Medan (Humas) — Komitmen Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas untuk menghadirkan pelayanan dan bimbingan yang prima serta berdampak di tengah masyarakat terus diwujudkan melalui keterlibatan aktif para Penyuluh, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) dalam berbagai kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam. Kehadiran mereka tidak hanya diarahkan pada pelaksanaan tugas administratif, tetapi juga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam penguatan kehidupan keagamaan masyarakat.
Arahan tersebut disampaikan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh jajaran di lingkungan KUA Medan Amplas. Menurutnya, tugas KUA memiliki ruang pengabdian yang luas, sehingga seluruh unsur di dalamnya perlu hadir dan mengambil peran dalam berbagai kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Penyuluh, Penghulu, dan PLO diharapkan tidak hanya menjalankan tugas sesuai administrasi, tetapi juga hadir di tengah masyarakat dan memberikan kontribusi nyata. Pelayanan KUA harus dapat dirasakan manfaatnya, termasuk dalam kegiatan pendidikan dan pembinaan keagamaan,” ujar Lukman.
Implementasi arahan tersebut salah satunya terlihat melalui kehadiran Dr. Syarto, Lc., M.A., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, dalam pelaksanaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah Nasional (PORSADIN) tingkat Kota Medan ke-VII. Kegiatan tersebut berlangsung Ahad (4/10/2026) di SD Muhammadiyah 03 Helvetia dan diikuti siswa-siswi dari berbagai wilayah di Kota Medan.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Syarto dipercaya dan diberi amanah sebagai hakim/juri pada cabang Murottal dan Imla’. Tugas tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan perlombaan berlangsung secara tertib, objektif, dan sesuai dengan ketentuan penilaian yang telah ditetapkan.
Sebagai juri, Dr. Syarto turut memberikan perhatian terhadap kemampuan peserta dalam membaca Alqurān serta menuliskan ayat-ayat Alqurān dengan tepat. Cabang Murottal dan Imla’ tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga ketelitian, penguasaan kaidah bacaan, serta pemahaman terhadap materi yang dilombakan.
“Kegiatan seperti PORSADIN menjadi ruang yang baik untuk melihat dan mengembangkan potensi anak-anak dalam pendidikan diniyah. Melalui Murottal dan Imla’, peserta tidak hanya dituntut mampu membaca Alqurān dengan baik, tetapi juga memiliki ketelitian dan kemampuan dalam menuliskan ayat-ayat Alqurān secara tepat,” ungkap Syarto.
PORSADIN tingkat Kota Medan ke-VII tahun ini mengusung tema “Jayakan Negeri Dengan Budi Pekerti Menuju Diniyah Yang Berprestasi.” Tema tersebut menegaskan bahwa pendidikan diniyah tidak hanya menjadi ruang pembelajaran ilmu agama, tetapi juga menjadi wahana pembentukan karakter, akhlak, kreativitas, keberanian, dan prestasi generasi muda.
Pelaksanaan PORSADIN menghadirkan 12 cabang perlombaan yang mencerminkan keberagaman kemampuan peserta didik dalam bidang keagamaan, seni, intelektual, dan olahraga. Cabang tersebut meliputi Tahfizh Juz Amma, Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK), Cerdas Cermat Diniyah, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Murottal dan Imla’, Kaligrafi, Puisi Islami,

