Medan (Humas) — Menjadi khalifah di muka bumi bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab, kerendahan hati, serta kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Pesan tersebut menjadi salah satu pembelajaran utama dalam kegiatan Tahsin Alquran yang diselenggarakan Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap Selasa pukul 14.00 WIB ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan membaca Alquran sekaligus memperdalam pemahaman terhadap kandungannya. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya dibimbing untuk memperbaiki bacaan, tetapi juga diajak memahami dan mengamalkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., yang mendorong seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) untuk memberikan pelayanan serta bimbingan keagamaan yang prima dan berdampak nyata bagi masyarakat. Pembinaan yang berkelanjutan diharapkan mampu memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus membentuk karakter masyarakat yang lebih baik.
Kegiatan tersebut didampingi oleh Dr. Syarto Syarif, Lc., M.A., Harun Arrasyid, Lc., M.A., dan Nurbaiti Lubis, selaku Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas. Peserta terdiri atas ibu-ibu muslimat yang tergabung dalam sejumlah majelis taklim di wilayah Kecamatan Medan Amplas. Kehadiran Dra. Imaniyah, M.H., yang turut aktif menggerakkan kegiatan, juga menjadi bagian dari upaya memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembelajaran Alquran secara berkesinambungan.
Rangkaian pembelajaran diawali dengan membaca QS. Al-Baqarah ayat 30–31. Bacaan peserta disimak oleh Harun Arrasyid, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dan tadabbur kandungan QS. Al-Baqarah ayat 30 yang disampaikan oleh Syarto Syarif
Dalam pemaparannya, Syarto menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung pelajaran penting mengenai kedudukan dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Amanah tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepemimpinan, tetapi juga mencakup bagaimana setiap individu menjaga kehidupan, menghindari kerusakan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan dan masyarakat.
Ia menguraikan enam pesan penting yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, setiap manusia perlu menyadari perannya sebagai khalifah yang bertanggung jawab memelihara kehidupan dan memberikan manfaat bagi sesama. Kedua, manusia harus menghindari perilaku yang menimbulkan kerusakan, baik dalam hubungan sosial maupun dalam menjaga lingkungan dan persaudaraan.
Ketiga, setiap orang hendaknya tidak merasa paling suci atau paling benar. Pengetahuan, jabatan, dan pengalaman seharusnya menjadi bekal untuk berbuat baik, bukan alasan untuk menyombongkan diri. Keempat, perbedaan kemampuan, pandangan, dan karakter perlu disikapi dengan bijaksana agar menjadi ruang untuk saling mengenal, belajar, dan bekerja sama dalam kebaikan.
Kelima, amanah dan kewenangan harus dipahami sebagai tanggung jawab untuk melayani, bukan sebagai kekuasaan mutlak yang dapat digunakan sesuka hati. Prinsip ini berlaku dalam berbagai lingkup kehidupan, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lembaga. Keenam, setiap orang perlu bersedia menerima kritik dan evaluasi sebagai sarana untuk mengenali kekurangan serta memperbaiki diri.
“Menjadi khalifah di muka bumi bukan berarti manusia bebas berbuat sesuka hati. Ada amanah yang harus dijaga, ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, dan ada sikap rendah hati yang perlu dipelihara. Karena itu, kita harus menghindari perbuatan yang merusak, menghargai perbedaan, serta bersedia menerima nasihat dan memperbaiki diri,” demikian pesan yang ditekankan dalam pembelajaran tersebut.
Keenam pelajaran itu menegaskan bahwa tadabbur Alquran tidak berhenti pada pemahaman terhadap teks ayat, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku nyata. Nilai amanah, kerendahan hati, penghargaan terhadap perbedaan, dan keterbukaan terhadap evaluasi menjadi bagian penting dalam membangun pribadi yang bertanggung jawab serta kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan memperdalam pemahaman terhadap kandungan ayat, sekaligus menghubungkannya dengan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran yang memadukan perbaikan bacaan, penyimakan, penjelasan kandungan ayat, dan diskusi tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh. Dengan demikian, peserta tidak hanya semakin baik dalam membaca Alquran, tetapi juga mampu menjadikan ajaran yang terkandung di dalamnya sebagai pedoman dalam bersikap dan berinteraksi dengan sesama.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan salat Ashar berjamaah. Penutupan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan yang memadukan peningkatan kemampuan membaca Alquran dengan penguatan spiritualitas dan kebersamaan di antara peserta.
Melalui program Tahsin Alquran yang dilaksanakan secara rutin, KUA Kecamatan Medan Amplas terus berupaya mendekatkan masyarakat dengan Alquran melalui pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, tetapi juga pada pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan.
Upaya tersebut diharapkan mampu melahirkan pribadi-pribadi yang lebih amanah, rendah hati, dan bertanggung jawab, sekaligus membangun masyarakat yang menghargai perbedaan serta terbuka terhadap nasihat dan perbaikan. Dengan demikian, pelayanan dan bimbingan keagamaan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi kehidupan masyarakat.

