Medan (Humas) Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Medan melaksanakan pendampingan katekumen secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu (28/10/2026), pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh Santi Manalu, seorang katekumen asal Kabupaten Toba, dengan materi pembelajaran mengenai “Unsur-Unsur Sakramen”. Pendampingan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan iman Katolik untuk membantu katekumen memahami ajaran Gereja secara lebih mendalam sebagai persiapan menuju penerimaan sakramen inisiasi.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai sakramen sebagai tanda yang kelihatan dari rahmat Allah yang tidak kelihatan. Sakramen merupakan tanda rahmat yang ditetapkan oleh Kristus dan dipercayakan kepada Gereja untuk menyalurkan rahmat Allah kepada umat beriman. Melalui pemahaman ini, katekumen diajak menyadari bahwa sakramen bukan sekadar simbol atau ritual keagamaan, melainkan sarana perjumpaan dengan Kristus yang menguatkan perjalanan iman serta kehidupan rohani umat.
Materi pendampingan berfokus pada empat unsur pokok dalam perayaan sakramen, yakni materia, forma, pelayan sakramen, dan penerima sakramen. Materia merupakan unsur atau tanda yang digunakan dalam perayaan sakramen, sedangkan forma adalah rumusan kata-kata sakramental yang menyertainya. Pelayan sakramen melaksanakan pelayanan sesuai dengan ketentuan Gereja, sementara penerima sakramen harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Penjelasan tersebut diharapkan membantu Santi Manalu memahami makna setiap unsur serta keterkaitannya dalam perayaan sakramen Gereja Katolik.
Untuk memperjelas materi, penyuluh memberikan contoh penerapan materia dan forma dalam kehidupan menggereja. Dalam Sakramen Baptis, air menjadi materia yang digunakan, disertai rumusan pembaptisan dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sementara itu, dalam Sakramen Ekaristi, roti dan anggur menjadi materia dalam perayaan Ekaristi, dengan doa konsekrasi sebagai bagian penting dalam perayaan tersebut. Melalui contoh-contoh ini, katekumen diajak memahami hubungan antara tanda yang kelihatan, rumusan liturgis, dan rahmat Allah yang dirayakan dalam kehidupan Gereja.
Roni menyampaikan bahwa pendampingan katekumen memiliki peranan penting dalam membangun pemahaman iman yang benar dan mendalam. “Melalui pendampingan ini, kami berharap katekumen semakin mengenal ajaran Gereja Katolik, memahami makna sakramen, serta mempersiapkan diri dengan baik untuk bertumbuh dalam iman dan menghayati nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Roni. Ia berharap pembelajaran yang berkelanjutan dapat mendorong katekumen semakin dekat dengan Kristus serta mampu mewujudkan kasih kepada sesama.
Melalui pendampingan ini, Santi Manalu diharapkan semakin memahami dasar-dasar ajaran Gereja Katolik, khususnya mengenai unsur-unsur sakramen dan peranan tujuh sakramen dalam perjalanan hidup umat beriman. Pelaksanaan kegiatan secara daring juga menjadi bentuk pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pelayanan penyuluhan agama, termasuk bagi katekumen yang berada di luar Kota Medan. Dengan pendampingan iman yang berkesinambungan, diharapkan para katekumen semakin siap dalam pengetahuan dan penghayatan iman untuk menjadi anggota Gereja Katolik serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

