Medan (Humas) – Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag., melaksanakan bimbingan kerohanian (Bimroh) bagi pasien rawat inap yang beragama Islam di RSJ Bina Karsa, Jalan Palas III Nomor 19, Simpang Selayang, Kota Medan, Rabu (2/9/2026). Dalam kegiatan yang berlangsung di koridor RSJ Bina Karsa tersebut, Paidi didampingi Penyuluh Agama Islam KUA Medan Selayang, Heri Fitrian. Adapun tema yang disampaikan adalah “Al-Qur’an sebagai Obat”.
Kegiatan diawali dengan mengajak para pasien senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Beberapa shalawat dilantunkan bersama, di antaranya Shalawat Jibril dan Shalawat Badar. Suasana tersebut diharapkan dapat memberikan ketenangan hati dan pikiran bagi pasien yang sedang menjalani perawatan. “Bershalawat kepada Rasulullah SAW merupakan salah satu cara untuk menenangkan hati dan pikiran. Dengan suasana yang tenang, pasien diharapkan dapat lebih mudah menerima bimbingan dan motivasi keagamaan,” ujar Paidi.
Paidi menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat Islam yang memiliki fungsi sebagai Al-Huda, yakni petunjuk yang menuntun manusia menuju jalan yang lurus. Selain sebagai petunjuk, Al-Qur’an juga disebut sebagai Asy-Syifa, yaitu penawar atau obat bagi berbagai penyakit, terutama penyakit rohani yang dapat memengaruhi kehidupan manusia. “Al-Qur’an sebagai syifa dapat menjadi penawar bagi penyakit hati, mengikis keraguan, kemunafikan, iri, dengki, kesombongan dan syirik, serta memberikan ketenangan bagi jiwa yang mengalami kegelisahan dan tekanan,” jelasnya.
Menurut Paidi, kedekatan dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mendengarkan bacaannya, tetapi juga perlu diwujudkan dengan membaca, mempelajari, memahami dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. “Dengan senantiasa membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, mempelajarinya serta mengamalkannya, Al-Qur’an akan memberikan ketenangan jiwa. Ayat-ayatnya dapat menghadirkan ketenteraman batin, mengurangi kegelisahan dan menjadi penghibur bagi hati yang sedang sedih atau mengalami tekanan,” tambah Paidi.
Sementara itu, Heri Fitrian melengkapi penjelasan bahwa Al-Qur’an juga dapat menjadi sarana ruqyah sebagai bentuk ikhtiar penyembuhan dengan tetap meyakini bahwa kesembuhan berasal dari Allah SWT. Bacaan Al-Qur’an, seperti Surah Al-Fatihah, dapat diamalkan sebagai doa dan ikhtiar bagi keluhan fisik maupun gangguan lainnya. “Al-Qur’an dapat menjadi sarana ruqyah atau ikhtiar penyembuhan. Bacaan Al-Fatihah dan ayat-ayat Al-Qur’an dapat dijadikan doa bagi kesembuhan atas izin Allah SWT,” ujar Heri Fitrian.
Sebelum menutup bimbingan, Paidi mengajak para pasien RSJ Bina Karsa untuk terus mendekatkan diri kepada Al-Qur’an dengan mengulang dan menjaga hafalan yang telah dimiliki. Ia berharap kebiasaan tersebut dapat menjadi amalan yang dilakukan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulannya, kedekatan dengan Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dalam membangun ketenangan hati, memperkuat semangat menjalani perawatan, serta menumbuhkan keyakinan bahwa setiap kesembuhan datang atas izin Allah SWT.(Paidi).

