Medan (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat perannya dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Melalui program Bimbingan Rohani (Bimroh), KUA Medan Amplas berkomitmen memberikan pendampingan spiritual kepada pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit, sekaligus menghadirkan ketenangan batin bagi keluarga yang mendampingi.
Pelaksanaan program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar senantiasa memberikan pelayanan yang profesional, humanis, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pelayanan keagamaan tidak hanya dilakukan di masjid atau majelis taklim, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat yang sedang menghadapi berbagai ujian kehidupan, termasuk saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Menindaklanjuti arahan tersebut, pada Selasa (21/7/2026), Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, Nurbaiti Lubis, melaksanakan kegiatan Bimbingan Rohani di Rumah Sakit Mitra Sejati. Pendampingan dilakukan di ruang Intensive Care Unit (ICU) lantai 2 dan lantai 3 dengan mengunjungi pasien yang sedang menjalani perawatan intensif serta memberikan penguatan spiritual kepada keluarga yang setia mendampingi.
Dalam kegiatan tersebut, penyuluh Nurbaiti menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menumbuhkan semangat, kesabaran, dan optimisme. Keluarga pasien diajak memanfaatkan waktu kunjungan untuk memberikan dukungan moral, menguatkan mental pasien, serta terus mengiringi ikhtiar pengobatan dengan doa. Mereka juga diingatkan agar tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dan senantiasa meyakini bahwa setiap ujian yang diberikan mengandung hikmah dan menjadi jalan untuk meningkatkan keimanan.
Kepada para pasien, penyuluh memberikan motivasi agar tetap bersabar, memperbanyak doa, dan bertawakal setelah menempuh berbagai upaya medis. Pasien juga diajak untuk selalu berhusnuzan kepada Allah SWT serta menjadikan sakit sebagai momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Selain itu, penyuluh mengingatkan bahwa kesembuhan merupakan anugerah Allah SWT yang harus terus diupayakan melalui ikhtiar lahir maupun batin.
Selain memberikan motivasi spiritual, penyuluh Nurbaiti turut membimbing pasien terkait pelaksanaan ibadah selama masa perawatan. Dijelaskan bahwa Islam memberikan berbagai kemudahan bagi orang yang sedang sakit, termasuk dalam pelaksanaan salat sesuai kemampuan. Bagi pasien yang secara medis tidak diperkenankan menggunakan air, penyuluh menjelaskan tata cara bertayammum sebagai pengganti wudu sehingga ibadah tetap dapat dilaksanakan tanpa mengganggu proses penyembuhan.
Selama proses pendampingan, Nurbaiti Lubis berinteraksi secara personal dengan pasien maupun keluarga. Ia mendengarkan keluh kesah mereka, memberikan motivasi agar tetap tegar menghadapi ujian, serta mengajak mereka memperbanyak zikir, istigfar, dan doa sebagai ikhtiar spiritual yang menyertai proses pengobatan medis. Suasana yang semula dipenuhi kecemasan perlahan berubah menjadi lebih tenang ketika penyuluh mengajak pasien dan keluarga memandang sakit sebagai ujian sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menurut Nurbaiti Lubis, kehadiran penyuluh agama di rumah sakit bukan sekadar menyampaikan nasihat keagamaan, tetapi juga menjadi sahabat spiritual yang memberikan harapan dan ketenangan bagi pasien maupun keluarga.
“Sering kali pasien dan keluarganya membutuhkan seseorang yang dapat menguatkan hati mereka. Melalui bimbingan rohani, kami berusaha menghadirkan ketenangan, menumbuhkan harapan, serta mengingatkan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya dan setiap ujian akan terasa lebih ringan jika dihadapi dengan kesabaran, doa, dan tawakal kepada Allah SWT,” ujar Nurbaiti.
Ia menambahkan bahwa penguatan spiritual merupakan bagian penting dalam proses penyembuhan. Ketika hati menjadi tenang dan keyakinan kepada Allah SWT semakin kuat, pasien akan memiliki semangat yang lebih besar untuk mengikuti setiap tahapan pengobatan serta menjalani kehidupan dengan penuh optimisme.
Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan mengatakan bahwa pelayanan Bimbingan Rohani merupakan bagian dari tanggung jawab Kementerian Agama dalam memberikan layanan keagamaan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, kehadiran penyuluh agama di rumah sakit menjadi wujud nyata kepedulian negara terhadap kebutuhan spiritual masyarakat yang sedang menghadapi masa-masa sulit.
“Pasien yang sedang menjalani perawatan bukan hanya membutuhkan pengobatan secara medis, tetapi juga membutuhkan kekuatan batin agar tetap optimis dan memiliki semangat untuk sembuh. Karena itu, kami terus mendorong para penyuluh agar hadir memberikan pendampingan spiritual yang menenangkan, menguatkan, sekaligus membangkitkan harapan bagi pasien maupun keluarganya,” ujar Lukman Hakim.
Ia menambahkan bahwa pelayanan Bimbingan Rohani merupakan implementasi dari nilai-nilai pelayanan Kementerian Agama yang mengedepankan kepedulian, empati, dan kemaslahatan umat. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan masyarakat dapat merasakan bahwa KUA tidak hanya memberikan layanan administrasi keagamaan, tetapi juga hadir sebagai sahabat dan pendamping dalam berbagai fase kehidupan.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai pelaksanaan Bimbingan Rohani di RS Mitra Sejati. Pasien maupun keluarga menyambut baik kehadiran penyuluh agama yang memberikan motivasi, nasihat keagamaan, serta doa bersama untuk kesembuhan. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa memohon kepada Allah SWT agar para pasien segera diangkat penyakitnya, diberikan kesembuhan yang sempurna, kekuatan lahir dan batin, serta keluarga yang mendampingi senantiasa diberi kesabaran, ketabahan, dan keberkahan.
Melalui program Bimbingan Rohani yang dilaksanakan secara berkelanjutan, KUA Kecamatan Medan Amplas kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan keagamaan yang inklusif, humanis, dan berdampak. Kehadiran penyuluh agama di rumah sakit menjadi bukti bahwa pelayanan Kementerian Agama tidak hanya hadir di ruang-ruang ibadah, tetapi juga menyapa masyarakat di saat mereka paling membutuhkan penguatan spiritual, sehingga nilai-nilai agama dapat menjadi sumber ketenangan, harapan, dan kekuatan dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.

