Penyuluh Agama Katolik Kemenag Medan Dampingi Katekumen Memahami Gereja sebagai Umat Allah

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Roni Antonius Sitanggang, melaksanakan pendampingan katekumen pada Rabu (12/8/2026) pukul 08.00 WIB. Kegiatan berlangsung di Aula Gereja Katolik Stasi St. Fransiskus Xaverius Sunggal, Jalan Abadi No. 54, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, sebagai bagian dari pembinaan dan pendalaman iman bagi calon umat Katolik. Pendampingan ini menjadi salah satu upaya untuk membekali katekumen dengan pemahaman yang baik mengenai ajaran dan kehidupan menggereja sebelum memasuki tahapan penerimaan sakramen-sakramen inisiasi.

Kegiatan tersebut diikuti oleh dua orang katekumen, yakni Daud Tarigan dan Fitri Silalahi. Dalam proses pendampingan, keduanya mendapatkan kesempatan untuk memahami berbagai pokok ajaran Gereja secara lebih mendalam serta mengaitkannya dengan kehidupan iman sehari-hari. Pendampingan yang dilakukan secara langsung diharapkan dapat membantu para katekumen mempersiapkan diri secara utuh, baik dari sisi pengetahuan iman maupun kesiapan untuk menjalani kehidupan sebagai bagian dari umat Katolik.

Pada kesempatan tersebut, Roni menyampaikan materi dengan tema “Arti Gereja sebagai Umat Allah”. Ia menjelaskan bahwa Gereja tidak semata-mata dapat dipahami sebagai bangunan atau tempat umat melaksanakan ibadah, tetapi merupakan persekutuan umat beriman yang dipanggil dan dihimpun oleh Allah untuk menjadi satu tubuh dalam Kristus. Melalui Sakramen Baptis, seseorang menjadi bagian dari Umat Allah serta memperoleh martabat, hak, dan tanggung jawab untuk terlibat dalam kehidupan Gereja.

Menurut Roni, pemahaman mengenai Gereja sebagai Umat Allah penting dimiliki oleh setiap katekumen karena menjadi dasar untuk memahami identitas dan panggilan sebagai umat beriman. Gereja merupakan persekutuan yang hidup, sehingga setiap anggotanya memiliki peran dalam membangun kehidupan bersama dan mewujudkan iman melalui tindakan nyata. “Menjadi bagian dari Gereja berarti tidak hanya hadir dalam ibadah, tetapi juga mengambil bagian dalam kehidupan Gereja melalui doa, pelayanan, persekutuan, dan kesaksian iman,” ujar Roni.

Lebih lanjut, Roni menjelaskan bahwa sebagai bagian dari Umat Allah, setiap umat dipanggil untuk menjalankan Panca Tugas Gereja, yaitu mewartakan Injil, membangun persekutuan, merayakan liturgi, melayani sesama, dan memberikan kesaksian hidup. Kelima tugas tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab para pemimpin Gereja, tetapi juga menjadi panggilan bagi seluruh umat sesuai dengan kemampuan dan peran masing-masing. Dengan memahami tugas tersebut sejak masa katekumenat, calon umat diharapkan memiliki kesiapan untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan menggereja dan kehidupan bermasyarakat.

Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan dialog dan sesi tanya jawab yang berlangsung secara interaktif. Para katekumen diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai identitas Gereja, peran umat, serta bagaimana menghidupi iman dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Diskusi tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk memperdalam materi sekaligus menghubungkan ajaran yang diterima dengan pengalaman dan tantangan kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan pendampingan tersebut, Daud Tarigan dan Fitri Silalahi diharapkan semakin memahami makna Gereja sebagai Umat Allah dan semakin mantap dalam perjalanan iman menuju penerimaan sakramen-sakramen inisiasi. Pendampingan katekumen juga menjadi bagian dari pelaksanaan tugas Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan dalam memberikan pembinaan dan pendampingan kepada calon umat. Dengan pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan, para katekumen diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman iman yang baik, tetapi juga mampu bertumbuh menjadi umat yang aktif dalam kehidupan Gereja serta menghadirkan nilai-nilai kasih dan kesaksian Kristiani di tengah keluarga dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *