Penyuluh KUA Medan Sunggal Sampaikan Pesan tentang Bahaya Riya di RRI Pro 4 FM

Medan (Humas) – Program Mutiara Sore RRI Pro 4 FM Medan kembali menghadirkan rekaman siaran yang diikuti Penyuluh Agama Islam KUA Medan Sunggal, Paidi, S.Ag. Kegiatan tersebut berlangsung di RRI Pro 4 FM Medan yang beralamat di Jalan Gatot Subroto Nomor 214 KM 5,5, Kelurahan Sei Sikambing C.II, Kota Medan, Kamis (3/9/2026). Dalam rekaman kali ini, Paidi menyampaikan materi keagamaan dengan tema “Bahaya Riya”, dengan didampingi operator rekaman RRI Medan, Monica.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir sejumlah Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Medan yang juga mengikuti rekaman untuk program Mutiara Sore RRI Pro 4 FM Medan. Mereka di antaranya Nunung Ismayanti dan Ahmadi dari KUA Medan Marelan, Dewi Anggraini dari KUA Medan Amplas, Julianti dan Nurjanah dari KUA Medan Timur, serta Surya Hafni dan Suriadi dari KUA Medan Tembung. Kehadiran para penyuluh tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat melalui media radio.

Paidi menjelaskan bahwa riya merupakan salah satu penyakit hati yang dapat merusak nilai amal ibadah seseorang. Menurutnya, riya terjadi ketika seseorang melakukan amal kebaikan atau ibadah bukan semata-mata karena Allah SWT, tetapi karena ingin mendapatkan perhatian, sanjungan, atau pujian dari orang lain. “Sifat riya adalah perbuatan melakukan amal kebaikan atau ibadah dengan tujuan agar dilihat, disanjung, atau dipuji oleh orang lain, bukan semata-mata karena Allah SWT,” ujar Paidi.

Lebih lanjut, Paidi mengingatkan bahwa amal ibadah yang dicampuri riya dapat menghilangkan keikhlasan seorang hamba dalam beribadah kepada Allah SWT. Ia mengibaratkan perbuatan tersebut sebagai adanya tujuan lain yang menyertai ibadah. “Ibadah yang dicampuri riya berarti dia telah mendua atau berselingkuh dalam kebaikannya, dalam peribadatannya; karena Allah dan karena sanjungan manusia, karena Allah dan karena harta, karena Allah dan karena wanita,” jelasnya. Karena itu, umat Islam perlu senantiasa memeriksa niat sebelum, ketika, dan setelah melakukan amal kebaikan.

Dalam kesempatan tersebut, Paidi juga menyampaikan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad sebagai peringatan agar umat Islam senantiasa menjaga keikhlasan. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai amal ibadah yang dilakukan dengan tujuan memperoleh perhatian manusia. “Siapa yang mengerjakan salat untuk dilihat orang maka ia telah berbuat syirik, siapa yang berpuasa untuk dilihat orang maka ia telah berbuat syirik, dan siapa yang bersedekah untuk dilihat orang maka ia telah berbuat syirik,” ungkap Paidi saat menyampaikan pesan dalam rekaman tersebut.

Paidi mengajak masyarakat untuk menjauhi sifat riya dengan senantiasa meluruskan niat dalam setiap amal ibadah dan kebaikan. Menurutnya, menjaga keikhlasan merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim agar amal yang dilakukan benar-benar bernilai di sisi Allah SWT. “Kita perlu menjaga hati dan niat agar setiap amal kebaikan yang kita lakukan semata-mata mengharap ridha Allah SWT, bukan pujian dan pengakuan dari manusia,” pesannya. Melalui program Mutiara Sore RRI Pro 4 FM Medan, pesan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan keikhlasan dan menghindari bahaya riya dalam kehidupan sehari-hari.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *