Medan (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus mengoptimalkan peran penyuluh agama dalam membangun masyarakat yang religius dan berdaya melalui program Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH). Pembinaan ini menjadi bagian dari komitmen KUA Medan Amplas untuk menghadirkan dakwah yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pemahaman keagamaan, tetapi juga mampu membentuk peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Program tersebut merupakan implementasi arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh Agama Islam, penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar senantiasa menghadirkan pelayanan prima sekaligus memberikan pembinaan yang relevan, edukatif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Sebagai tindak lanjut dari arahan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., melaksanakan kegiatan BIMLUH di Majelis Taklim P. Muslimin pada Minggu (5/7/2026). Kajian yang berlangsung pada malam Jumat itu mengangkat tema “Hijrah: Membangun Peradaban Berbasis Aqidah” dan diikuti oleh pengurus majelis taklim serta puluhan jamaah.
Dalam pemaparannya, Syarto menjelaskan bahwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan tonggak lahirnya peradaban Islam yang dibangun di atas fondasi aqidah, ukhuwah, keadilan, dan tata kelola masyarakat yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
“Hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar tidak dimulai dari pembangunan fisik, tetapi dari pembinaan tauhid. Ketika aqidah telah tertanam kuat dalam diri seseorang, maka ia akan melahirkan perubahan dalam ibadah, akhlak, ekonomi, kehidupan sosial, hingga tata kelola masyarakat,” jelas Syarto.
Dalam kajian tersebut, ia menguraikan empat pilar utama yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah sebagai fondasi peradaban Islam.
Pilar pertama adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, pembinaan akhlak, musyawarah, dakwah, dan pemberdayaan umat. Menurutnya, masjid harus kembali dihidupkan sebagai pusat peradaban yang mampu melahirkan masyarakat beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Pilar kedua adalah membangun sistem ekonomi yang berkeadilan melalui pasar yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah. Rasulullah SAW menegakkan aktivitas ekonomi yang bebas dari riba, penipuan, monopoli, serta berbagai bentuk praktik yang merugikan masyarakat.
Pilar ketiga ialah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan tersebut menjadi teladan bagaimana ukhuwah Islamiyah mampu menghilangkan sekat sosial, memperkuat solidaritas, dan melahirkan kepedulian antarsesama.
Adapun pilar keempat adalah Piagam Madinah, yang menjadi dasar kehidupan masyarakat majemuk dengan menjunjung tinggi keadilan, persatuan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban warga, serta terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.
“Empat pilar inilah yang menjadikan Madinah sebagai pusat peradaban Islam. Masjid melahirkan kekuatan spiritual, pasar membangun kemandirian ekonomi, ukhuwah memperkokoh persatuan, dan Piagam Madinah menghadirkan tata kelola masyarakat yang adil. Nilai-nilai ini tetap relevan untuk menjawab tantangan umat Islam di era modern,” ungkapnya.
Syarto juga mengajak jamaah agar memaknai hijrah sebagai proses perubahan diri secara berkelanjutan menuju kehidupan yang lebih baik, dimulai dari memperkuat aqidah, memperbaiki akhlak, meningkatkan kualitas ibadah, serta menghadirkan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.
Suasana kajian berlangsung interaktif. Para jamaah antusias mengajukan berbagai pertanyaan mengenai implementasi nilai-nilai hijrah dalam kehidupan keluarga, aktivitas ekonomi, penguatan ukhuwah Islamiyah, hingga optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat di tengah perkembangan zaman.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran umat agar mampu memahami ajaran Islam secara utuh dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Dakwah hari ini harus mampu membangun peradaban. Penyuluh agama tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membimbing masyarakat agar nilai-nilai Islam hadir dalam kehidupan keluarga, aktivitas ekonomi, hubungan sosial, hingga penguatan persatuan umat. Inilah esensi hijrah yang harus terus kita hidupkan,” ujar H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan.
Kegiatan BIMLUH ditutup dengan doa bersama. Melalui pembinaan ini, KUA Kecamatan Medan Amplas berharap semangat hijrah tidak hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah, tetapi menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membangun pribadi, keluarga, dan kehidupan sosial yang lebih baik dengan menjadikan aqidah sebagai fondasi utama dalam mewujudkan peradaban Islam yang maju, harmonis, dan diridhai Allah SWT.

