PAI KUA Medan Denai Sampaikan Lima Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat dalam Pengajian MT Muslimah Sejati

Medan (Humas) – Kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat tidak hanya ditentukan oleh harta, jabatan, maupun kemewahan, tetapi juga oleh kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.HI., S.Pd.I., saat memberikan tausiah dalam pengajian rutin Majelis Taklim (MT) Muslimah Sejati, Ahad (1/11/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 14.30 WIB tersebut berlangsung di kediaman Ibu Raja Anita (Bu Inong), Jalan Menteng Raya, Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, dan diikuti para jamaah dengan penuh khidmat. Dalam tausiah tersebut, ia mengajak jamaah untuk memahami dan mengamalkan lima perkara yang menjadi kunci kebahagiaan seorang mukmin dalam menjalani kehidupan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua MT Muslimah Sejati, Nurliati Harahap. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh jamaah yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti pengajian rutin tersebut. Ia berharap majelis taklim dapat terus berjalan secara istiqamah sebagai wadah mempererat silaturahmi, memperdalam pengetahuan agama, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Selain itu, ia mengajak seluruh jamaah untuk menjaga kekompakan dan terus bersemangat mengikuti kegiatan pengajian sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas diri dan kehidupan keluarga.

Selanjutnya, pembacaan doa dipimpin oleh Saiful Akhyar, S.HI., sebelum kegiatan memasuki acara inti. Dalam penyampaian materinya, Khoiruz Zaman mengangkat pembahasan mengenai lima perkara yang menjadi kunci kebahagiaan dunia dan akhirat sebagaimana dinukil dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani. Ia menjelaskan bahwa lima perkara tersebut mengajarkan seorang mukmin untuk senantiasa mengingat Allah dalam berbagai keadaan, baik ketika memperoleh kebahagiaan maupun saat menghadapi kesulitan. “Kebahagiaan seorang mukmin berawal dari hati yang selalu mengingat Allah SWT. Dalam keadaan apa pun, baik ketika mendapatkan nikmat, menghadapi musibah, memulai pekerjaan, maupun saat menyadari kesalahan, hendaknya kita selalu mengembalikan segala urusan kepada Allah,” jelasnya.

Ia kemudian menguraikan lima sikap yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, senantiasa mengingat dan mengikrarkan kalimat tauhid sebagai bentuk penguatan keimanan. Kedua, ketika ditimpa musibah, seorang mukmin hendaknya mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un serta La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim sebagai ungkapan kepasrahan dan keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT. Ketiga, ketika memperoleh nikmat, hendaknya membiasakan diri mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin sebagai wujud rasa syukur. Keempat, setiap memulai pekerjaan hendaknya membaca Bismillahirrahmanirrahim agar aktivitas yang dilakukan senantiasa diawali dengan mengingat Allah. Kelima, apabila terlanjur melakukan dosa atau kesalahan, hendaknya segera memohon ampun dengan membaca Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih serta bertekad memperbaiki diri.

Menurut Khoiruz, kelima perkara tersebut merupakan pengingat bahwa kehidupan seorang muslim harus senantiasa dilandasi keimanan, kesabaran, rasa syukur, dan kesadaran untuk bertaubat. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak dapat mengukur kebahagiaan hanya dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, ataupun kemewahan yang dimiliki. “Orang yang bahagia bukan berarti tidak pernah menghadapi ujian. Namun, ketika diuji ia mampu bersabar, ketika mendapatkan nikmat ia bersyukur, ketika memulai pekerjaan ia mengingat Allah, dan ketika melakukan kesalahan ia segera bertaubat. Inilah sikap yang perlu kita tanamkan agar hati senantiasa tenteram,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, kesalahan hendaknya tidak menjadi alasan untuk menjauh dari Allah SWT, melainkan menjadi kesempatan untuk menyadari kekurangan, memohon ampun, dan memperbaiki diri. Ia juga mengajak para jamaah, khususnya kaum ibu, untuk menjadikan lima perkara tersebut sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. “Mari kita mulai dari diri sendiri dan keluarga. Biasakan mengucapkan kalimat-kalimat yang mengingatkan kita kepada Allah, tanamkan rasa syukur, ajarkan kesabaran, dan jangan menunda taubat. Insyaallah, kebiasaan baik tersebut akan membawa keberkahan dan ketenteraman dalam rumah tangga,” pesannya.

Pengajian berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan. Melalui kegiatan tersebut, para jamaah diharapkan tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan keagamaan, tetapi juga terdorong untuk mengamalkan nilai-nilai yang disampaikan dalam kehidupan nyata. PAI KUA Kecamatan Medan Denai terus berkomitmen menghadirkan bimbingan dan penyuluhan keagamaan di tengah masyarakat melalui kegiatan majelis taklim dan pembinaan umat. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat keimanan, membangun keluarga yang religius, serta mendorong terwujudnya masyarakat yang taat kepada Allah SWT, menghormati sesama, dan menaati ketentuan yang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *