PAI KUA Medan Denai Gelar BIMLUH di MT IKS, Bahas Bahaya Lalai dari Petunjuk Allah

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH) bersama Majelis Taklim IKS (Ikatan Keluarga Sedulur), Minggu (9/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Jalan Langgar, Gang Kumis, Kecamatan Medan Denai, tersebut dimulai pukul 15.00 WIB hingga menjelang waktu Ashar dan dilanjutkan dengan salat Ashar berjamaah.

Kegiatan diikuti oleh sejumlah jamaah dan beberapa keluarga dari lingkungan Majelis Taklim IKS dalam suasana penuh kekeluargaan dan interaktif. Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman keagamaan sekaligus melakukan refleksi terhadap kehidupan sehari-hari, khususnya mengenai pentingnya menggunakan berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT untuk mengenal dan mengikuti petunjuk-Nya.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Ketua Majelis Taklim IKS, H. Syafruddin, kemudian dilanjutkan dengan sambutan tuan rumah yang disampaikan Toni Siagian. Dalam sambutannya, Toni menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran PAI KUA Kecamatan Medan Denai serta partisipasi jamaah yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan pembinaan keagamaan tersebut.

Memasuki materi utama, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., mengupas kandungan QS. Al-A’raf ayat 179. Kajian disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami jamaah serta diperkuat dengan penjelasan dari sejumlah ulama tafsir, antara lain Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, dan As-Sa’di.

Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa QS. Al-A’raf ayat 179 merupakan salah satu ayat yang memberikan peringatan kepada manusia agar tidak lalai terhadap petunjuk Allah SWT. Menurutnya, manusia telah diberikan berbagai potensi dan nikmat, seperti hati, mata, telinga, serta akal, yang seharusnya digunakan untuk mengenal Allah, memahami kebenaran, dan mengambil pelajaran dari berbagai tanda kebesaran-Nya.

“Allah SWT telah memberikan manusia hati untuk memahami, mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar. Semua itu merupakan nikmat sekaligus amanah. Mata diberikan bukan hanya untuk melihat dunia, tetapi juga untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Telinga bukan hanya untuk mendengar suara, tetapi juga untuk mendengarkan nasihat dan ayat-ayat Allah,” jelas Khoiruz Zaman.

Ia menegaskan bahwa persoalan manusia bukan karena tidak memiliki sarana untuk mengenal kebenaran, melainkan karena berbagai sarana tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya. Seseorang dapat memiliki pengetahuan, melihat berbagai peristiwa, dan mendengar nasihat agama, tetapi apabila hatinya tidak mau menerima kebenaran dan tidak menjadikannya sebagai pedoman, maka pengetahuan tersebut tidak memberikan perubahan dalam kehidupannya.

“Lalai bukan berarti kita tidak pernah mengetahui kebenaran. Bisa jadi kita sudah mengetahui, sudah melihat, bahkan sudah sering mendengar nasihat, tetapi tidak mau menjadikannya sebagai pedoman. Inilah yang harus kita waspadai dalam kehidupan, karena hati, mata, dan telinga yang diberikan Allah harus digunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Khoiruz Zaman menjelaskan perumpamaan manusia yang lalai seperti hewan ternak sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut. Menurutnya, hewan menjalani kehidupannya berdasarkan naluri, sedangkan manusia diberikan akal, hati, wahyu, dan kemampuan untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

“Manusia diberikan akal dan petunjuk. Karena itu, ketika seluruh nikmat tersebut tidak digunakan untuk mengenal Allah dan menjalankan ketaatan, manusia dapat berada dalam keadaan yang lebih sesat daripada hewan. Jangan sampai kita memiliki banyak kemampuan, tetapi tidak menggunakannya untuk tujuan yang Allah kehendaki,” tuturnya.

Dalam kajian tersebut, jamaah juga diajak memahami bahwa kelalaian dapat muncul ketika kesibukan dunia membuat seseorang melupakan tujuan penciptaannya. Pekerjaan, harta, kedudukan, maupun berbagai urusan duniawi merupakan bagian dari kehidupan yang harus dijalani, tetapi semuanya tidak boleh membuat manusia lupa terhadap kematian dan kehidupan akhirat sebagai tujuan akhir perjalanan manusia.

Khoiruz Zaman mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan evaluasi terhadap diri sendiri dengan bertanya apakah nikmat yang diberikan Allah telah digunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Menurutnya, keberhasilan seorang manusia tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya ilmu, tingginya kedudukan, atau keberhasilan dalam urusan dunia, tetapi juga oleh sejauh mana semua nikmat tersebut digunakan untuk beriman dan beramal saleh.

“Jangan sampai kita memiliki mata tetapi tidak melihat kebesaran Allah, memiliki telinga tetapi tidak mau mendengar nasihat, dan memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Mari kita gunakan semua nikmat tersebut untuk memperkuat iman, memperbaiki amal, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat,” pesannya.

Kegiatan BIMLUH berlangsung secara interaktif dengan adanya kesempatan bagi jamaah untuk mengikuti pembahasan dan memberikan respons terhadap materi yang disampaikan. Diskusi tersebut membuat materi terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari karena jamaah diajak menghubungkan pesan QS. Al-A’raf ayat 179 dengan berbagai kondisi yang dihadapi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Salah seorang jamaah, Ibu Mariatun, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan tidak hanya memberikan pengetahuan keagamaan, tetapi juga menjadi pengingat agar jamaah lebih bersungguh-sungguh dalam menggunakan hati, mata, dan telinga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Kajian ini menjadi pengingat bagi kami untuk tidak hanya mengetahui ajaran agama, tetapi juga berusaha mengamalkannya. Kita sering melihat dan mendengar banyak hal dalam kehidupan, namun belum tentu semuanya menjadi pelajaran. Melalui materi ini, kami diingatkan untuk lebih peka dan menggunakan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya,” ungkap Mariatun.

Kegiatan yang diikuti oleh sejumlah keluarga tersebut kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Syaiful Akhyar. Setelah itu, jamaah melaksanakan salat Ashar secara berjamaah sebagai penutup rangkaian kegiatan BIMLUH.

Melalui kegiatan tersebut, PAI KUA Kecamatan Medan Denai terus berupaya menghadirkan pembinaan keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. BIMLUH diharapkan tidak hanya menjadi sarana penyampaian materi keagamaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan penguatan iman agar jamaah semakin mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari serta meningkatkan ketakwaan dan kepedulian terhadap kehidupan sosial keagamaan di lingkungan masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *