Medan (Humas) — Upaya memperkuat pengamalan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat terus dilakukan Kementerian Agama Kota Medan melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam (Bimluh). Salah satunya dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan, H. Tamrin Butar-Butar, dalam kegiatan pembinaan keagamaan di MT Baiturrahman, Minggu (30/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, jamaah mendapatkan penguatan mengenai pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW serta menjadikan keteladanan beliau sebagai pedoman dalam membangun kehidupan pribadi, keluarga, dan bermasyarakat.
Dalam penyampaian materi, Tamrin menjelaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan sosok teladan yang sempurna bagi umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Keteladanan beliau tidak hanya terlihat dalam ibadah, tetapi juga dalam cara berbicara, memperlakukan orang lain, menyelesaikan persoalan, menjaga amanah, serta menghadapi berbagai ujian dengan kesabaran. Karena itu, menurutnya, mempelajari kehidupan Rasulullah SAW harus diikuti dengan upaya untuk menerapkan nilai-nilai akhlak beliau dalam kehidupan nyata.
“Rasulullah SAW adalah teladan bagi kita dalam seluruh aspek kehidupan. Meneladani beliau bukan hanya dengan mengenang perjuangan dan sejarah hidup beliau, tetapi bagaimana nilai-nilai yang beliau contohkan dapat kita hadirkan dalam kehidupan kita. Kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, kerendahan hati, dan sikap pemaaf harus menjadi bagian dari karakter kita sebagai umat beliau,” ujar Tamrin.
Ia menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah SAW sangat relevan untuk diterapkan dalam menghadapi kehidupan masyarakat yang semakin dinamis. Menurutnya, banyak persoalan yang muncul bukan semata-mata karena kurangnya pengetahuan, tetapi juga karena lemahnya pengendalian diri dan akhlak dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, umat Islam perlu menjadikan akhlak sebagai landasan dalam setiap ucapan dan tindakan agar kehidupan sosial dapat berjalan dengan penuh penghormatan, persaudaraan, dan saling menjaga.
“Kadang-kadang kita mengetahui mana yang benar, tetapi belum tentu kita mampu mengamalkannya karena masih terbawa emosi, kepentingan, atau kebiasaan yang kurang baik. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi perbedaan dan persoalan dengan kesabaran serta kebijaksanaan. Karena itu, mari kita belajar mengendalikan ucapan, menjaga sikap, dan berpikir sebelum melakukan sesuatu agar tidak menyakiti orang lain,” jelasnya.
Tamrin juga mengajak jamaah memperhatikan pentingnya menjaga lisan sebagai salah satu bentuk nyata meneladani Rasulullah SAW. Menurutnya, ucapan yang baik dapat mempererat persaudaraan, sedangkan ucapan yang tidak dijaga dapat menimbulkan kesalahpahaman bahkan memutus hubungan silaturahmi. Jamaah diingatkan untuk menghindari kebiasaan berkata kasar, menyebarkan kabar yang belum jelas, membicarakan keburukan orang lain, maupun memberikan komentar yang dapat menimbulkan permusuhan.
“Menjaga lisan merupakan bagian dari akhlak. Sebelum berbicara, mari kita bertanya kepada diri sendiri apakah ucapan kita benar, apakah bermanfaat, dan apakah akan menyakiti orang lain. Kalau tidak membawa kebaikan, lebih baik kita menahan diri. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk berkata baik atau diam,” tuturnya.
Selain menjaga lisan, Tamrin menekankan pentingnya kejujuran dan amanah dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kejujuran tidak hanya berkaitan dengan perkara besar, tetapi juga dimulai dari hal-hal kecil, seperti berkata sesuai kenyataan, mengakui kesalahan, tidak mengambil sesuatu yang bukan hak, dan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Sikap amanah juga harus diterapkan dalam keluarga, pekerjaan, organisasi, maupun kehidupan bermasyarakat.
“Jujur itu jangan hanya ketika ada orang yang melihat. Justru kejujuran diuji ketika tidak ada yang mengawasi kita. Begitu juga amanah, ketika kita diberikan tanggung jawab, maka laksanakan dengan sebaik-baiknya. Kalau nilai kejujuran dan amanah tumbuh dalam diri setiap orang, insyaallah keluarga akan lebih kuat dan masyarakat akan lebih percaya satu sama lain,” ungkap Tamrin.
Dalam kesempatan tersebut, jamaah juga diajak meneladani kasih sayang Rasulullah SAW, terutama dalam membangun hubungan di lingkungan keluarga. Tamrin mengingatkan bahwa keluarga merupakan tempat pertama untuk menerapkan akhlak mulia, baik melalui cara berbicara kepada pasangan, mendidik anak, menghormati orang tua, maupun menyelesaikan persoalan rumah tangga. Menurutnya, suasana keluarga yang dibangun dengan kasih sayang, kesabaran, dan saling menghargai akan memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anggota keluarga.
“Jangan sampai kita terlihat baik kepada orang lain di luar rumah, tetapi justru mudah marah kepada keluarga sendiri. Keteladanan Rasulullah SAW harus dimulai dari rumah. Mari kita belajar menjadi pasangan yang saling menghargai, orang tua yang sabar dalam mendidik anak, serta anak yang menghormati orang tua. Kalau akhlak baik tumbuh dari keluarga, insyaallah akan memberikan pengaruh positif kepada lingkungan,” katanya.
Tamrin juga mengingatkan jamaah bahwa memaafkan merupakan salah satu akhlak yang penting untuk terus dilatih. Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pendapat dan kesalahan merupakan sesuatu yang mungkin terjadi, sehingga umat perlu memiliki kelapangan hati untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan. Menurutnya, menyimpan kebencian terlalu lama hanya akan memberikan beban kepada diri sendiri, sedangkan sikap memaafkan dapat menjadi jalan untuk menjaga persaudaraan.
“Menjadi pemaaf bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain, tetapi kita memilih untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati. Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang bagaimana memaafkan dan membalas keburukan dengan kebaikan. Karena itu, kalau ada persoalan dengan saudara, mari kita cari jalan untuk berdamai dan menjaga silaturahmi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tamrin mengajak jamaah untuk tidak hanya mendengarkan materi Bimluh sebagai pengetahuan, tetapi menjadikannya sebagai bahan evaluasi diri. Menurutnya, perubahan akhlak tidak dapat terjadi secara instan, melainkan membutuhkan proses dan latihan yang dilakukan secara konsisten. Setiap jamaah dapat memulai dari satu perubahan kecil, seperti memperbaiki cara berbicara, lebih sabar menghadapi keluarga, menepati janji, serta lebih peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.
“Jangan pulang dari pengajian hanya membawa catatan, tetapi mari membawa niat untuk berubah. Kita tidak harus langsung menjadi sempurna, tetapi harus ada usaha untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin. Mulailah dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, kemudian kita terapkan di dalam keluarga dan lingkungan sekitar,” ungkap Tamrin.
Sebagai bagian dari tugas penyuluhan keagamaan, Tamrin menegaskan bahwa Bimluh menjadi ruang untuk membangun kesadaran keagamaan yang tidak berhenti pada pemahaman teori. Penyuluhan diharapkan mampu memberikan bekal kepada jamaah agar nilai-nilai Islam dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, kehadiran penyuluh agama tidak hanya memberikan pemahaman keagamaan, tetapi juga ikut mendorong terbentuknya masyarakat yang harmonis, saling menghargai, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
“Agama harus hadir dalam perilaku kita. Jangan sampai ilmu agama bertambah, tetapi akhlak tidak berubah. Ukuran keberhasilan pembinaan bukan hanya seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi seberapa jauh ilmu itu mengubah sikap dan memberikan manfaat kepada orang lain,” tutur Tamrin.
Ia berharap materi tentang keteladanan Rasulullah SAW dapat menjadi pengingat bagi jamaah untuk terus memperbaiki kualitas diri dan memperkuat hubungan dengan sesama. Menurutnya, semakin seseorang mencintai Rasulullah SAW, maka seharusnya semakin kuat pula keinginannya untuk mengikuti akhlak dan sunnah beliau. Kecintaan tersebut dapat diwujudkan melalui memperbanyak shalawat, mempelajari sirah Rasulullah SAW, serta berusaha menerapkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan.
“Semoga kita semakin mencintai Rasulullah SAW bukan hanya melalui ucapan, tetapi melalui perilaku. Mari kita perbanyak shalawat, mempelajari kehidupan beliau, kemudian berusaha menerapkan akhlaknya dalam keluarga dan masyarakat. Jadilah pribadi yang jujur, amanah, sabar, penyayang, pemaaf, dan selalu berusaha memberikan manfaat bagi orang lain,” pungkasnya.
Melalui kegiatan Bimluh di MT Baiturrahman tersebut, Penyuluh Agama Islam Kemenag Medan terus berupaya menghadirkan pembinaan keagamaan yang dekat dengan persoalan kehidupan masyarakat. Nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW diharapkan tidak hanya dipahami dalam forum pengajian, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam bersikap, berbicara, dan mengambil keputusan. Dengan pengamalan akhlak Rasulullah SAW secara konsisten, jamaah diharapkan mampu menjadi pribadi yang membawa kebaikan, memperkuat persaudaraan, dan menebarkan kemaslahatan di tengah masyarakat.

