Medan (Humas) — Keberagamaan tidak cukup hanya diukur dari keyakinan dalam hati atau pelaksanaan ibadah secara lahiriah. Islam mengajarkan keselarasan antara keyakinan, ketaatan, dan kesadaran spiritual yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Pesan tersebut menjadi fokus kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) bidang akidah yang dilaksanakan di Majelis Taklim Ikhwan, Jalan Persamaan, Kelurahan Sitirejo II, Kecamatan Medan Amplas, Senin (19/10/2026).
Kegiatan ini disampaikan oleh Dr. Syarto Syarif, Lc., M.A., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, dengan mengangkat tema “Perbedaan Iman, Islam, dan Ihsan dalam Kehidupan”. Pengurus dan puluhan jemaah mengikuti pembinaan tersebut dengan antusias. Materi yang disampaikan mengajak jemaah memahami dasar-dasar keberagamaan secara menyeluruh serta menghubungkannya dengan pembentukan akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., yang mendorong seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk memberikan pelayanan serta bimbingan yang prima dan berdampak nyata di tengah masyarakat. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan lingkungan sosial.
Iman, Islam, dan Ihsan sebagai Fondasi Keberagamaan
Dalam penyampaian materi, Syarto Syarif menjelaskan bahwa iman, Islam, dan ihsan merupakan tiga dimensi penting yang saling melengkapi dalam membentuk pribadi Muslim yang utuh. Ketiganya memiliki pengertian yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan karena berkaitan erat dengan keyakinan, pelaksanaan ajaran agama, dan kualitas penghambaan kepada Allah SWT.
Iman berkaitan dengan keyakinan hati terhadap ajaran Allah SWT. Keyakinan tersebut menjadi landasan bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan, memahami tujuan penciptaan manusia, serta menempatkan Allah SWT sebagai pusat pengabdian. Iman yang kuat diharapkan mampu membimbing seseorang agar tetap teguh dalam kebaikan dan menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam mengambil keputusan.
Sementara itu, Islam tercermin melalui ketundukan dan ketaatan yang diwujudkan dalam amal perbuatan. Pelaksanaan salat, puasa, zakat, dan berbagai ibadah lainnya merupakan bentuk pengamalan ajaran Islam yang harus disertai kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah SWT serta menjauhi larangan-Nya. Ketaatan tersebut juga perlu diwujudkan melalui sikap disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Adapun ihsan merupakan kualitas penghambaan yang mendorong seseorang melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan dan kesadaran spiritual. Dalam hadis Jibril, Rasulullah SAW menjelaskan ihsan sebagai keadaan ketika seseorang beribadah kepada Allah SWT seakan-akan melihat-Nya. Jika ia tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah SWT senantiasa melihatnya.
“Iman, Islam, dan ihsan merupakan tiga hal yang saling melengkapi. Iman menjadi landasan keyakinan, Islam diwujudkan melalui ketaatan dalam perbuatan, sedangkan ihsan mengajarkan kita untuk melakukan setiap amal dengan ikhlas dan penuh kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi,” ujar Syarto Syarif
Melalui penjelasan ini, jemaah diajak memahami bahwa keberagamaan tidak cukup berhenti pada pengakuan keyakinan maupun rutinitas ibadah. Nilai-nilai agama perlu tercermin dalam perilaku yang baik, kepedulian terhadap sesama, serta kesungguhan dalam menjalankan amanah. Keselarasan ketiga dimensi tersebut menjadi salah satu landasan untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna.
Kesadaran akan Pengawasan Allah Membentuk Akhlak Mulia
Pembahasan kemudian diarahkan pada penerapan nilai ihsan dalam kehidupan sehari-hari. Syarto menjelaskan bahwa kesadaran akan pengawasan Allah SWT semestinya hadir dalam setiap aktivitas, bukan hanya ketika seseorang berada di masjid atau sedang melaksanakan ibadah, melainkan juga saat bekerja, berdagang, mengurus keluarga, menjalankan tugas, dan berinteraksi melalui media digital.
Kesadaran spiritual tersebut dapat diwujudkan melalui perilaku sederhana, seperti berkata jujur meskipun tidak diawasi orang lain, menunaikan tanggung jawab tanpa harus terus-menerus diingatkan, serta menghormati hak sesama tanpa mengharapkan imbalan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa pemahaman agama telah memberikan pengaruh nyata terhadap cara seseorang bertindak dan mengambil keputusan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, pemahaman terhadap iman, Islam, dan ihsan juga menjadi landasan untuk menumbuhkan sikap amanah, disiplin, rendah hati, dan bertanggung jawab. Seseorang yang berusaha menerapkan nilai-nilai tersebut akan lebih berhati-hati dalam bertutur kata, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta menghindari tindakan yang dapat merugikan orang lain.
Karena itu, pembinaan akidah tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan tentang ajaran agama, tetapi juga memperkuat kesadaran moral dan spiritual. Dengan memahami makna ihsan, jemaah diharapkan semakin termotivasi untuk memperbaiki kualitas ibadah sekaligus menjaga akhlak dalam setiap aspek kehidupan.
Bimluh Perkuat Pemahaman Agama di Tengah Masyarakat
Kegiatan Bimluh di Majelis Taklim Ikhwan merupakan bagian dari peran Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas dalam meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat. Melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, materi akidah disampaikan agar lebih mudah dipahami dan dapat diterapkan oleh jemaah dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pembinaan di majelis taklim juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat kebersamaan umat. Kehadiran Penyuluh Agama Islam di tengah masyarakat diharapkan mampu mendorong tumbuhnya kesadaran beragama yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan ritual, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam.
Kegiatan ditutup dengan salat Isya berjamaah yang diikuti jemaah sebagai bagian dari penguatan ibadah dan kebersamaan. Penutupan tersebut melengkapi rangkaian pembinaan yang menghubungkan pemahaman akidah dengan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan nyata.
Melalui kegiatan ini, KUA Kecamatan Medan Amplas terus berupaya menghadirkan bimbingan keagamaan yang bermanfaat dan berkelanjutan. Jemaah diharapkan semakin memahami bahwa menjadi Muslim yang baik membutuhkan keselarasan antara hati yang beriman, anggota tubuh yang taat, dan jiwa yang senantiasa menyadari pengawasan Allah SWT. Dengan demikian, keberagamaan tidak sekadar menjadi identitas, tetapi juga pedoman hidup yang tercermin dalam ibadah, akhlak mulia, dan tanggung jawab sosial.

