Muharram Bukan Bulan Sial, PAI KUA Medan Denai Ajak Jama’ah Jadikan Tahun Baru Hijriah sebagai Momentum Hijrah Diri

Medan (Humas) Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Medan Denai kembali menunjukkan komitmennya dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) Keluarga Sakinah yang dilaksanakan di Majelis Taklim Ummahat Aceh Sepakat Cabang IV, Jalan Tuba I, Kecamatan Medan Denai, Selasa (09/06/2026).

Kegiatan yang dihadiri para jamaah majelis taklim tersebut berlangsung penuh kehangatan dan antusiasme. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan muqaddimah oleh protokol Susiana, kemudian sambutan dari Ketua Majelis Taklim, Hj. Marianiy.


Dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kehadiran Penyuluh Agama Islam yang secara rutin memberikan pembinaan dan pencerahan kepada jamaah.
“Kami merasa sangat senang dan terbantu dengan kehadiran Penyuluh Agama Islam yang terus istiqamah memberikan penerangan agama. Kegiatan seperti ini menjadi sarana menambah ilmu sekaligus memperkuat keimanan para jamaah,” ujarnya.

Pada sesi utama, tausiyah disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Medan Denai, Ustadz Syaiful Akhyar, S.H.I., dengan tema “Misteri Bulan Muharram dalam Islam.”


Mengawali pemaparannya, Syaiful menjelaskan bahwa Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 36.

Menurutnya, kemuliaan Muharram bukan terletak pada hal-hal mistis yang berkembang di masyarakat, melainkan pada berbagai keutamaan ibadah yang Allah sediakan bagi hamba-Nya.


“Sebagian masyarakat masih menganggap Muharram sebagai bulan yang identik dengan kesialan atau berbagai pantangan tertentu. Padahal dalam ajaran Islam tidak ada dalil yang menyatakan Muharram sebagai bulan sial. Justru Muharram adalah bulan yang penuh keberkahan dan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh,” jelasnya.

Ia juga menguraikan sejumlah keistimewaan Muharram yang sering luput dari perhatian umat. Salah satunya adalah penyebutan Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah) dalam hadis Rasulullah saw
“Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Penyandaran nama Muharram kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan bulan ini dibanding bulan-bulan lainnya,” terangnya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya Hari Asyura (10 Muharram) yang memiliki nilai sejarah besar dalam perjalanan para nabi. Pada hari tersebut Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun. Karena itu Rasulullah ﷺ tidak hanya berpuasa pada hari Asyura, tetapi juga menganjurkan umatnya untuk melaksanakannya.


Lebih lanjut, Syaiful menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar, yakni menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi.

Menurutnya, Muharram juga memiliki makna strategis karena menjadi gerbang awal tahun Hijriah. Momentum tersebut hendaknya dimanfaatkan umat Islam untuk melakukan muhasabah, memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat hubungan keluarga, serta meningkatkan kepedulian sosial.


“Hijrah yang paling penting pada masa sekarang adalah hijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang diridhai Allah SWT. Tahun baru Hijriah harus menjadi titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik,” pesannya.

Suasana semakin hidup ketika sesi dialog interaktif dibuka. Para jamaah tampak antusias menyampaikan pertanyaan dan tanggapan seputar amalan-amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram. Salah seorang jamaah, Sabariah, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari materi yang disampaikan.


“Penyampaiannya sangat mudah dipahami. Kami jadi mengetahui keutamaan Muharram yang sebenarnya dan memahami bahwa bulan ini bukan bulan kesialan, melainkan bulan yang penuh keberkahan,” ungkapnya.

Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Khoiruz Zaman, S.H.I. Suasana khidmat menyelimuti akhir acara, sementara para peserta berharap kegiatan pembinaan keagamaan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan.

Melalui kegiatan Bimluh Keluarga Sakinah, KUA Medan Denai terus berupaya menghadirkan layanan bimbingan keagamaan yang edukatif, membangun, dan menyentuh kebutuhan umat, sekaligus memperkuat peran penyuluh agama sebagai garda terdepan dalam membina kehidupan beragama di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *