Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama (Kemenag) Kota Medan, Demaran Sigiro, kembali melaksanakan kegiatan pembinaan dan penyuluhan keagamaan bersama Perkumpulan Ibu-Ibu Katolik (PIK) Santa Anna Stasi Santa Theresia Perumnas Simalingkar, Paroki Santo Fransiskus Padang Bulan. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Kemenyan Raya No. 88, Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Selasa (1/9/2026), tersebut menjadi bagian dari pendampingan umat dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026. Pertemuan perdana ini sekaligus menjadi kesempatan bagi para peserta untuk memperdalam Sabda Tuhan dan menemukan pesan iman yang dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
Pendalaman BKSN 2026 tersebut mengangkat subtema “Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Sejati” yang bersumber dari Injil Matius 5:1–12. Melalui perikop yang dikenal sebagai Sabda-Sabda Bahagia, peserta diajak melihat kembali cara Yesus mengajarkan makna kebahagiaan yang sejati kepada para murid dan orang banyak. Bahan BKSN 2026 Keuskupan Agung Medan menempatkan perikop tersebut sebagai bagian dari upaya mengajak umat mendengarkan Yesus sebagai Guru yang menunjukkan jalan hidup sejati dan memperbarui kehidupan sebagai murid Kristus.
Demanran Sigiro dalam penyampaiannya menjelaskan bahwa Sabda Bahagia tidak dapat dipahami hanya sebagai kata-kata rohani yang dibaca atau didengarkan dalam kegiatan keagamaan. Menurutnya, ajaran Yesus justru mengandung panggilan untuk mengubah cara umat memandang kehidupan, termasuk ketika menghadapi persoalan, tekanan, kekecewaan, maupun berbagai tantangan dalam keluarga dan lingkungan sosial. “Sabda Bahagia mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh harta, kedudukan, keberhasilan ataupun pengakuan dari orang lain, tetapi lahir dari hati yang terbuka kepada Allah dan mau menghadirkan kasih kepada sesama,” ujar Demaran.
Ia mengatakan, sikap rendah hati, lemah lembut, berbelaskasihan, haus akan kebenaran, suci hati dan membawa damai merupakan nilai-nilai yang sangat relevan untuk dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut dapat dimulai dari lingkungan paling dekat, yaitu keluarga, dengan membangun komunikasi yang baik, saling menghargai, menghindari pertengkaran, serta belajar memberikan pengampunan. “Menjadi murid Kristus berarti berani membawa nilai-nilai Injil ke dalam kehidupan nyata. Kasih, pengampunan, kesabaran dan kepedulian harus terlihat dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan keluarga, dan berinteraksi dengan masyarakat,” jelasnya.
Dalam suasana pendalaman yang khidmat, para peserta juga diberikan ruang untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman iman. Diskusi berlangsung secara aktif dengan membahas bagaimana pesan Sabda Bahagia dapat diwujudkan melalui tindakan-tindakan sederhana di tengah kehidupan keluarga, komunitas dan masyarakat. Peserta diajak untuk tidak hanya memahami isi Kitab Suci secara tekstual, tetapi juga merefleksikan pengalaman masing-masing serta menemukan langkah konkret yang dapat dilakukan setelah mengikuti pendalaman.
Demanran menegaskan bahwa kegiatan BKSN menjadi semakin bermakna ketika umat memiliki keberanian untuk menjadikan Sabda Tuhan sebagai dasar dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, seorang ibu memiliki peran penting dalam menanamkan nilai iman di tengah keluarga karena kehidupan keluarga menjadi salah satu tempat pertama bagi anak-anak untuk mengenal kasih, pengampunan, kepedulian dan keteladanan. “Keluarga adalah tempat pertama kita belajar menjadi pribadi yang membawa damai. Karena itu, apa yang kita dengarkan dalam pendalaman Kitab Suci hendaknya mulai kita hidupi dari rumah, sehingga iman tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi menjadi cara hidup,” ungkapnya.
Pendalaman BKSN tersebut juga berjalan searah dengan semangat Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan yang mengusung tema “Gereja KAM Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan dan Mewartakan”. Semangat berjalan bersama diwujudkan melalui keterlibatan umat dalam mendengarkan Sabda Tuhan, saling berbagi pengalaman, meneguhkan satu sama lain, serta bersama-sama mencari cara untuk menghadirkan nilai Injil dalam kehidupan. Bagi peserta, pendalaman ini menjadi momentum untuk semakin menyadari bahwa kehidupan menggereja bukan hanya berlangsung dalam perayaan liturgi, tetapi juga melalui tindakan kasih dan kepedulian di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Demaran mengajak anggota PIK Santa Anna untuk menjadikan Bulan Kitab Suci Nasional sebagai kesempatan memperbarui kehidupan rohani dan memperkuat kebiasaan membaca serta merenungkan Kitab Suci. Ia berharap setiap peserta dapat membawa satu pesan utama dari pertemuan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun keluarga yang penuh kasih dan menjadi pribadi yang mampu membawa kesejukan di tengah lingkungan. “Mari kita tidak berhenti pada kegiatan pendalaman ini. Setelah kita mendengar dan memahami Sabda Tuhan, mari kita bertanya kepada diri sendiri apa yang dapat kita ubah, apa yang dapat kita perbaiki, dan kasih seperti apa yang dapat kita hadirkan bagi orang-orang di sekitar kita,” ajaknya.
Melalui kegiatan tersebut, anggota PIK Santa Anna diharapkan semakin mengenal Yesus sebagai Guru yang penuh kuasa sekaligus semakin mampu menghayati ajaran-Nya tentang kehidupan yang sejati. Penghayatan terhadap Sabda Bahagia diharapkan mendorong umat untuk menjadi pribadi yang rendah hati, berbelaskasihan, membawa damai, serta tetap teguh dalam iman ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan. “Ketika Sabda Tuhan sungguh-sungguh meresap dalam hati, maka kehidupan kita pun perlahan akan berubah. Itulah yang kita harapkan dari pendalaman BKSN ini, agar setiap peserta pulang membawa iman yang semakin kuat dan tekad untuk menjadi pembawa kasih serta damai di tengah keluarga dan masyarakat,” pungkas Demaran.

