Berbagi Kasih dan Penguatan Iman kepada Lansia, Penyuluh Agama Kemenag Medan Hadir Berikan Pendampingan Rohani

Medan (Humas) — Berbagi kasih, perhatian, dan penguatan iman kepada para lanjut usia (lansia) terus dilakukan Penyuluh Agama Katolik dan Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama (Kemenag) Kota Medan melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan rohani. Kehadiran para penyuluh kali ini menyapa para lansia di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti, Jalan KL. Yos Sudarso Km. 16 No. 14, Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Rabu (2/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian Kemenag Medan dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh berbagai kelompok masyarakat, termasuk mereka yang berada pada usia lanjut dan membutuhkan perhatian serta penguatan secara rohani.

Kegiatan diikuti Penyuluh Agama Katolik Marulam Nainggolan, Demaran Sigiro, dan Zetra Hail Saragih, bersama Penyuluh Agama Kristen Maruli Siburian, S.Th., Tiurma Butar Butar, S.Th., Natalina Hutagalung, S.PAK., dan Torang Berutu, S.Th. Kehadiran para penyuluh disambut hangat oleh para lansia dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan. Tidak sekadar menyampaikan materi keagamaan, kegiatan dikemas melalui ibadat bersama yang memberikan ruang bagi para lansia untuk berdoa, mendengarkan renungan, serta merasakan kebersamaan sebagai bagian dari komunitas yang saling menguatkan.

Dalam ibadat tersebut, Tiurma Butar Butar bertugas membawakan doa, sementara renungan disampaikan oleh Marulam Nainggolan dengan mengambil dasar dari Injil Lukas 4:38–44. Perikop tersebut menggambarkan pelayanan Yesus yang hadir untuk menyembuhkan, menolong, dan memberikan perhatian kepada mereka yang membutuhkan. Pesan tersebut kemudian direfleksikan dalam kehidupan para lansia agar tetap memiliki pengharapan, sekalipun berada dalam kondisi yang tidak selalu mudah, serta meyakini bahwa kasih dan penyertaan Tuhan senantiasa hadir dalam setiap tahap kehidupan.

Marulam Nainggolan menyampaikan bahwa usia lanjut bukanlah alasan bagi seseorang untuk kehilangan semangat dalam menjalani kehidupan. Justru pada masa tersebut, perhatian, kebersamaan, dan penguatan iman menjadi hal yang sangat berarti karena dapat membantu para lansia menjalani hari-hari dengan hati yang lebih tenang dan penuh pengharapan. “Kami datang bukan hanya untuk menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga untuk mendengarkan, menemani, dan berbagi kasih bersama para lansia. Kami berharap kehadiran kami dapat membawa sukacita, menguatkan iman, dan menumbuhkan pengharapan dalam hati mereka,” ujar Marulam.

Ia menambahkan bahwa pendampingan rohani merupakan bagian penting dalam pelayanan Penyuluh Agama karena kebutuhan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan aspek jasmani, tetapi juga menyangkut ketenangan batin dan kehidupan spiritual. Menurutnya, sebuah kunjungan sederhana dapat memiliki makna yang besar ketika dilakukan dengan ketulusan dan kepedulian. “Kadang-kadang yang dibutuhkan seseorang bukan sesuatu yang besar, melainkan kehadiran orang lain yang mau duduk bersama, mendengarkan cerita, mendoakan, dan memberikan semangat. Inilah salah satu bentuk pelayanan yang ingin terus kami hadirkan sebagai penyuluh,” ungkapnya.

Dalam suasana ibadat yang berlangsung khidmat, para lansia tampak mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian. Doa bersama menjadi momentum untuk menyampaikan rasa syukur, pergumulan, serta harapan kepada Tuhan, sementara renungan memberikan penguatan agar para lansia tidak merasa sendiri dalam menjalani kehidupan. Interaksi antara penyuluh dan para lansia juga menciptakan suasana hangat yang memperlihatkan bahwa pendampingan keagamaan dapat menjadi sarana untuk membangun rasa dihargai, diperhatikan, dan diterima.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pelayanan keagamaan harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia maupun kondisi kehidupan. Penyuluh Agama Kemenag Kota Medan hadir bukan hanya dalam ruang-ruang pembinaan formal, tetapi juga mendatangi masyarakat yang membutuhkan penguatan secara langsung. Melalui pendampingan seperti ini, nilai kasih, kepedulian, persaudaraan, dan pengharapan dapat terus ditumbuhkan dalam kehidupan bersama.

Marulam berharap kegiatan pendampingan rohani dapat terus dilakukan secara berkesinambungan sehingga para lansia memperoleh perhatian dan penguatan yang mereka butuhkan. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk menjadikan kepedulian kepada lansia sebagai bagian dari kehidupan bersama, karena mereka memiliki pengalaman, nilai, dan perjalanan hidup yang patut dihargai. “Mari kita melihat para lansia bukan sebagai kelompok yang harus dikasihani, tetapi sebagai pribadi-pribadi yang memiliki pengalaman hidup dan layak mendapatkan penghormatan, perhatian, serta kasih. Semoga melalui kehadiran kita, mereka semakin merasakan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka,” pungkasnya.

Melalui kegiatan penyuluhan dan ibadat bersama tersebut, Penyuluh Agama Katolik dan Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kota Medan kembali menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan yang humanis dan menyentuh kehidupan umat. Pendampingan rohani diharapkan mampu memberikan ketenangan hati, mempererat kebersamaan, serta menumbuhkan sukacita dan pengharapan bagi para lansia di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti. Kehadiran para penyuluh di tengah para lansia menjadi bentuk nyata bahwa pelayanan agama tidak hanya berbicara tentang penyampaian ajaran, tetapi juga tentang menghadirkan kasih melalui perhatian, kebersamaan, dan kepedulian kepada sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *