Medan (Humas) — Majelis taklim (MT) merupakan lembaga pendidikan Islam nonformal yang memiliki peran strategis dalam membina keimanan, akhlak, dan pengetahuan agama masyarakat. Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan, keberadaan majelis taklim diharapkan mampu menjadi sarana penguatan spiritual sekaligus membantu masyarakat menghadapi berbagai persoalan sosial. Hal tersebut dilakukan Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., saat memberikan ceramah agama kepada jamaah MT. Nurul Ikhsan di Masjid Nurul Ikhsan, Jalan Klambir 5 Gang Pantai, Lingkungan Peri Laut 2, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, pada Jum’at (11/09/2026). dengan tema “Meneladani Nabi Muhammad SAW.”
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Ketua Perwiridan Majelis Taklim Nurul Ikhsan, Farida Hanum, yang menyampaikan susunan acara pengajian. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh salah seorang anggota perwiritan. Selanjutnya, kata sambutan disampaikan oleh Rahmawati Nasution selaku ahli bait yang mengucapkan terima kasih kepada Paidi dan seluruh jamaah yang telah hadir dalam kegiatan tersebut.
Rahmawati Nasution menyampaikan bahwa pengajian tersebut juga dirangkaikan dengan doa selamat untuk almarhum dan almarhumah orang tua serta mertua keluarga. Ia berharap melalui pembacaan tahtim, tahlil, dan doa bersama, keluarga yang telah meninggal dunia memperoleh ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah SWT. “Kami mengucapkan terima kasih sudah berkenan menghadiri pengajian yang kami laksanakan. Niat kami juga untuk mendoakan orang tua dan mertua kami yang telah meninggal dunia, semoga segala dosa mereka diampuni Allah SWT dan ditempatkan di tempat yang sebaik-baiknya,” ujarnya.
Usai rangkaian pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tahtim, tahlil, dan doa, kegiatan dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan Paidi. Dalam tausiyahnya, Paidi menjelaskan bahwa meneladani Nabi Muhammad SAW bukan hanya dengan mengenal sejarah kehidupan beliau, tetapi juga dengan meniru dan mengamalkan sifat, ucapan, serta perbuatan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. “Meneladani Nabi Muhammad SAW berarti meniru dan mengamalkan sifat, ucapan, serta perbuatan beliau sebagai pedoman hidup dalam keseharian,” ujar Paidi.
Paidi kemudian menguraikan beberapa aspek utama keteladanan Rasulullah SAW. Pertama, akhlak yang mulia dengan mencontoh sifat siddiq atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, tabligh atau menyampaikan kebenaran, dan fathanah atau cerdas. Kedua, dalam kehidupan sehari-hari umat Islam hendaknya membiasakan diri bersikap ramah, murah senyum, lemah lembut, pemaaf, dermawan, serta menghargai orang lain tanpa membedakan status sosial. Ketiga, dalam ibadah dan muamalah, umat Islam perlu menjaga kualitas ibadah kepada Allah SWT serta membangun hubungan sosial yang adil, baik, dan toleran.
Menurut Paidi, keteladanan Rasulullah SAW sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat. Nilai kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama harus menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. Dengan demikian, pengajian tidak berhenti pada pemahaman agama secara teoritis, tetapi mampu melahirkan perubahan sikap dan akhlak yang lebih baik dalam kehidupan jamaah.
Sementara itu, Kepala KUA Medan Sunggal, H. Agus Salim, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi peran para penyuluh agama Islam yang terus memberikan pembinaan keagamaan kepada masyarakat, khususnya melalui majelis taklim dan perwiritan kaum ibu. “Secara keilmuan, para penyuluh agama mampu memberikan dakwah kepada umat, terutama kepada kaum ibu di perwiritan. Ini merupakan sesuatu yang harus kita jaga dan rawat melalui pembinaan secara berkesinambungan karena manfaatnya sangat banyak, salah satunya dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan seseorang,” ujar Agus Salim.
Kegiatan penyuluhan di Majelis Taklim Nurul Ikhsan menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran KUA Medan Sunggal dalam memberikan pembinaan keagamaan kepada masyarakat. Melalui pesan untuk meneladani Nabi Muhammad SAW, jamaah diajak menjadikan akhlak Rasulullah sebagai pedoman dalam kehidupan, baik dalam beribadah, berkeluarga, maupun bermasyarakat. Pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan semakin memperkuat keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia jamaah.(Paidi).

