Menjangkau yang Rentan, Penyuluh Agama Kristen Berikan Penguatan Rohani bagi Deteni Rudenim

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan melaksanakan pelayanan rohani bagi para deteni di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) yang berada di bawah naungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan pada Rabu (4/6/2026) . Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan mental dan spiritual bagi para deteni yang menjalani masa penampungan sementara sebelum dideportasi ke negara asal masing-masing.

Dalam pelayanan tersebut, para deteni mendapatkan penguatan dan motivasi melalui pendekatan keagamaan yang bertujuan membantu mereka menghadapi berbagai tantangan selama berada di tempat penampungan. Kehadiran penyuluh agama diharapkan dapat memberikan ketenangan batin serta semangat bagi para deteni yang tengah menghadapi situasi penuh ketidakpastian.

Rudi Nainggolan menjelaskan bahwa kehadiran penyuluh agama di Rudenim memiliki peran penting dalam memberikan dukungan moral dan spiritual kepada para deteni yang berasal dari berbagai latar belakang negara dan budaya.

Menurutnya, pelayanan rohani tidak hanya menjadi sarana pembinaan keagamaan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap kondisi psikologis para deteni yang sedang menghadapi ketidakpastian terkait masa depan mereka. Ia menegaskan bahwa pendekatan spiritual menjadi salah satu cara untuk membantu para deteni tetap memiliki kekuatan batin dan optimisme selama menjalani masa penampungan.

“Melalui pelayanan rohani ini, kami berupaya menguatkan dan memotivasi para deteni dengan bahasa agama agar mereka tetap memiliki harapan, ketenangan, dan semangat selama menjalani masa penampungan di Rudenim. Kehadiran kami di sini adalah untuk memberikan pendampingan spiritual sehingga mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi situasi yang sedang dialami,” ujar Rudi Nainggolan.

Lebih lanjut, Rudi menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan pelayanan rohani adalah perbedaan bahasa. Para deteni yang berasal dari berbagai negara sering kali tidak memahami bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, sehingga proses komunikasi dan penyampaian materi pembinaan menjadi tidak mudah.

Ia menilai dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan agar pelayanan kepada para deteni dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau kebutuhan mereka secara optimal.

“Kami berharap ke depan ada dukungan dari pemerintah atau lembaga yang dapat membantu menyediakan ahli bahasa. Sebab, banyak deteni berasal dari berbagai negara dan tidak memahami bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kehadiran penerjemah tentu akan sangat membantu agar pesan-pesan pembinaan dan motivasi yang kami sampaikan dapat diterima dengan baik oleh mereka,” tambahnya.

Pelayanan rohani yang dilaksanakan secara berkelanjutan ini menjadi wujud komitmen Kementerian Agama dalam menghadirkan layanan keagamaan yang inklusif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Melalui pendekatan yang humanis dan penuh empati, diharapkan para deteni dapat memperoleh penguatan spiritual, ketenangan batin, serta motivasi positif selama menjalani masa penampungan di Rumah Detensi Imigrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *