Medan (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas terus memperkuat peran penyuluhan keagamaan sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang berilmu, berakidah lurus, dan memiliki pemahaman keagamaan yang moderat. Komitmen tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., kepada seluruh Penyuluh Agama Islam, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar senantiasa menghadirkan pelayanan dan bimbingan keagamaan yang prima, solutif, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebagai implementasi dari arahan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, Dr. Syarto, Lc., M.A., melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim Amal Sholeh, Jalan Selamat Ujung, Kelurahan Sitirejo III, Kecamatan Medan Amplas, pada Ahad (2/8/2026). Kegiatan yang diikuti pengurus dan puluhan anggota majelis taklim itu mengangkat tema “Memurnikan Tauhid dari Mitos, Khurafat, Tahayul, dan Anggapan Sial.”
Dalam kajian tersebut, Dr. Syarto menjelaskan bahwa menjelang datangnya bulan Safar masih terdapat sebagian masyarakat yang meyakini adanya hari-hari tertentu yang dianggap membawa kesialan. Akibat keyakinan tersebut, tidak sedikit yang menunda hajatan, mengurungkan perjalanan, bahkan menangguhkan memulai usaha karena khawatir akan tertimpa musibah.
Menurutnya, anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam, melainkan merupakan tradisi masyarakat jahiliah yang telah diluruskan oleh Rasulullah SAW. Ia mengutip hadis sahih riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim yang menyatakan bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar, sekaligus menegaskan bahwa seorang muslim tidak boleh meyakini adanya waktu, benda, atau makhluk yang dapat mendatangkan manfaat maupun mudarat secara mandiri selain atas kehendak Allah SWT.
“Islam mengajarkan kita untuk bertauhid secara sempurna. Seorang muslim boleh berikhtiar, menjaga kesehatan, dan melakukan berbagai upaya yang dibenarkan syariat. Namun, tidak boleh meyakini bahwa bulan, hari, angka, atau benda tertentu memiliki kekuatan membawa keberuntungan ataupun kesialan. Semua yang terjadi berada dalam kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” jelas Dr. Syarto.
Ia menambahkan bahwa hadis Rasulullah SAW tersebut bukan berarti Islam menolak hukum sebab-akibat (sunnatullah), melainkan meluruskan keyakinan yang menyimpang. Ikhtiar tetap menjadi bagian dari ajaran Islam, namun hasil akhirnya tetap berada di bawah ketetapan Allah SWT.
Dalam pemaparannya, Dr. Syarto juga mengaitkan materi dengan firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syura ayat 11 yang menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Selain itu, kandungan Surah Al-Ikhlas juga menjadi penguat bahwa hanya Allah SWT tempat bergantung dan memohon pertolongan.
“Kalimat Lā ilāha illallāh bukan sekadar diucapkan, tetapi harus tercermin dalam pola pikir dan perilaku. Orang yang bertauhid tidak akan menggantungkan nasib kepada ramalan, mitos, angka tertentu, ataupun anggapan sial terhadap waktu dan tempat. Ia akan mengedepankan ilmu, ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT,” ungkapnya.
Kajian berlangsung dalam suasana interaktif. Para jamaah memanfaatkan sesi dialog untuk mengajukan berbagai pertanyaan seputar tradisi yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk berbagai pantangan yang sering dikaitkan dengan bulan Safar. Seluruh pertanyaan dijawab berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadis sahih, serta penjelasan para ulama sehingga memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta.
Pengurus Majelis Taklim Amal Sholeh menyampaikan apresiasi atas materi yang disampaikan karena dinilai sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Mereka berharap pembinaan akidah seperti ini dapat terus dilaksanakan agar masyarakat semakin memahami ajaran Islam secara benar dan terhindar dari praktik tahayul, khurafat, maupun keyakinan yang dapat mencederai kemurnian tauhid.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi keagamaan yang mampu menjawab berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
“Kami terus mendorong para penyuluh untuk menghadirkan materi-materi yang kontekstual dan menjawab persoalan umat berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Pembinaan akidah menjadi fondasi penting agar masyarakat memiliki pemahaman agama yang benar, tidak mudah terpengaruh oleh mitos, serta mampu mengamalkan ajaran Islam secara utuh dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan ditutup dengan doa bersama. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, KUA Kecamatan Medan Amplas berkomitmen untuk terus menghadirkan edukasi keagamaan yang mencerahkan, memperkokoh akidah umat, serta mewujudkan masyarakat yang religius, moderat, dan berlandaskan Al-Qur’an serta Sunnah Rasulullah SAW.

