Penyuluh KUA Medan Denai Ajak Jamaah MT IKS Jaga Hati dan Perkuat Keikhlasan dalam Beramal

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.HI., mengajak jamaah Majelis Taklim Ikatan Keluarga Sedulur (MT IKS) untuk senantiasa menjaga kebersihan hati, memperbaiki diri, dan menguatkan keikhlasan dalam setiap amal perbuatan. Pesan tersebut disampaikan melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) keagamaan pada Minggu (11/10/2026), ba’da Zuhur, di kediaman Ibu Hajjah Taing, Jalan Denai, Gang Amal Nomor 46, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan.

Kegiatan ini menjadi sarana pembinaan spiritual bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia. Melalui penyuluhan tersebut, jamaah diajak menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai pedoman dalam bersikap, bertutur kata, dan menjalani kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh protokol, Nursyam. Ketua MT IKS, Saparuddin, menyampaikan rasa senang dan apresiasinya atas kehadiran Penyuluh Agama Islam KUA Medan Denai yang telah memberikan pembinaan kepada jamaah. Menurutnya, kegiatan majelis taklim tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat silaturahmi dan membangun kebersamaan di antara anggota.

Ia berharap kegiatan pembinaan semacam ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga jamaah memperoleh tambahan pengetahuan agama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, keberadaan majelis taklim dapat memberikan manfaat nyata dalam membentuk pribadi yang lebih baik serta memperkuat kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

Dalam tausiyahnya, Khoiruz Zaman mengangkat tema pentingnya menjaga hati, memperbaiki diri, dan menumbuhkan keikhlasan. Ia mengawali penyampaian materi dengan mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Allah SWT tidak melihat rupa dan harta manusia, melainkan melihat hati dan amal perbuatannya.

Menurutnya, hadis tersebut mengandung pelajaran mendalam bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh penampilan fisik, kekayaan, jabatan, atau kedudukan sosial. Hal yang lebih utama adalah bagaimana seseorang menjaga kebersihan hatinya, meluruskan niat, serta membuktikan keimanannya melalui amal saleh dan perilaku yang baik.

“Jangan mudah merasa diri paling baik dan jangan pula tergesa-gesa menghakimi orang lain. Kita tidak mengetahui secara sempurna apa yang ada di dalam hati seseorang. Karena itu, marilah kita lebih sibuk memperbaiki diri, menjaga keikhlasan, dan meningkatkan kualitas amal di hadapan Allah SWT,” pesannya kepada jamaah.

Ia juga mengutip penjelasan Imam Al-Qurthubi mengenai pentingnya tidak tergesa-gesa menilai seseorang hanya berdasarkan keadaan lahiriahnya. Seseorang yang tampak tekun beribadah tidak sepatutnya dipuji secara berlebihan hingga menimbulkan kekaguman yang melampaui batas, sementara orang yang pernah melakukan kesalahan tidak seharusnya langsung dihina atau direndahkan. Setiap Muslim perlu menyadari keterbatasan dirinya dalam menilai orang lain dan menjadikan introspeksi sebagai langkah utama untuk memperbaiki kualitas keimanan.

Lebih lanjut, Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa hati memiliki peranan penting dalam menentukan arah kehidupan dan kualitas ibadah seseorang. Hati yang terpelihara akan mendorong seseorang untuk berbuat baik dengan tulus, menjauhi sifat sombong, serta menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama. Sebaliknya, hati yang dipenuhi iri, dengki, kesombongan, dan keinginan mendapatkan pujian dapat menghambat seseorang dalam memperbaiki diri.

Untuk menjaga hati agar tetap hidup dan teguh dalam kebaikan, ia memaparkan sepuluh amalan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, melakukan introspeksi diri atau muhasabah. Kedua, memperbanyak tobat dan berusaha meninggalkan kesalahan. Ketiga, membaca serta mentadaburi Al-Qur’an. Keempat, menjaga kesinambungan amal saleh. Kelima, memperbanyak zikir kepada Allah SWT.

Keenam, membangun pergaulan dengan orang-orang saleh yang dapat mengingatkan kepada kebaikan. Ketujuh, menumbuhkan kepedulian sosial melalui kebiasaan berbagi kepada fakir miskin dan anak yatim. Kedelapan, senantiasa mengingat kematian sebagai pengingat akan keterbatasan kehidupan dunia. Kesembilan, menghadiri majelis ilmu untuk memperdalam pengetahuan agama dan memperkuat keimanan. Kesepuluh, memperbanyak doa agar Allah SWT senantiasa memberikan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan.

Ia menegaskan bahwa kesepuluh amalan tersebut perlu diwujudkan melalui kebiasaan nyata, bukan sekadar menjadi pengetahuan yang didengar saat mengikuti pengajian. Muhasabah, misalnya, dapat dilakukan dengan mengevaluasi perkataan dan perbuatan setiap hari, sedangkan tobat diwujudkan melalui penyesalan atas kesalahan serta kesungguhan untuk tidak mengulanginya. Begitu pula dengan zikir, membaca Al-Qur’an, dan menghadiri majelis ilmu yang perlu dijaga kesinambungannya.

“Menjaga hati membutuhkan usaha yang terus-menerus. Kita perlu membiasakan diri mengevaluasi perbuatan, memperbanyak istigfar, mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, dan memilih lingkungan pergaulan yang baik. Jangan sampai kita hanya sibuk memperhatikan kekurangan orang lain, tetapi lupa memperbaiki kekurangan diri sendiri,” demikian pesan yang ditekankan dalam penyuluhan tersebut.

Selain menjaga hati, ia mengingatkan jamaah agar senantiasa meluruskan niat dalam setiap amal perbuatan. Keikhlasan merupakan landasan penting agar ibadah dan kebaikan yang dilakukan benar-benar ditujukan untuk memperoleh rida Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia. Dengan niat yang benar, seseorang diharapkan tetap istiqamah melakukan kebaikan, baik ketika dilihat orang lain maupun saat tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para jamaah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *