Medan (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus menguatkan peran penyuluh agama sebagai garda terdepan dalam membina mental dan spiritual masyarakat melalui program Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH). Pembinaan ini menjadi bagian dari komitmen KUA Medan Amplas untuk menghadirkan layanan keagamaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memberikan solusi dan penguatan spiritual bagi umat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh penyuluh agama, penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar terus menghadirkan pembinaan keagamaan yang edukatif, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta mampu membentuk pribadi yang tangguh dan berakhlak mulia.
Sebagai implementasi dari komitmen tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., melaksanakan kegiatan BIMLUH di Majelis Taklim Raudhatul Jannah, Masjid Muslimin, Gang Perbatasan, Kelurahan Sitirejo II, Kecamatan Medan Amplas, Jumat (3/7/2026). Kegiatan yang dihadiri Ketua Majelis Taklim Hj. Nurjani beserta puluhan jamaah ini mengangkat tema “Sabar Saat Benturan Pertama (Ash-Shadmatul Ūlā)”.
Dalam pemaparannya, Syarto menjelaskan bahwa kesabaran yang paling bernilai di sisi Allah SWT adalah kesabaran yang ditunjukkan seseorang pada saat pertama kali menghadapi musibah. Menurutnya, pada momen itulah kualitas keimanan, keteguhan hati, dan kemampuan seorang hamba dalam menerima ketetapan Allah benar-benar diuji.
Untuk memperkuat penjelasannya, ia mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bahwa Allah SWT menjanjikan balasan surga bagi hamba yang mampu bersabar dan mengharap pahala ketika musibah pertama kali menimpanya.
“Musibah sering datang tanpa kita duga. Yang menjadi ukuran bukanlah seberapa besar ujian yang kita hadapi, tetapi bagaimana respons kita ketika ujian itu datang. Kesabaran pada detik pertama musibah merupakan cerminan kekuatan iman dan ketundukan seorang hamba kepada kehendak Allah SWT,” ujar Syarto.
Ia juga mengajak jamaah untuk membiasakan diri mengucapkan istirja’ (Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn), memperbanyak doa, serta meyakini bahwa setiap ujian mengandung hikmah, menjadi penghapus dosa, sekaligus jalan untuk meningkatkan derajat seorang mukmin di sisi Allah SWT.
Lebih lanjut, Syarto menegaskan bahwa kesabaran bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, melainkan kemampuan mengendalikan emosi, menjaga lisan, dan tetap berpikir jernih ketika menghadapi berbagai persoalan hidup.
“Orang yang sabar bukan berarti tidak pernah menangis atau bersedih. Kesabaran adalah kemampuan mengendalikan diri agar tidak terjerumus pada sikap putus asa, menyalahkan takdir, atau berprasangka buruk kepada Allah. Dari kesabaran itulah akan lahir kekuatan, ketenangan, dan jalan keluar yang terbaik,” tambahnya.
Suasana kajian berlangsung hangat dan interaktif. Para jamaah aktif mengajukan pertanyaan mengenai cara menerapkan sikap sabar dalam menghadapi persoalan rumah tangga, kehilangan anggota keluarga, hingga tekanan ekonomi. Seluruh pertanyaan dijawab secara dialogis dengan merujuk kepada dalil Al-Qur’an, hadis, serta penjelasan para ulama sehingga memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan spiritual masyarakat melalui pembinaan yang berkelanjutan.
“Penyuluh agama harus hadir di tengah masyarakat sebagai pendamping, motivator, sekaligus pemberi solusi keagamaan. Melalui pembinaan seperti ini, kami berharap masyarakat memiliki ketahanan spiritual yang kuat sehingga mampu menghadapi setiap ujian kehidupan dengan kesabaran, optimisme, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran Islam,” ungkapnya.
Kegiatan BIMLUH ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Ashar berjamaah. Melalui kegiatan ini, KUA Kecamatan Medan Amplas berharap nilai-nilai kesabaran yang diajarkan Islam tidak hanya dipahami sebagai konsep keagamaan, tetapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu melahirkan masyarakat yang tangguh, berakhlak mulia, serta senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.

