PAI KUA Medan Denai Gelar BIMLUH di MT Perwiritan Al Hasanah, Bahas Tafsir Al-Ahzab Ayat 70–71 tentang Pentingnya Menjaga Lisan

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai kembali melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH) di Majelis Taklim (MT) Perwiritan Al Hasanah yang berlangsung di kediaman Hj. Boina, Gang Rahayu, Jalan Raya Menteng No. 96, Kecamatan Medan Denai, Rabu (5/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 14.40 WIB hingga menjelang salat Asar tersebut diikuti para jamaah dengan penuh antusias sebagai bagian dari pembinaan keagamaan rutin yang dilaksanakan KUA Medan Denai.

Acara diawali oleh Marhamah selaku protokol. Selanjutnya, Ketua MT Perwiritan Al Hasanah, Hj. Sribowati, menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus mengapresiasi kehadiran Penyuluh Agama Islam KUA Medan Denai yang secara konsisten membina masyarakat melalui majelis ilmu.

“Kami merasa bersyukur karena majelis taklim ini terus mendapatkan pembinaan dari PAI KUA Medan Denai. Semoga kegiatan seperti ini senantiasa berlanjut sehingga jamaah semakin bertambah ilmu, keimanan, dan semangat untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Hj. Sribowati.

Pada sesi utama, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., menyampaikan kajian tafsir Surah Al-Ahzab ayat 70–71 dengan tema “Lisan yang Benar, Jalan Menuju Keberhasilan Dunia dan Akhirat.” Dalam tausiahnya dijelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan setiap orang beriman agar senantiasa bertakwa dan membiasakan diri mengucapkan perkataan yang benar, jujur, lurus, serta membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Melalui lisan, seseorang dapat menyampaikan dakwah, menebarkan kedamaian, mempererat silaturahmi, serta membangun keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat. Sebaliknya, apabila tidak dijaga, lisan dapat menjadi sumber fitnah, perselisihan, permusuhan, bahkan merusak hubungan antarsesama.

Ia juga menguraikan makna qawlan sadidan, yaitu perkataan yang benar, jujur, tepat sasaran, serta disampaikan dengan adab yang baik. Menurutnya, ajaran tersebut semakin penting diterapkan pada era digital, ketika setiap ucapan maupun tulisan di media sosial dapat menyebar dengan cepat dan membawa dampak yang luas.

“Setiap ucapan yang keluar dari lisan maupun tulisan yang kita bagikan di media sosial akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Karena itu, sebelum berbicara atau menulis, pastikan apa yang kita sampaikan benar, bermanfaat, tidak menyakiti orang lain, serta mendatangkan ridha Allah SWT,” tutur Khoiruz Zaman.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan tiga janji kepada hamba yang menjaga lisannya sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 70–71, yaitu memperbaiki amal-amalnya, mengampuni dosa-dosanya, serta menganugerahkan kemenangan yang besar berupa kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

“Keberhasilan seorang mukmin bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga akhlak, terutama dalam bertutur kata. Lisan yang terjaga akan menghadirkan kedamaian bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar,” tambahnya.

Kajian berlangsung dalam suasana interaktif. Jamaah terlihat antusias mengikuti materi dan menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai cara menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam penggunaan media sosial dan komunikasi di lingkungan keluarga.

Salah seorang jamaah, Elvia Wulandari, mengaku memperoleh banyak pelajaran dari materi yang disampaikan. Menurutnya, pembahasan mengenai menjaga lisan sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang dihadapkan pada derasnya arus informasi dan komunikasi digital.

“Alhamdulillah, materi hari ini sangat menyentuh hati dan menjadi pengingat bagi kami agar lebih berhati-hati dalam berbicara maupun menulis di media sosial. Semoga kegiatan BIMLUH seperti ini terus dilaksanakan karena memberikan ilmu, motivasi, dan penguatan akhlak bagi masyarakat,” ungkapnya.

Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, S.H.I., memohon kepada Allah SWT agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk menjaga lisan, memperbaiki amal, memperoleh ampunan-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya.

Melalui kegiatan BIMLUH ini, PAI KUA Kecamatan Medan Denai terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam di tengah masyarakat. Diharapkan, pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan mampu melahirkan pribadi-pribadi yang beriman, berakhlak mulia, bijaksana dalam bertutur kata, serta menjadi teladan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *