Medan (Humas) — Kegiatan Pindapata yang menjadi bagian dari rangkaian Pabbaja Samanera dan Upasika Athangasila Sangha Agung Indonesia di Prasadha Jinadhammo Mahathera, Kota Medan, Minggu (5/7/2026), menjadi momentum pembinaan karakter bagi generasi muda Buddha. Kegiatan yang berlangsung sejak 21 Juni hingga 7 Juli 2026 tersebut turut diikuti oleh Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Medan.
Pindapata merupakan tradisi luhur dalam agama Buddha, yaitu praktik para bhikkhu dan samanera menerima dana makanan dari umat sebagai wujud hubungan timbal balik antara Sangha dan umat. Selain menjadi sarana bagi umat untuk mengembangkan kebajikan melalui praktik dāna (kemurahan hati), kegiatan ini juga memperkuat nilai kepedulian, kebersamaan, dan penghormatan kepada Sangha sebagai pelestari ajaran Buddha.
Rangkaian kegiatan diikuti oleh para Bhikkhu Sangha Agung Indonesia, peserta Pabbaja Samanera, peserta Upasika Athangasila, serta umat Buddha yang antusias memberikan dana makanan dan kebutuhan pokok kepada Sangha. Sebagian peserta Pabbaja Samanera merupakan pelajar yang memanfaatkan masa libur sekolah untuk menjalani pembinaan kehidupan kebhikkhuan sementara.
Selama mengikuti Pabbaja, para peserta dibimbing untuk menjalani kehidupan yang sederhana, disiplin, dan berlandaskan sila. Mereka juga mendapatkan pembelajaran Dhamma secara lebih mendalam sebagai bekal dalam membentuk karakter yang berintegritas dan berakhlak mulia.
Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Ari Suryana, mengatakan bahwa Pabbaja Samanera merupakan media pembinaan yang efektif dalam membentuk karakter generasi muda melalui penguatan nilai-nilai moral dan spiritual. Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk membangun kepribadian yang berintegritas, berakhlak mulia, serta mampu mengamalkan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, Ari menjelaskan bahwa para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman ajaran Buddha secara teori, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut melalui kehidupan yang sederhana, disiplin, dan penuh tanggung jawab selama mengikuti Pabbaja Samanera.
“Pabbaja Samanera menjadi wadah yang sangat baik bagi generasi muda untuk mengisi masa liburan sekolah dengan kegiatan yang positif. Melalui pembinaan ini mereka belajar hidup disiplin, sederhana, bertanggung jawab, serta mengendalikan diri. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal untuk membentuk pribadi yang berkarakter, bijaksana, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” ujar Ari.
Menurutnya, tradisi Pindapata juga mengajarkan pentingnya membangun kepedulian sosial dan semangat berbagi sebagai bagian dari praktik kehidupan beragama.
“Pindapata mengajarkan bahwa kebajikan tidak hanya diwujudkan melalui pemahaman ajaran, tetapi juga melalui tindakan nyata untuk berbagi dan menghormati Sangha. Hubungan harmonis antara Sangha dan umat yang terjalin melalui tradisi ini menjadi fondasi yang kuat dalam menjaga kelestarian ajaran Buddha sekaligus mempererat persaudaraan di tengah masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat dan diikuti umat Buddha dari berbagai daerah di Kota Medan. Suasana kebersamaan yang tercipta mencerminkan semangat gotong royong, kepedulian, serta pembinaan kehidupan beragama yang membawa manfaat bagi umat.
Melalui rangkaian Pabbaja Samanera dan Upasika Athangasila Sangha Agung Indonesia, diharapkan semakin banyak generasi muda yang memiliki karakter unggul, berlandaskan moralitas, kebijaksanaan, dan cinta kasih sehingga mampu menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat serta berkontribusi mewujudkan kehidupan beragama yang rukun dan harmonis.

