Medan (Humas) — Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Ari Suryana, memberikan penyuluhan keagamaan kepada siswa Carnegie School dengan mengangkat tema “Bersyukur (Kataññū-Katavedī)”, Minggu (30/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Kemenag Medan melalui Penyuluh Agama Buddha dalam menanamkan nilai-nilai Buddhadhamma sekaligus membangun karakter positif pada generasi muda. Melalui materi yang disampaikan secara komunikatif, para siswa diajak memahami bahwa bersyukur bukan hanya sekadar mengucapkan terima kasih, tetapi juga menyadari, menghargai, dan membalas kebaikan yang telah diterima.
Dalam penyuluhan tersebut, Ari Suryana menjelaskan bahwa konsep bersyukur dalam Buddhadhamma memiliki makna yang mendalam melalui istilah Kataññū-Katavedī. Kataññū berarti kemampuan untuk mengetahui, mengenali, dan menyadari kebaikan yang telah dilakukan oleh orang lain kepada diri kita, sedangkan Katavedī berarti memiliki kesadaran untuk membalas atau meneruskan kebaikan tersebut. Kedua nilai tersebut, menurutnya, penting ditanamkan sejak dini agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah melupakan jasa orang lain dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
“Bersyukur dalam Buddhadhamma bukan hanya mengatakan ‘terima kasih’. Bersyukur berarti kita mampu mengenali kebaikan yang telah kita terima, mengingat siapa saja yang telah berbuat baik kepada kita, kemudian berusaha membalas atau meneruskan kebaikan itu melalui perbuatan yang bermanfaat,” jelas Ari Suryana. Ia menambahkan bahwa seseorang yang memiliki Kataññū-Katavedī akan lebih mudah menghargai orang lain karena menyadari bahwa dalam kehidupannya terdapat banyak pihak yang telah memberikan dukungan, perhatian, tenaga, waktu, dan kasih sayang.
Para siswa kemudian diajak untuk melihat berbagai bentuk kebaikan yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kasih sayang dan pengorbanan orang tua, perhatian guru dalam memberikan ilmu, bantuan keluarga, dukungan teman, hingga kebaikan orang-orang yang membantu mereka dalam berbagai keadaan. Ari menjelaskan bahwa kebaikan tersebut terkadang terlihat sederhana dan dilakukan setiap hari, tetapi memiliki arti besar bagi kehidupan seseorang apabila disadari dengan penuh perhatian.
“Coba kita ingat kembali, sejak bangun tidur sampai berada di sekolah, berapa banyak kebaikan yang kita terima? Ada orang tua yang menyiapkan kebutuhan kita, guru yang mengajarkan ilmu, teman yang membantu ketika kita mengalami kesulitan, dan banyak orang lain yang mungkin tidak kita sadari jasanya. Karena itu, jangan menganggap kebaikan orang lain sebagai sesuatu yang biasa saja. Belajarlah mengenali dan menghargai setiap kebaikan yang kita terima,” ujar Ari.
Menurutnya, rasa syukur kepada orang tua dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang sesuai dengan kehidupan siswa. Belajar dengan sungguh-sungguh, menaati nasihat yang baik, menjaga sopan santun, membantu pekerjaan di rumah, serta menjaga nama baik keluarga merupakan beberapa bentuk sederhana dalam membalas kebaikan orang tua. Begitu pula kepada guru, rasa syukur dapat ditunjukkan dengan menghormati guru, memperhatikan pembelajaran, mengamalkan ilmu yang diberikan, serta menggunakan ilmu tersebut untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.
“Kalau kita bersyukur kepada orang tua, jangan hanya mengatakan terima kasih, tetapi tunjukkan melalui perilaku. Belajar dengan rajin, membantu orang tua, menjaga ucapan, dan menjadi anak yang baik merupakan bentuk rasa syukur. Kepada guru, kita bisa menunjukkan rasa syukur dengan menghargai ilmu yang diberikan, belajar sungguh-sungguh, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk melakukan kebaikan,” tuturnya.
Ari Suryana juga menekankan bahwa membalas kebaikan tidak harus dilakukan dalam bentuk materi. Dalam kehidupan siswa, banyak bentuk kebaikan yang dapat dilakukan tanpa membutuhkan biaya, seperti memberikan bantuan kepada teman, berbagi pengetahuan, menghibur teman yang sedang sedih, menghormati orang lain, menjaga kepercayaan, berkata jujur, dan membantu seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Dengan demikian, rasa syukur dapat berkembang menjadi kebiasaan melakukan kebaikan secara terus-menerus.
“Membalas kebaikan tidak harus selalu dengan materi. Ketika ada teman yang kesulitan, kita membantu; ketika ada teman yang belum memahami pelajaran, kita berbagi ilmu; ketika ada orang yang sedang sedih, kita memberikan perhatian. Kebaikan yang kita terima dapat kita teruskan kepada orang lain, sehingga muncul rantai kebaikan yang semakin luas,” ungkap Ari.
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diajak melakukan refleksi sederhana dengan mengingat orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan mereka. Para siswa diarahkan untuk menyadari bahwa pencapaian yang mereka miliki saat ini tidak hanya berasal dari usaha pribadi, tetapi juga dari dukungan dan pengorbanan berbagai pihak. Refleksi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap rendah hati sekaligus menghindarkan siswa dari perilaku merasa paling mampu atau melupakan jasa orang lain.
“Semakin kita menyadari banyaknya kebaikan yang kita terima, seharusnya kita semakin rendah hati. Kita tidak hidup sendirian dan tidak mencapai sesuatu hanya karena kemampuan kita sendiri. Ada orang tua, guru, keluarga, teman, dan banyak orang lain yang memberikan dukungan. Kesadaran inilah yang membuat kita menjadi pribadi yang tahu berterima kasih dan tidak mudah melupakan jasa orang lain,” kata Ari.
Lebih lanjut, Ari mengajak siswa untuk menjadikan rasa syukur sebagai bagian dari pembentukan karakter. Menurutnya, anak yang terbiasa bersyukur akan lebih mampu menghargai apa yang dimiliki, tidak mudah mengeluh, serta memiliki kepedulian terhadap orang lain. Rasa syukur juga dapat membantu seseorang melihat kehidupan secara lebih positif karena menyadari bahwa selalu ada kebaikan yang dapat dihargai dan diteruskan.
Ia menjelaskan bahwa nilai Kataññū-Katavedī sangat relevan diterapkan dalam kehidupan sekolah. Lingkungan sekolah merupakan tempat siswa belajar tidak hanya mengenai ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun hubungan sosial, belajar menghargai perbedaan, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap sesama. “Sekolah bukan hanya tempat untuk mendapatkan nilai akademik, tetapi juga tempat untuk belajar menjadi manusia yang baik. Kalau siswa terbiasa mengenali kebaikan, menghargai orang lain, dan membalas kebaikan dengan kebaikan, maka mereka sedang membangun karakter yang akan berguna sepanjang hidup,” jelasnya.
Melalui kegiatan penyuluhan tersebut, Penyuluh Agama Buddha Kemenag Medan terus mendorong pembinaan generasi muda melalui nilai-nilai Buddhadhamma yang dapat diterapkan secara konkret dalam kehidupan. Nilai Kataññū-Katavedī diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang tercermin dalam sikap siswa terhadap orang tua, guru, teman, dan masyarakat. Pembinaan seperti ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan penyuluhan agama yang tidak hanya memberikan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk karakter generasi muda yang positif dan bermanfaat.
Ari Suryana berharap para siswa dapat membawa pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak siswa untuk mulai dari hal sederhana, yaitu menyadari kebaikan yang diterima, mengucapkan terima kasih dengan tulus, menghargai orang yang telah berbuat baik, serta meneruskan kebaikan kepada orang lain. “Semoga nilai Kataññū-Katavedī dapat tumbuh dalam diri setiap siswa sehingga mereka menjadi pribadi yang selalu menghargai kebaikan, rendah hati, tidak melupakan jasa orang lain, dan memiliki semangat untuk terus melakukan kebaikan. Jadikan rasa syukur bukan hanya sebagai ucapan, tetapi sebagai sikap hidup yang terlihat dalam setiap perkataan dan perbuatan,” pungkasnya.

