaatkan, kini berubah menjadi ruang hijau yang asri dan memberi manfaat ekologis maupun edukatif. (4/12)
Lahan hijau tersebut kini dipenuhi berbagai jenis tanaman buah seperti jeruk, jambu, mangga, serta sejumlah pohon pelindung lainnya. Penanaman dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan sebagai bagian dari visi KUA Medan Baru dalam mengintegrasikan ajaran agama dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Kepala KUA Medan Baru, Julhaidir Sembiring, M.Ag., menegaskan bahwa program penghijauan ini tidak hanya sebatas upaya estetika, tetapi bagian dari penguatan nilai ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari.
“Ekoteologi bukan hanya konsep, tetapi tindakan nyata. Kita ingin menunjukkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral setiap manusia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program ini dirancang untuk menjadi contoh sederhana bagaimana lembaga keagamaan dapat berperan dalam pelestarian lingkungan.
“Kami ingin KUA hadir sebagai pelopor, bukan hanya tempat pelayanan keagamaan, tetapi juga pusat edukasi yang mengajarkan bahwa Allah menciptakan alam untuk dijaga, bukan dieksploitasi,” ungkapnya.
Menurut Julhaidir, kehadiran lahan hijau tersebut telah memberikan dampak positif, baik bagi lingkungan sekitar maupun bagi para pegawai serta masyarakat yang datang ke kantor KUA.
“Orang yang datang kini bisa melihat langsung bahwa ruang kecil saja, jika dimanfaatkan dengan baik, bisa memberi perubahan. Ini pesan penting menjaga bumi tidak harus menunggu program besar, cukup dimulai dari halaman sendiri,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa pohon-pohon buah yang ditanam tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi nantinya akan menjadi aset produktif bagi masyarakat sekitar. Hal ini sejalan dengan tujuan ekoteologi yang menggabungkan pelestarian alam dengan kemanfaatan sosial.
Program pengembangan ekoteologi di KUA Medan Baru tidak berhenti sampai di sini. Julhaidir menyampaikan bahwa pihaknya berencana memperluas kawasan hijau tersebut dan menambah jenis tanaman lain yang bermanfaat jangka panjang.
“Ke depan, kami akan memperluas penanamannya, sekaligus mengajak masyarakat sekitar untuk ikut serta. Edukasi lingkungan akan menjadi bagian dari kegiatan keagamaan yang berjalan di KUA,” jelasnya.
Ia berharap langkah kecil ini dapat menjadi inspirasi bagi instansi pemerintah lainnya, khususnya lembaga keagamaan, untuk bersama-sama menjaga bumi melalui tindakan sederhana tetapi berdampak besar.
Dengan upaya yang dilakukan secara konsisten, KUA Medan Baru kembali menegaskan komitmennya sebagai lembaga yang tidak hanya fokus pada pelayanan keagamaan, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan sebagai wujud implementasi ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa agama mengajarkan cinta lingkungan. Bila KUA saja bisa memulai, kami yakin masyarakat pun akan tergerak melakukan hal serupa,” tutup Julhaidir.

