Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan memberikan penyuluhan kepada umat melalui siaran Radio Maria Indonesia dalam Program Ruang Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Kamis (27/8/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 12.30–13.30 WIB tersebut disiarkan dari Gedung Catholic Centre Lantai 5, Jalan Mataram No. 21, Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara. Siaran menghadirkan Ricardo Simamora sebagai host, Roni Antonius Sitanggang sebagai narasumber pertama, serta Hekdi Jojada Sinaga sebagai narasumber kedua.
Mengangkat tema “Sakramen Krisma: Asal-Usul, Pendewasaan & Pengutusan,” penyuluhan membahas makna, sejarah perkembangan, serta peran Sakramen Krisma dalam kehidupan iman umat Katolik. Melalui dialog yang disampaikan secara komunikatif, para narasumber mengajak pendengar memahami bahwa Krisma tidak sekadar dipandang sebagai tahapan setelah Baptis, tetapi memiliki makna teologis yang berkaitan erat dengan pertumbuhan dan pendewasaan iman. Pemahaman tersebut penting agar umat semakin menyadari tanggung jawab yang melekat setelah menerima Sakramen Krisma.
Roni Antonius Sitanggang menjelaskan bahwa Sakramen Krisma berkaitan dengan karya keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus dan perkembangan kehidupan Gereja sejak masa awal. Dalam perjalanan tradisi Gereja, Krisma dipahami sebagai sakramen yang memberikan Roh Kudus untuk menguatkan sekaligus mematangkan kehidupan iman umat. Karena itu, penerimaan Krisma menjadi momentum penting bagi seseorang untuk semakin menyadari identitas dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari Gereja.
Pembahasan juga mengangkat pemikiran Santo Thomas Aquinas mengenai Sakramen Krisma sebagai bagian dari proses pertumbuhan kehidupan rohani setelah Baptis. Krisma dipahami sebagai penguatan menuju kedewasaan iman sekaligus menjadi sarana penerusan rahmat peristiwa Pentakosta dalam kehidupan Gereja. Kedewasaan tersebut bukan hanya ditandai dengan semakin bertambahnya pengetahuan mengenai ajaran iman, tetapi juga keberanian untuk mengakui, menghayati, dan memberikan kesaksian iman dalam kehidupan sehari-hari.
“Krisma adalah inisiasi menuju kedewasaan rohani yang mendorong umat semakin mampu bekerja sama dengan Roh Kudus dan bertanggung jawab dalam kehidupan kristiani,” ujar Roni. Ia menegaskan bahwa umat yang menerima Sakramen Krisma dipanggil untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam kehidupan Gereja maupun masyarakat. Karena itu, karunia Roh Kudus yang diterima hendaknya diwujudkan melalui kehidupan yang mencerminkan iman, kepedulian kepada sesama, semangat pelayanan, serta keberanian memberikan kesaksian tentang nilai-nilai Kristiani.
Sementara itu, Hekdi Jojada Sinaga menjelaskan dimensi lain dari Sakramen Krisma, yakni sebagai Sakramen Pengutusan. Menurutnya, rahmat Roh Kudus yang diterima melalui Krisma bukan untuk disimpan bagi kepentingan pribadi, tetapi menjadi kekuatan bagi umat untuk menjalankan tugas perutusan dan menghadirkan kebaikan di tengah dunia. Pengutusan tersebut dapat diwujudkan melalui kesaksian iman dalam keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, media sosial, maupun kehidupan bermasyarakat.
“Melalui Sakramen Krisma, umat tidak hanya diteguhkan dalam iman, tetapi juga diutus menjadi saksi Kristus dan menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat,” kata Hekdi. Ia mengajak umat untuk memahami bahwa tugas perutusan bukan hanya menjadi tanggung jawab para imam atau pelayan Gereja, tetapi juga setiap orang yang telah menerima rahmat dan penguatan iman. Dengan menjalankan peran masing-masing secara bertanggung jawab, umat dapat menjadi pembawa nilai kasih, kebenaran, perdamaian, dan kepedulian di tengah kehidupan bersama.
Pada bagian akhir siaran, Hekdi turut menjelaskan sejumlah simbol dan unsur penting dalam perayaan Sakramen Krisma, antara lain pengurapan dengan minyak Krisma, penumpangan tangan, makna doa pengurapan, pelayan sakramen, serta penerima Sakramen Penguatan berdasarkan ajaran Gereja Katolik, termasuk Katekismus Gereja Katolik dan Hukum Kanonik. Penjelasan tersebut memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada pendengar mengenai tata makna dan kedudukan Sakramen Krisma dalam kehidupan Gereja.
Melalui Program Ruang Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Medan di Radio Maria Indonesia, penyuluhan keagamaan terus diupayakan menjadi sarana edukasi yang dapat menjangkau umat secara lebih luas. Pemanfaatan media radio menjadi salah satu bentuk inovasi dalam pelaksanaan tugas penyuluh agama untuk menyampaikan informasi, pembinaan, dan penguatan kehidupan keagamaan kepada masyarakat.
Melalui penyuluhan tersebut, umat diharapkan semakin memahami bahwa Sakramen Krisma bukan sekadar tahapan penerimaan sakramen setelah Baptis, melainkan sebuah peristiwa iman yang membawa umat menuju kedewasaan rohani sekaligus mengemban tugas perutusan. Dengan kekuatan Roh Kudus, umat dipanggil untuk bertumbuh dalam iman, mengembangkan karunia yang dimiliki, melayani sesama, serta menjadi saksi Kristus melalui kehidupan nyata di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.

