Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) keagamaan bersama jamaah Majelis Taklim (MT) Al Amin di Jalan Jermal 7, Gang Murni 5, tepatnya di kediaman Ibu Lina, depan Tunas Harapan, Jumat (4/9/2026). Kegiatan yang dilaksanakan selepas salat Jumat sekitar pukul 14.40 WIB hingga menjelang salat Asar tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan antusiasme jamaah. Pertemuan ini menjadi sarana bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman keagamaan sekaligus melakukan refleksi terhadap kehidupan sehari-hari.
Kegiatan diawali oleh protokol, Ibu Sugi, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua MT Al Amin, Ibu Dariani, MD. Setelah itu, PAI KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.HI., S.Pd.I., menyampaikan tausiah dengan tema “Penghalang Menjadi Orang Saleh”. Materi disampaikan secara interaktif dengan mengajak jamaah memahami makna kesalehan serta mengenali berbagai penyakit hati yang dapat menghambat seseorang dalam meningkatkan kualitas iman, ibadah, dan akhlaknya.
Dalam penyampaiannya, Khoiruz Zaman menjelaskan bahwa kata saleh memiliki makna baik, benar, lurus, sesuai, dan tidak rusak. Dalam konteks keagamaan, orang saleh merupakan pribadi yang senantiasa berusaha memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus menjaga hubungan yang baik dengan sesama manusia melalui iman, amal ibadah, akhlak, dan perilaku yang sesuai dengan tuntunan agama. Ia menekankan bahwa menjadi orang saleh bukan berarti terbebas dari kesalahan, melainkan memiliki kesadaran untuk segera memperbaiki diri ketika melakukan kekeliruan.
“Menjadi orang saleh bukan berarti menjadi manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Orang saleh adalah orang yang ketika melakukan kesalahan segera menyadari, bertobat, memperbaiki diri, dan tidak terus-menerus mempertahankan kesalahan tersebut,” jelasnya.
Khoiruz Zaman kemudian menguraikan lima hal yang dapat menjadi penghalang seseorang untuk menjadi pribadi yang saleh. Kelima hal tersebut adalah merasa cukup dengan kebodohan, terlalu tamak terhadap dunia, kikir terhadap kelebihan yang dimiliki, riya dalam beramal, serta membanggakan pendapat atau kemampuan diri sendiri. Menurutnya, kelima sikap tersebut perlu dikenali dan dilawan dengan kesadaran serta pembinaan diri yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa penghalang pertama adalah merasa cukup dengan kebodohan. Seseorang yang tidak mau belajar, enggan menerima nasihat, dan merasa telah mengetahui segala sesuatu akan mengalami kesulitan untuk berkembang, termasuk dalam kehidupan spiritual. “Orang yang ingin menjadi saleh harus mencintai ilmu. Jangan malu mengatakan tidak tahu. Kalau tidak tahu, bertanyalah kepada orang yang berilmu. Semakin seseorang bertambah ilmu, seharusnya semakin rendah hati dan semakin baik ibadahnya,” ujarnya.
Penghalang kedua adalah ketamakan terhadap dunia. Khoiruz Zaman menerangkan bahwa Islam tidak melarang umatnya mencari harta dan menikmati kehidupan dunia selama dilakukan dengan cara yang benar. Namun, kecintaan terhadap dunia tidak boleh membuat seseorang lalai terhadap kewajiban kepada Allah SWT maupun kehidupan akhirat. “Bukan hartanya yang menjadi masalah, tetapi ketika hati kita diperbudak oleh harta. Harta seharusnya berada di tangan, bukan menguasai hati,” katanya.
Selanjutnya, penghalang ketiga adalah sikap kikir terhadap kelebihan yang telah diberikan Allah SWT. Menurutnya, setiap manusia memperoleh karunia dalam bentuk yang berbeda-beda, baik berupa harta, ilmu, tenaga, waktu maupun kemampuan. “Kalau Allah memberikan kita ilmu, bagikan kepada orang lain. Kalau diberikan harta, sisihkan untuk bersedekah. Kalau diberikan tenaga, gunakan untuk membantu. Semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah amanah,” jelasnya.
Penghalang keempat yang disampaikan adalah riya dalam beramal. Ia mengingatkan jamaah untuk terus menjaga keikhlasan dalam menjalankan ibadah maupun melakukan berbagai kebaikan. Amal yang dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian atau pengakuan manusia dikhawatirkan dapat mengurangi nilai keikhlasan seseorang. “Jangan sampai kita beramal karena ingin dilihat dan dipuji manusia. Biasakan bertanya kepada diri sendiri, kalau tidak ada seorang pun yang melihat, apakah saya masih mau melakukan kebaikan ini? Jika kita tetap melakukannya karena Allah, insyaallah itu menjadi tanda keikhlasan,” tuturnya.
Adapun penghalang kelima adalah membanggakan diri dan terlalu mengagungkan pendapat sendiri. Sikap tersebut dapat berkembang menjadi ujub sehingga seseorang merasa lebih baik daripada orang lain dan sulit menerima nasihat. Karena itu, jamaah diajak untuk membangun sikap tawaduk serta tidak mudah merendahkan atau menilai orang lain. “Jangan merasa diri kita sudah paling baik. Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir kehidupan seseorang. Bisa jadi orang yang hari ini kita anggap biasa saja justru lebih mulia di sisi Allah karena ketakwaannya,” ungkapnya.
Untuk mengatasi lima penghalang tersebut, Khoiruz Zaman mengajak jamaah membangun lima sikap sebagai penawarnya, yaitu kebodohan dilawan dengan ilmu, ketamakan dilawan dengan qanaah, kekikiran dilawan dengan sedekah, riya dilawan dengan keikhlasan, dan ujub dilawan dengan tawaduk. Ia menegaskan bahwa kesalehan seseorang tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga tercermin melalui akhlak dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. “Orang saleh itu lisannya terjaga, rendah hati, senang membantu, mudah menerima nasihat, tidak suka memamerkan amal, serta ketika melakukan dosa segera kembali kepada Allah,” katanya.
Kegiatan Bimluh berlangsung secara interaktif dengan memberikan kesempatan kepada jamaah untuk berdiskusi dan menyampaikan tanggapan. Pola penyampaian yang dikaitkan dengan persoalan kehidupan sehari-hari membuat materi lebih mudah dipahami dan direnungkan oleh peserta. Sejumlah jamaah, di antaranya Ibu Cut Yanti dan Ibu Hanum, menyampaikan bahwa materi tersebut memberikan pengingat penting untuk tidak hanya memperbanyak ibadah, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap penyakit hati yang mungkin masih terdapat dalam diri masing-masing.
“Kami senang dan mendapatkan banyak pelajaran. Materinya dekat dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi pengingat agar kita terus memperbaiki diri,” ujar keduanya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, S.HI. Jamaah mengikuti rangkaian penutupan dengan penuh khidmat sebelum mengakhiri pertemuan. Suasana kekeluargaan yang terbangun selama kegiatan menunjukkan antusiasme jamaah dalam mengikuti pembinaan keagamaan yang dilaksanakan oleh PAI KUA Kecamatan Medan Denai.
Melalui kegiatan Bimluh tersebut, PAI KUA Kecamatan Medan Denai berharap Majelis Taklim dapat terus menjadi ruang pembelajaran dan pembinaan umat yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Tidak hanya menambah wawasan keagamaan, kegiatan tersebut diharapkan mampu mendorong jamaah untuk melakukan introspeksi, memperbaiki akhlak, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperkuat kepedulian sosial. Dengan pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan, diharapkan semakin banyak masyarakat yang terdorong untuk menjadi pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.

