Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan Dorong Terwujudnya Keluarga Harmonis

Medan (Humas) — Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi seseorang dalam memperoleh kasih sayang, pendidikan, sekaligus pembentukan karakter. Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang disampaikan Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Medan, Muhammad Fathul Husni, S.H.I., dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) kepada jamaah Majelis Taklim (MT) Amaliyah, Jalan Cilacap Barat, Belawan II, Kecamatan Medan Belawan, Jumat (4/9/2026). Mengangkat tema “Baiti Jannati”, kegiatan tersebut mengajak peserta untuk menjadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya ketenangan, kasih sayang, keimanan, dan akhlak mulia.

Dalam penyampaiannya, Muhammad Fathul Husni menjelaskan bahwa keluarga harmonis tidak terbentuk secara otomatis, tetapi membutuhkan komitmen, komunikasi, dan kerja sama dari seluruh anggota keluarga. Suasana rumah yang nyaman dapat terwujud ketika setiap anggota mampu menjalankan tanggung jawabnya, saling menghargai, serta mengedepankan kasih sayang dalam berinteraksi. Nilai-nilai agama juga perlu menjadi landasan agar kehidupan keluarga tidak hanya berjalan secara baik dalam aspek sosial, tetapi juga memiliki arah spiritual yang kuat.

“Baiti Jannati mengajarkan kepada kita bahwa rumah hendaknya menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan rasa nyaman bagi seluruh anggota keluarga. Rumah bukan hanya tempat untuk beristirahat, tetapi juga tempat pertama untuk belajar tentang iman, akhlak, tanggung jawab, dan bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik,” ujar Fathul Husni.

Ia menekankan bahwa peran keluarga sangat besar dalam membentuk kepribadian dan karakter anak. Keteladanan orang tua dalam berbicara, bersikap, melaksanakan ibadah, serta menyelesaikan persoalan akan menjadi pembelajaran yang secara langsung ditiru oleh anak-anak. Karena itu, perhatian dan kasih sayang orang tua perlu diberikan secara seimbang agar anak memiliki rasa aman sekaligus memperoleh pembinaan agama yang memadai.

“Anak-anak tidak hanya membutuhkan materi, tetapi juga membutuhkan perhatian, kasih sayang, keteladanan, dan bimbingan agama dari keluarganya. Apa yang mereka lihat dan rasakan di rumah akan sangat memengaruhi cara mereka tumbuh dan berinteraksi dengan lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Fathul Husni mengajak peserta untuk menjaga komunikasi dalam keluarga dan tidak membiarkan persoalan kecil berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan rumah tangga, tetapi harus disikapi dengan kedewasaan, saling mendengarkan, dan keinginan untuk mencari solusi bersama. Sikap saling memaafkan juga perlu dibangun agar hubungan antaranggota keluarga tidak rusak hanya karena persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik.

“Jangan biarkan masalah membuat hubungan dalam keluarga semakin jauh. Jadikan setiap persoalan sebagai kesempatan untuk belajar memahami, saling menguatkan, dan memperbaiki diri. Ketika komunikasi dibangun dengan baik dan setiap anggota keluarga mau saling mendengarkan, insyaallah berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan lebih bijaksana,” tuturnya.

Selain komunikasi, ia juga mengajak jamaah membangun kebiasaan melakukan kegiatan keagamaan bersama keluarga. Ibadah berjamaah, membaca Al-Qur’an, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta membiasakan doa bersama dapat menjadi sarana untuk memperkuat ikatan emosional sekaligus spiritual antaranggota keluarga. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana rumah yang lebih religius dan menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang memiliki akhlak baik.

Fathul Husni mengatakan bahwa mewujudkan keluarga harmonis membutuhkan proses yang dilakukan secara terus-menerus. Setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawab dalam menciptakan suasana rumah yang penuh kedamaian, bukan hanya dibebankan kepada salah satu pihak. “Mari kita jadikan rumah sebagai tempat untuk saling menguatkan, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kalau suasana seperti ini terus dibangun, rumah akan menjadi tempat yang memberikan ketenangan sekaligus menjadi sumber kekuatan bagi seluruh anggota keluarga,” katanya.

Melalui kegiatan Bimluh tersebut, Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Medan terus berupaya memberikan pembinaan keagamaan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk ketahanan dan keharmonisan keluarga. Tema “Baiti Jannati” diharapkan tidak berhenti sebagai materi penyuluhan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui peningkatan komunikasi, kasih sayang, tanggung jawab, dan penguatan nilai-nilai keagamaan dalam keluarga.

Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh antusias dan mendapat perhatian dari jamaah yang hadir. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, diharapkan semakin banyak keluarga yang mampu membangun rumah tangga yang penuh ketenangan, saling menghargai, dan berlandaskan nilai-nilai agama. Keluarga yang harmonis pada akhirnya diharapkan menjadi fondasi dalam membentuk masyarakat yang religius, berakhlak, rukun, dan mampu menghadirkan kehidupan sosial yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *