Perkuat Pembinaan Keagamaan, Penyelenggara Hindu Kemenag Medan Ikuti Persembahyangan Bersama di Lapas Tanjung Gusta

Medan (Humas) — Plt. Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kota Medan, Karma Perangin-Angin, S.Ag., bersama jajaran staf menghadiri persembahyangan bersama dalam rangka memperingati Krisna Janmashtami dan Ganesha Chaturthi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tanjung Gusta, Medan, Senin (7/9/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara beserta jajarannya. Kehadiran jajaran Kementerian Agama menjadi bagian dari komitmen dalam mendukung pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan pemasyarakatan beragama Hindu. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memastikan pembinaan dan pelayanan keagamaan tetap berjalan di lingkungan pemasyarakatan.

Persembahyangan bersama berlangsung dalam suasana khidmat, tenang, dan penuh keharmonisan. Warga binaan pemasyarakatan beragama Hindu mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias serta memanjatkan doa untuk keselamatan, kedamaian, dan ketenangan batin. Karma Perangin-Angin menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan memiliki peran penting dalam memberikan penguatan spiritual bagi warga binaan selama menjalani masa pembinaan. “Kegiatan persembahyangan seperti ini menjadi bagian penting dalam memberikan penguatan rohani kepada warga binaan, sehingga mereka tetap memiliki ruang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa meskipun sedang menjalani masa pembinaan,” ujar Karma.

Sementara itu, peringatan Krisna Janmashtami menjadi momentum untuk mengingat nilai-nilai kebenaran, dharma, dan kebijaksanaan yang terkandung dalam ajaran Hindu. Adapun Ganesha Chaturthi menjadi kesempatan bagi umat untuk memanjatkan doa dan memohon tuntunan dalam menghadapi berbagai rintangan kehidupan. Senada dengan hal itu, Karma menekankan bahwa kedua momentum keagamaan tersebut dapat menjadi sarana bagi warga binaan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri. “Hari besar keagamaan hendaknya kita jadikan sebagai momentum untuk mulat sarira atau introspeksi diri, karena setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritualnya,” katanya.

Selain itu, Karma Perangin-Angin mengingatkan bahwa keterbatasan ruang dan kondisi selama berada di lembaga pemasyarakatan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk meningkatkan kualitas iman. Menurutnya, pembinaan keagamaan dapat membantu warga binaan membangun ketenangan batin sekaligus menumbuhkan semangat untuk menjalani proses pembinaan dengan baik. Kehadiran penyelenggara dan Pembimas Hindu dalam kegiatan tersebut juga menjadi bentuk pendampingan keagamaan yang diberikan secara berkelanjutan. “Keterbatasan fisik di dalam Lapas bukan alasan untuk berhenti mendekatkan diri kepada Tuhan, justru melalui pembinaan keagamaan kita berharap warga binaan semakin kuat secara mental dan spiritual,” ungkap Karma.

Sinergi antara Penyelenggara Hindu Kemenag Kota Medan, Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Sumatera Utara, dan pihak Lapas Kelas I Tanjung Gusta menjadi bagian penting dalam mendukung pemenuhan hak beragama warga binaan. Kerja sama tersebut juga membuka ruang bagi pelaksanaan kegiatan keagamaan yang dapat memberikan pembinaan moral dan spiritual secara berkesinambungan. Sementara itu, keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa pembinaan warga binaan tidak hanya berorientasi pada aspek pemasyarakatan, tetapi juga memperhatikan kebutuhan rohani. Melalui kolaborasi tersebut, pelayanan dan pembinaan keagamaan bagi warga binaan Hindu diharapkan dapat terus terlaksana dengan baik.

Pelaksanaan persembahyangan bersama dalam rangka Krisna Janmashtami dan Ganesha Chaturthi diharapkan memberikan penguatan bagi warga binaan dalam menjalani proses pembinaan. Nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam peringatan tersebut dapat menjadi bekal untuk membangun kesadaran diri, ketenangan batin, dan semangat memperbaiki kehidupan. Sinergi Kementerian Agama dan pihak Lapas juga diharapkan terus terjaga dalam memenuhi kebutuhan pembinaan spiritual warga binaan sesuai dengan keyakinannya. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, warga binaan diharapkan mampu mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah masyarakat dengan kehidupan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *