Medan (Humas) — Dalam upaya menciptakan generasi Qurani yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., bersinergi dengan Gerakan Magrib Mengaji BTHQ (Baca Tulis Hafal Al-Qur’an) melalui kegiatan pembelajaran ilmu tajwid, Senin (12/10/2026). Kegiatan berlangsung di GMM BTHQ Al Hafiz yang beralamat di Jalan Tahi Bonar Simatupang, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan. Turut hadir Koordinator BTHQ Al Hafiz Emmi Khairani serta para guru Magrib Mengaji, yakni Siti Fatimah, Dinda, Siti Nirmala, Lisa Fauziah, dan Muhammad Fauzi.
Dalam kegiatan tersebut, Paidi bergabung bersama anak-anak yang sedang belajar mengaji di bawah bimbingan guru Muhammad Fauzi. Ia memberikan materi tentang pentingnya ilmu tajwid sebagai dasar dalam membaca Al-Qur’an secara tepat sesuai dengan kaidah yang telah diajarkan. Paidi menjelaskan bahwa ilmu tajwid merupakan ilmu yang mempelajari cara melafalkan setiap huruf Al-Qur’an dari makhraj atau tempat keluarnya huruf, sekaligus memberikan hak dan sifat yang melekat pada setiap huruf. “Ilmu tajwid mengajarkan kita bagaimana membaca Al-Qur’an dengan benar, menjaga lisan dari kesalahan dalam pelafalan, serta mengikuti tata cara membaca yang dicontohkan Rasulullah SAW,” jelas Paidi.
Lebih lanjut, Paidi menerangkan bahwa mempelajari ilmu tajwid memiliki hukum fardu kifayah, sedangkan membaca Al-Qur’an dengan menerapkan kaidah tajwid merupakan kewajiban yang harus diperhatikan setiap muslim. Oleh karena itu, anak-anak perlu dibiasakan memahami dan mempraktikkan tajwid sejak dini agar tidak hanya lancar membaca, tetapi juga mampu melafalkan ayat-ayat suci dengan benar. Ia berharap pembelajaran tersebut dapat meningkatkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an sekaligus membentuk kebiasaan mengaji yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Paidi juga memaparkan sejumlah cakupan materi ilmu tajwid, mulai dari makharijul huruf atau tempat keluarnya huruf hijaiyah, shifatul huruf atau sifat-sifat huruf, hingga ahkamul huruf yang meliputi hukum bacaan nun sukun, tanwin, dan mim sukun, termasuk izhar, idgham, iqlab, dan ikhfa. Selain itu, peserta diperkenalkan dengan ahkamul maddi wal qasr, yaitu aturan panjang dan pendek bacaan, serta ahkamul wakaf wal ibtida, yakni ketentuan berhenti dan memulai kembali bacaan. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami dan dipraktikkan oleh anak-anak saat membaca Al-Qur’an.
Guru Magrib Mengaji BTHQ Al Hafiz, Muhammad Fauzi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Paidi selaku Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan kepada anak-anak. Menurutnya, keberadaan penyuluh sangat membantu, terutama karena GMM BTHQ Al hafiz masih membutuhkan tambahan tenaga pengajar yang memiliki pemahaman mendalam tentang ilmu tajwid dan seni membaca Al-Qur’an. “Kami sangat berterima kasih atas bimbingan yang diberikan. Kehadiran penyuluh menjadi inovasi positif yang dapat menambah semangat anak-anak dalam belajar mengaji. Dengan pemahaman tajwid yang lebih baik, diharapkan kualitas bacaan mereka semakin meningkat,” ujar Muhammad Fauzi.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi langkah penyuluh agama Islam yang terus hadir membimbing anak-anak dalam memahami bacaan Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa pembelajaran Al-Qur’an hendaknya tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi juga diarahkan pada pemahaman makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. “Kami mengapresiasi para penyuluh yang terus berkontribusi membina generasi muda. Harapannya, anak-anak tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, tetapi juga memahami arti serta maksud ayat-ayatnya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Agus Salim.
Melalui sinergi antara Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal dan GMM BTHQ, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak. Penguatan pemahaman tajwid sejak dini menjadi fondasi penting untuk melahirkan generasi Qurani yang berakhlak mulia, mencintai Al-Qur’an, serta mampu menjadikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai pedoman hidup. Dengan dukungan penyuluh dan para guru mengaji, Gerakan Magrib Mengaji diharapkan terus berkembang sebagai sarana pembinaan keagamaan yang bermanfaat bagi masyarakat.(Paidi).

