Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai terus memperkuat pembinaan keagamaan masyarakat melalui program Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) Keluarga Sakinah. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan di Majelis Taklim Al-Munawwarah, Masjid Al-Munawwarah, Jalan Tangguk Bongkar 10, Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung ba’da Zuhur hingga sore hari itu diikuti puluhan jamaah dengan penuh antusias. Pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama dalam meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan keluarga melalui penguatan nilai-nilai spiritual dan keislaman.
Acara diawali dengan pembukaan oleh Rahmi Doyani selaku protokol, kemudian dilanjutkan sambutan Ketua Majelis Taklim Al-Munawwarah, Hj. Vina Sumarni. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi para penyuluh agama yang terus hadir memberikan pembinaan kepada masyarakat.
“Kami sangat bersyukur karena kegiatan bimbingan seperti ini terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Materi yang disampaikan selalu relevan dengan kehidupan sehari-hari dan memberikan banyak manfaat bagi jamaah,” ujarnya.
Pada sesi utama, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Syaiful Akhyar, S.H.I., menyampaikan materi bertajuk “Ragam Rezeki dan Tingkatan Rezeki dalam Kehidupan Manusia.” Dalam paparannya, ia mengajak jamaah untuk memahami bahwa rezeki tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta atau materi yang dimiliki seseorang.
Menurutnya, Islam mengajarkan bahwa rezeki memiliki makna yang sangat luas dan mencakup berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya.
“Sering kali kita memandang rezeki hanya sebatas uang, pekerjaan, atau kekayaan. Padahal kesehatan, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, ketenangan hati, sahabat yang baik, hingga kesempatan untuk beribadah juga merupakan rezeki yang sangat besar nilainya di sisi Allah SWT,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa banyak orang yang memiliki kelimpahan materi, namun kehilangan ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, tidak sedikit yang hidup sederhana tetapi merasakan keberkahan dan ketenteraman dalam kehidupannya.
“Ukuran rezeki bukan semata-mata banyaknya harta yang dimiliki, tetapi sejauh mana nikmat itu membawa keberkahan, ketenangan, dan mendekatkan kita kepada Allah SWT. Rezeki yang paling berharga adalah hidayah dan kemampuan untuk tetap istiqamah dalam ketaatan,” ungkapnya.
Dalam kajiannya, Syaiful Akhyar juga menjelaskan lima tingkatan rezeki yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Pertama, rezeki badan berupa makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Kedua, rezeki kehidupan seperti kesehatan, keamanan, pekerjaan, dan keluarga yang baik. Ketiga, rezeki akal berupa ilmu pengetahuan dan hikmah. Keempat, rezeki hati berupa iman, takwa, syukur, sabar, dan tawakal. Adapun tingkatan tertinggi adalah rezeki hidayah dan ma’rifat kepada Allah SWT.
Menurutnya, seseorang yang memperoleh petunjuk Allah dan mampu menjaga keimanan hingga akhir hayat sesungguhnya telah mendapatkan karunia terbesar yang tidak dapat ditukar dengan apa pun.
Suasana pembinaan berlangsung hangat dan interaktif. Jamaah tampak aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman tentang cara mensyukuri nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi yang berkembang membuat materi semakin mudah dipahami dan terasa dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
Salah seorang jamaah, Hj. Dahliana, mengaku mendapatkan pemahaman baru dari materi yang disampaikan.
“Kajian ini membuka wawasan kami bahwa rezeki tidak hanya berupa materi. Kesehatan, keluarga yang rukun, ketenangan hati, dan kesempatan beribadah ternyata merupakan nikmat besar yang sering terlupakan untuk disyukuri,” tuturnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Khoiruz Zaman, S.H.I., memohon keberkahan ilmu, kesehatan, serta kemudahan bagi seluruh jamaah dalam mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan Bimluh Keluarga Sakinah ini, Kementerian Agama Kota Medan berharap masyarakat semakin memahami konsep rezeki secara utuh menurut ajaran Islam, sehingga tumbuh rasa syukur, optimisme, dan semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah serta membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Pembinaan keagamaan yang berkelanjutan ini juga menjadi bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam menghadirkan layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat.

