H. Impun Siregar Kakan Kemenag Medan: Manasik Haji Anak Tanamkan Nilai Ibadah dan Karakter Sejak Dini

Medan (Humas) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Dr. H. Impun Siregar, MA, membuka Peragaan Manasik Haji Anak dan Ibu yang diselenggarakan Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (IGTKQ-TPQ) se-Kota Medan di Asrama Haji Medan, Senin (21/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenal rangkaian ibadah haji sekaligus menanamkan nilai-nilai keagamaan melalui pengalaman praktik secara langsung.

Turut hadir Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kemenag Medan, H. Ahmad Faisal Nasution, M.HI., beserta jajaran. Kehadiran para guru, orang tua, dan peserta menjadikan kegiatan berlangsung semarak serta penuh antusias. Anak-anak mengikuti setiap tahapan peragaan dengan didampingi guru dan orang tua sehingga kegiatan tidak hanya menjadi pembelajaran tentang ibadah, tetapi juga menjadi pengalaman yang menyenangkan dan berkesan.

Dalam sambutannya, Kakan Kemenag Medan H. Impun Siregar menyampaikan apresiasi kepada IGTKQ-TPQ se-Kota Medan yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, pengenalan manasik haji kepada anak-anak sejak usia dini merupakan salah satu bentuk pendidikan agama yang dapat memberikan pengalaman konkret mengenai pelaksanaan ibadah. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak dapat mengenal nilai-nilai ibadah sekaligus belajar tentang kedisiplinan, ketertiban, kesabaran, dan kebersamaan.

“Peragaan manasik haji ini bukan hanya tentang mengenalkan urutan pelaksanaan ibadah haji kepada anak-anak. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari pendidikan agama untuk menanamkan kecintaan kepada ibadah dan membentuk karakter anak sejak dini,” ujar Impun.

Kakan menjelaskan, pendidikan agama akan lebih mudah diterima anak apabila diberikan melalui metode yang sesuai dengan usia dan dunia mereka. Anak-anak tidak hanya membutuhkan penjelasan secara teori, tetapi juga membutuhkan pengalaman yang dapat membantu mereka memahami materi secara lebih nyata. Karena itu, kegiatan manasik menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pembelajaran agama dalam bentuk praktik yang menarik.

“Anak-anak akan lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka melihat dan mempraktikkannya secara langsung. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus dikembangkan agar pembelajaran agama tidak hanya didengar, tetapi juga dialami oleh anak-anak melalui kegiatan yang edukatif dan menyenangkan,” katanya.

Lebih lanjut, Impun menekankan bahwa pendidikan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan. Peran guru dan orang tua perlu berjalan bersama dalam membentuk kebiasaan dan karakter keagamaan anak. Nilai-nilai yang diperkenalkan dalam kegiatan manasik diharapkan dapat dilanjutkan melalui pembiasaan sederhana di lingkungan keluarga maupun lembaga pendidikan.

“Guru dan orang tua memiliki peran yang sama-sama penting dalam pendidikan anak. Apa yang sudah diperkenalkan melalui kegiatan seperti ini hendaknya dapat dilanjutkan dengan pembiasaan di rumah dan di lingkungan pendidikan, sehingga nilai-nilai agama semakin melekat dalam kehidupan anak,” ungkapnya.

Kakan juga mengajak para guru IGTKQ-TPQ untuk terus menghadirkan inovasi dalam pembelajaran keagamaan. Menurutnya, kreativitas dalam menyampaikan materi akan membantu anak-anak mengenal ajaran agama dengan suasana yang lebih menyenangkan tanpa mengurangi substansi pembelajaran. Kegiatan keagamaan yang melibatkan anak secara aktif juga dapat menjadi ruang untuk membangun rasa percaya diri, kebersamaan, dan kecintaan terhadap ajaran Islam.

“Yang kita tanamkan hari ini mungkin belum semuanya terlihat hasilnya, tetapi pembiasaan yang dilakukan sejak dini akan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter anak. Mari kita berikan mereka pengalaman keagamaan yang baik agar tumbuh menjadi generasi yang mengenal, mencintai, dan mengamalkan ajaran agama,” tutur Impun.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi keterlibatan para orang tua yang mendampingi anak-anak mengikuti peragaan manasik. Menurutnya, kehadiran orang tua memberikan dukungan emosional sekaligus memperkuat hubungan antara pembelajaran agama dengan kehidupan keluarga. Sinergi tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak, khususnya dalam aspek pendidikan dan pembentukan karakter keagamaan.

Sementara itu, Peragaan Manasik Haji Anak dan Ibu berlangsung dengan memperagakan sejumlah tahapan ibadah haji yang disesuaikan dengan usia peserta. Anak-anak mengikuti kegiatan dengan mengenakan pakaian ihram dan perlengkapan yang telah disiapkan, kemudian mengikuti arahan guru dalam setiap rangkaian kegiatan. Suasana semakin semarak dengan antusiasme peserta yang mengikuti kegiatan bersama orang tua dan para pendamping.

Melalui kegiatan tersebut, IGTKQ-TPQ se-Kota Medan tidak hanya memperkenalkan tata cara ibadah haji kepada anak-anak, tetapi juga menghadirkan pembelajaran yang mengandung nilai pendidikan karakter. Peragaan manasik diharapkan menjadi pengalaman positif yang dapat menumbuhkan kecintaan anak terhadap ibadah serta membiasakan mereka mengenal nilai kesabaran, kedisiplinan, kebersamaan, dan kepatuhan terhadap tuntunan agama.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk sinergi antara guru, orang tua, dan Kementerian Agama dalam mendukung pendidikan keagamaan sejak usia dini. Dengan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan dan melalui metode yang sesuai dengan perkembangan anak, diharapkan generasi muda Kota Medan tumbuh dengan fondasi keagamaan yang kuat serta memiliki karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *