Penyuluh Agama Kristen KUA Medan Sunggal Perkuat Kehidupan Rohani Warga Binaan Lapas Perempuan

Medan (Humas) – Penyuluh Agama Kristen KUA Medan Sunggal memberikan bimbingan kerohanian (Bimroh) kepada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Medan, yang berada di Jalan Pemasyarakatan, Kelurahan Tanjung Gusta, Kota Medan, Rabu, 2 September 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh penyuluh agama Kristen Mahla Tarigan, Asima Manik, dan Sindar Purba. Kehadiran para penyuluh bertujuan memberikan penguatan rohani serta motivasi kepada warga binaan agar tetap kuat, sabar, dan memiliki pengharapan dalam menjalani masa hukuman.

Kegiatan diawali Mahla Tarigan dengan memandu rangkaian acara melalui puji-pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Warga binaan diajak menyanyikan lagu-lagu gereja yang menyentuh hati sekaligus memberikan suasana penghiburan. Melalui puji-pujian tersebut, para warga binaan diharapkan dapat semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperoleh kekuatan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan selama menjalani masa pembinaan.

Selanjutnya, Sindar Purba menyampaikan pesan rohani tentang bagaimana menjalani hukuman maupun penderitaan dengan penuh kesabaran dan keteguhan iman. Menurutnya, hukuman akibat kesalahan maupun penderitaan sebagai ujian kehidupan dapat dipandang sebagai proses pendewasaan iman, pembentukan karakter, serta bagian dari proses belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. “Kita harus kuat menjalani hukuman. Dalam iman Kristen, kita diajarkan untuk mengakui kesalahan dan menerima konsekuensinya dengan pertobatan yang tulus kepada Tuhan,” ujar Sindar Purba.

Sindar Purba juga mengingatkan warga binaan untuk menerima proses hukum yang sedang dijalani dengan sikap bertanggung jawab. Ia menjelaskan bahwa Alkitab mengajarkan umat untuk tunduk kepada pemerintah dan hukum yang berlaku sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Prinsip tersebut antara lain terdapat dalam Roma 13:1-4. “Menerima konsekuensi dari kesalahan bukan berarti kehilangan harapan. Justru masa pembinaan ini dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Asima Manik menyampaikan bahwa hukuman dan teguran dapat dimaknai sebagai bentuk didikan kasih Tuhan, bukan semata-mata untuk membinasakan manusia. Menurutnya, Tuhan mengizinkan teguran agar manusia menyadari kesalahan dan kembali ke jalan yang benar. “Hukuman adalah bentuk didikan kasih, bukan untuk membinasakan. Tuhan mengizinkan hukuman atau teguran bukan karena Dia membenci, melainkan karena Dia mengasihi dan ingin kita kembali ke jalan yang benar,” ujar Asima Manik. Pesan tersebut sejalan dengan firman Tuhan dalam Ibrani 12:6: “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diterima-Nya sebagai anak.”

Melalui kegiatan Bimroh tersebut, Penyuluh Agama Kristen KUA Medan Sunggal berharap warga binaan tidak larut dalam penyesalan, tetapi mampu menjadikan masa hukuman sebagai momentum introspeksi, pertobatan, dan pembentukan karakter. Penguatan kehidupan rohani diharapkan dapat menumbuhkan kesabaran, keteguhan iman, serta harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Masa pembinaan bukan akhir dari kehidupan, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mempersiapkan diri kembali menjadi pribadi yang lebih baik di tengah keluarga dan masyarakat.(Paidi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *