Medan (Humas) — Menguatkan pemahaman keagamaan sekaligus membangun kesadaran untuk menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari menjadi perhatian Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai. Melalui kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh), PAI KUA Medan Denai mengajak jamaah Majelis Taklim Ummahat Aceh Sepakat untuk menjauhi lima sifat tercela yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (3/11/2026), mulai ba’da Zuhur hingga menjelang salat Asar berjamaah, bertempat di Meunasah Aceh Sepakat, Jalan Denai, Tuba I, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan. Kegiatan dibuka oleh Ketua Majelis Taklim Ummahat Aceh Sepakat, Hj. Marianiy, yang menyambut baik kehadiran penyuluh agama dari PAI KUA Medan Denai.
Dalam penyuluhan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., S.Pd.I., menyampaikan materi tentang lima sifat tercela yang harus dihindari setiap muslim, yakni mengingkari janji (an-nakts), melakukan tipu daya (al-makr), melampaui batas atau berbuat aniaya (al-baghyu), melakukan penipuan (al-khida’), dan berbuat zalim (azh-zhulm).
Mengawali penyampaiannya, Khoiruz mengajak jamaah memahami bahwa keburukan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain pada hakikatnya dapat berbalik menjadi kerugian bagi dirinya sendiri. Seseorang mungkin merasa memperoleh keuntungan ketika mengingkari janji, menipu, atau merugikan orang lain. Namun, perbuatan tersebut sesungguhnya dapat merusak kehormatan, menghilangkan kepercayaan, serta menghancurkan hubungan baik yang telah dibangun.
“Jangan sampai kita tidak suka dibohongi, tetapi kita sendiri berbohong. Kita tidak suka dikhianati, tetapi kita mengingkari janji. Kita tidak mau dizalimi, tetapi tanpa sadar kita justru mengambil hak orang lain. Sebelum menuntut orang lain berbuat baik kepada kita, terlebih dahulu mari kita memperbaiki perilaku kita terhadap sesama,” ungkap Khoiruz di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mengingkari janji merupakan perbuatan yang dapat menghilangkan kepercayaan. Sementara itu, tipu daya dan penipuan mungkin mendatangkan keuntungan sesaat, tetapi pada akhirnya dapat menghancurkan nama baik dan kehidupan pelakunya sendiri. Ia juga mengingatkan bahwa kekuasaan, jabatan, kekayaan, dan kedudukan bukanlah alasan bagi seseorang untuk bertindak sewenang-wenang. Semua itu merupakan amanah Allah SWT yang harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk menindas atau mengambil hak orang lain.
Dalam pembahasan mengenai kezaliman, Khoiruz menegaskan bahwa perbuatan zalim tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga mencakup tindakan mengambil harta orang lain, menahan hak warisan, memfitnah, merusak kehormatan, tidak memenuhi hak keluarga, serta menyalahgunakan jabatan dan kewenangan. Untuk memperkuat materi, ia mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya Surah Al-Fath ayat 10 yang mengingatkan bahwa orang yang mengingkari janji sesungguhnya merugikan dirinya sendiri, serta Surah Fatir ayat 43 yang menjelaskan bahwa rencana jahat pada akhirnya akan menimpa orang yang merencanakannya.
Khoiruz turut mengingatkan jamaah tentang beratnya pertanggungjawaban atas setiap perbuatan zalim. Dengan mengutip hadis Rasulullah SAW riwayat Muslim, ia menyampaikan bahwa kezaliman akan menjadi kegelapan pada hari kiamat. Pesan tersebut diharapkan dapat mendorong jamaah untuk senantiasa menjaga hak orang lain, menepati janji, serta menghindari segala bentuk perbuatan yang merugikan sesama.
Suasana penyuluhan berlangsung hangat dan interaktif. Para jamaah tidak hanya mendengarkan tausyiah, tetapi juga diajak menghubungkan materi dengan berbagai persoalan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam menjalankan amanah dan pekerjaan. Melalui dialog tersebut, jamaah diajak melakukan introspeksi diri agar tidak mudah mencari kesalahan orang lain, tetapi lebih dahulu berani memeriksa dan memperbaiki kekurangan diri sendiri.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Penyuluh Agama Islam KUA Medan Denai, Saiful Akhyar, S.H.I. Selanjutnya, jamaah melaksanakan salat Asar secara berjamaah.
Melalui kegiatan Bimluh ini, PAI KUA Medan Denai berharap Majelis Taklim Ummahat Aceh Sepakat semakin aktif menjadi wadah pembinaan keagamaan, penguatan ukhuwah Islamiyah, serta pembentukan akhlakul karimah di tengah masyarakat.

