Medan (Humas) – Wujud nyata kepedulian terhadap sesama terus ditunjukkan oleh para Penyuluh Agama di lingkungan Kementerian Agama Kota Medan. Melalui pelayanan pastoral dan pendampingan rohani, Penyuluh Agama Katolik dan Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan melaksanakan kunjungan kepada para pasien di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan, Kamis (04/06/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 11.00 hingga 12.30 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh langsung masyarakat, khususnya mereka yang sedang menghadapi masa-masa sulit akibat sakit dan menjalani proses pemulihan di rumah sakit.
Kunjungan pastoral ini melibatkan Penyuluh Agama Katolik, Roni Antonius Sitanggang, S.Fil., dan Semarang Sigiro, serta Penyuluh Agama Kristen, Darminta Berutu, S.Th., dan Sadar Harefa. Kehadiran para penyuluh disambut hangat oleh pasien maupun keluarga yang mendampingi mereka selama menjalani perawatan.
Dalam suasana penuh kehangatan dan empati, para penyuluh mendatangi sejumlah ruang perawatan untuk memberikan dukungan spiritual melalui doa bersama, percakapan pastoral, serta penguatan mental dan rohani. Kehadiran mereka tidak hanya memberikan penghiburan, tetapi juga menghadirkan rasa diperhatikan dan didampingi bagi para pasien yang sedang berjuang memulihkan kesehatan.
Roni Antonius Sitanggang menyampaikan bahwa pelayanan kepada orang sakit merupakan salah satu bentuk nyata implementasi nilai-nilai keagamaan yang mengedepankan kasih, kepedulian, dan solidaritas kemanusiaan.
“Melalui kunjungan ini, kami ingin menghadirkan penghiburan, harapan, dan kasih Tuhan bagi saudara-saudari kita yang sedang sakit. Kami berharap mereka tetap kuat, memiliki semangat hidup, dan tidak kehilangan pengharapan dalam menjalani proses penyembuhan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, para penyuluh juga mengajak pasien untuk tetap membangun relasi yang dekat dengan Tuhan melalui doa dan penyerahan diri kepada kehendak-Nya. Menurut mereka, kekuatan spiritual memiliki peran penting dalam membantu seseorang menghadapi berbagai tantangan kehidupan, termasuk ketika sedang mengalami sakit.
Secara khusus, Penyuluh Agama Katolik menyampaikan pesan Paus Fransiskus kepada orang-orang yang sedang menderita sakit. Dalam pesannya, Paus mengajak umat untuk tetap memelihara iman, harapan, dan keteguhan hati di tengah penderitaan. Sakit bukan hanya dipandang sebagai beban, tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan merasakan kasih-Nya melalui perhatian serta kepedulian orang-orang di sekitar.
“Sakit memang tidak mudah dijalani, tetapi jangan pernah kehilangan harapan. Tuhan selalu hadir menemani setiap proses kehidupan kita. Melalui doa, keluarga, tenaga medis, dan orang-orang yang peduli, Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada kita,” tutur Roni saat memberikan penguatan kepada salah seorang pasien.
Sementara itu, Penyuluh Agama Kristen, Darminta Berutu, S.Th., menegaskan bahwa pelayanan rohani di rumah sakit merupakan bagian dari panggilan pelayanan yang bertujuan memberikan ketenangan dan kekuatan batin kepada masyarakat.
“Kami percaya bahwa kata-kata penguatan, doa, dan perhatian yang tulus dapat menjadi energi positif bagi pasien. Kehadiran kami di sini adalah untuk mengingatkan bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi masa-masa sulit ini,” ungkapnya.
Para pasien dan keluarga yang menerima kunjungan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan. Mereka mengaku merasa lebih tenang, terhibur, dan memperoleh semangat baru setelah mengikuti doa dan pendampingan rohani yang diberikan para penyuluh.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata peran Penyuluh Agama sebagai garda terdepan pelayanan keagamaan di tengah masyarakat. Tidak hanya memberikan pembinaan di rumah ibadah dan komunitas, para penyuluh juga hadir mendampingi masyarakat dalam berbagai situasi kehidupan, termasuk saat menghadapi sakit dan penderitaan.
Melalui kegiatan kunjungan pastoral ini, Kementerian Agama Kota Medan terus meneguhkan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan keagamaan yang inklusif, humanis, dan menyentuh kebutuhan spiritual masyarakat, sehingga nilai-nilai kasih, kepedulian, dan persaudaraan dapat terus tumbuh di tengah kehidupan bermasyarakat.

