PAI KUA Medan Denai Ajak Jamaah MT Al-Hasanah Menjaga Lisan dan Kehormatan

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai kembali melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) kepada jamaah Majelis Taklim (MT) Al-Hasanah, Rabu (2/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di kediaman Ibu Darwati, Jalan Raya Menteng Gang Sosial Ujung, Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, tersebut mengangkat tema “Menjaga Lisan, Menjaga Kehormatan”. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya menjaga setiap perkataan sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan dimulai pukul 14.30 WIB dan berlangsung hingga menjelang Salat Asar. Jamaah MT Al-Hasanah mengikuti kegiatan dengan antusias dalam suasana yang penuh kekeluargaan, terlebih tema yang dibahas memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan keluarga dan bermasyarakat. Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu Hamidah selaku protokol, kemudian dilanjutkan sambutan Ketua MT Al-Hasanah, Hj. Sribowati, yang mengajak seluruh jamaah mengikuti kegiatan dengan baik dan mengambil manfaat dari materi yang disampaikan.

Dalam tausyiahnya, PAI KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., mengingatkan jamaah bahwa lisan merupakan salah satu bagian tubuh yang kecil, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia. Melalui lisan, seseorang dapat menyampaikan nasihat, mengajarkan kebaikan, mendamaikan perselisihan dan mempererat hubungan antarsesama. Namun sebaliknya, perkataan yang tidak dijaga dapat menjadi sumber dosa, fitnah, perselisihan, bahkan merusak hubungan yang telah terjalin.

Khoiruz Zaman kemudian mengingatkan jamaah pada firman Allah SWT dalam QS. Qaf ayat 18 yang menegaskan bahwa setiap perkataan manusia senantiasa berada dalam pengawasan dan pencatatan. Karena itu, setiap ucapan harus dipertimbangkan sebelum disampaikan agar tidak menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun orang lain. “Tidak ada satu pun ucapan kita yang sia-sia di hadapan Allah SWT. Karena itu, sebelum berbicara, hendaknya kita berpikir apakah ucapan tersebut benar, bermanfaat dan tidak menyakiti orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim dan menjadi salah satu bentuk kehati-hatian dalam menjalani kehidupan. Hal tersebut semakin penting di tengah kehidupan masyarakat yang dinamis, ketika sebuah perkataan dapat dengan mudah disalahpahami dan berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Oleh sebab itu, kemampuan menahan diri untuk tidak mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat merupakan bentuk kematangan akhlak dan keimanan.

Dalam kesempatan tersebut, Khoiruz Zaman juga mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kitab Bustanul ‘Arifin karya Abu al-Laits Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim as-Samarqandi, seorang ulama bermazhab Hanafi yang wafat pada 373 Hijriah. Ia menjelaskan bahwa dalam kitab tersebut terdapat pembahasan mengenai sejumlah keadaan ketika seseorang dianjurkan untuk lebih menjaga lisan dan menghindari pembicaraan yang tidak diperlukan. Di antaranya ketika mengiringi jenazah, saat Al-Qur’an dibacakan, ketika khutbah berlangsung, berada di majelis zikir dan ilmu, di tempat buang hajat, serta dalam keadaan hubungan suami istri.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa menjaga lisan bukan berarti seorang Muslim dilarang berbicara atau menyampaikan pendapat. Islam justru mengajarkan umatnya untuk menggunakan lisan dalam menyampaikan kebenaran, nasihat dan berbagai bentuk kebaikan, selama dilakukan dengan cara yang tepat. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

Hadis tersebut, lanjut Khoiruz Zaman, memberikan pedoman sederhana tetapi memiliki makna yang sangat mendalam dalam kehidupan seorang Muslim. Setiap perkataan perlu dipertimbangkan dari sisi kebenaran, manfaat serta dampaknya terhadap orang lain. “Kalau perkataan kita baik, sampaikan. Kalau tidak baik, tinggalkan. Kalau tidak tahu apakah perkataan itu bermanfaat atau justru menimbulkan masalah, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat,” tuturnya.

Ia juga mengajak jamaah melakukan muhasabah terhadap penggunaan lisan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, introspeksi perlu dilakukan agar setiap Muslim dapat mengetahui sejauh mana perkataannya telah memberikan manfaat dan sejauh mana ucapannya berpotensi menyakiti orang lain. “Sudah berapa banyak ucapan kita hari ini yang memberikan manfaat? Dan sudah berapa banyak ucapan kita yang mungkin menyakiti hati orang lain?” ajaknya kepada jamaah.

Penyampaian materi berlangsung interaktif dan mendapat respons positif dari jamaah MT Al-Hasanah. Para jamaah aktif mengikuti pembahasan dan menyampaikan berbagai pertanyaan terkait penerapan menjaga lisan, khususnya dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat. Diskusi tersebut membuat materi yang disampaikan semakin kontekstual karena dikaitkan langsung dengan pengalaman dan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Salah seorang jamaah, Ibu Dian Sinaga, menyampaikan apresiasi terhadap materi yang diberikan. Menurutnya, pembahasan tentang menjaga lisan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga menjadi pengingat bagi jamaah untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan perkataan. Ia berharap kegiatan Bimluh seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin dengan mengangkat tema-tema yang relevan dengan kebutuhan jamaah.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Syaiful Akhyar, S.H.I., dan berakhir menjelang waktu Salat Asar. Melalui kegiatan tersebut, PAI KUA Kecamatan Medan Denai berharap jamaah MT Al-Hasanah tidak hanya mendapatkan tambahan pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Khoiruz Zaman menegaskan bahwa menjaga lisan pada akhirnya bukan sekadar mengurangi pembicaraan, melainkan bagaimana menjadikan setiap kata yang keluar sebagai jalan menghadirkan kebaikan, mempererat silaturahmi dan menjaga kehormatan sesama. “Semoga lisan kita menjadi sumber zikir, nasihat dan kebaikan, bukan menjadi sebab lahirnya dosa, permusuhan dan perselisihan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *