Penyuluh Agama Katolik Ajak Katekumen Paroki Santo Antonius Hayam Wuruk Pahami Sejarah Gereja

Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik Kota Medan mengajarkan pentingnya memahami sejarah Gereja kepada peserta katekumen di Paroki Santo Antonius dari Padua, Hayam Wuruk, Kecamatan Medan Baru, Sabtu (18/4/2026). Pembelajaran ini menjadi bagian dari proses pendalaman iman bagi calon umat Katolik agar semakin mengenal identitas Gereja yang akan mereka masuki. Bimbingan ini disampaikan oleh Marulam Nainggolan, S.S.

Dalam pemaparannya, Marulam menegaskan bahwa Gereja Katolik memiliki sejarah panjang yang telah berlangsung lebih dari dua milenium. Sejak didirikan oleh Yesus Kristus sekitar tahun 33 M dan dilanjutkan oleh para rasul, Gereja terus berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. “Gereja bukan lahir dari manusia, tetapi didirikan oleh Kristus sendiri dan diteruskan melalui para rasul serta para penerusnya dalam suksesi apostolik,” jelasnya.

Marulam juga menguraikan bahwa perjalanan panjang Gereja tidak terlepas dari berbagai tantangan, mulai dari penolakan, penganiayaan, hingga perpecahan internal. Pada masa awal, banyak umat Kristen mengalami penderitaan bahkan kematian sebagai martir karena mempertahankan iman. Namun demikian, semangat pewartaan Injil tetap hidup dan justru membuat Gereja semakin berkembang.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam perjalanan sejarahnya, Gereja juga mengalami dinamika besar seperti perpecahan antara Katolik dan Ortodoks pada tahun 1054 serta Reformasi Protestan pada abad ke-16. Meski demikian, Gereja Katolik tetap bertahan dan terus melanjutkan misinya di tengah dunia. “Selama lebih dari dua ribu tahun, Gereja mengalami begitu banyak dinamika, tetapi tetap utuh karena Kristus sendiri yang mendirikannya dan menyertainya sepanjang zaman,” tegasnya.

Kegiatan pembelajaran ini berlangsung dengan penuh perhatian dan antusiasme dari para peserta. Katekumen tampak serius mengikuti setiap penjelasan yang diberikan, serta aktif dalam diskusi. Suasana kelas yang hidup menunjukkan bahwa materi sejarah Gereja tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga dihayati sebagai bagian dari perjalanan iman yang akan mereka jalani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *