Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Zetra Hail Saragih, Marulam Nainggolan, dan Demaran Sigiro, bersama Penyuluh Agama Kristen Maruli Siburian, S.Th., Tiurma Butar Butar, S.Th., Natalina Hutagalung, S.PAK., dan Torang Berutu, kembali melaksanakan penyuluhan keagamaan kepada para lanjut usia (lansia) di Yayasan Guna Budi Bakti, Jalan KL. Yos Sudarso No. 16, Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelayanan Kementerian Agama Kota Medan melalui penyuluh agama dalam memberikan pendampingan rohani kepada masyarakat, khususnya para lansia yang membutuhkan penguatan iman, perhatian, dan penghiburan. Kehadiran para penyuluh juga menjadi bentuk kepedulian agar para lansia tetap memperoleh ruang untuk bertumbuh dalam iman serta merasakan kebersamaan di tengah kehidupan mereka.
Kegiatan penyuluhan dikemas dalam bentuk ibadah bersama yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan keakraban. Ibadah diisi dengan doa, renungan, serta pendampingan rohani yang disampaikan secara sederhana dan dekat dengan pengalaman kehidupan para lansia. Dalam kesempatan tersebut, Zetra Hail Saragih menyampaikan renungan berdasarkan Injil Matius 20:1-16a dengan tema “Kedaulatan Kasih Karunia dan Nilai Hidup di Masa Tua.” Pesan yang disampaikan mengajak para lansia untuk melihat masa tua bukan sebagai masa yang kehilangan makna, melainkan sebagai bagian kehidupan yang tetap berada dalam kasih dan penyertaan Tuhan.
Dalam renungannya, Zetra menjelaskan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur yang menggambarkan kemurahan dan kedaulatan kasih karunia Allah. Menurutnya, manusia tidak dapat mengukur kasih Tuhan hanya berdasarkan lamanya seseorang menjalani kehidupan atau banyaknya hal yang telah dilakukan, sebab kasih karunia diberikan berdasarkan kemurahan hati Allah. Karena itu, para lansia diajak untuk tidak membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain, tetapi menerima setiap tahap kehidupan sebagai anugerah yang patut disyukuri. “Masa tua bukanlah akhir dari panggilan hidup, melainkan kesempatan untuk semakin merasakan kasih karunia Tuhan, berbagi pengalaman iman, dan menjadi berkat bagi sesama,” ungkap Zetra.
Lebih lanjut, Zetra mengajak para lansia untuk tetap memiliki pengharapan dan tidak memandang keterbatasan fisik sebagai penghalang untuk terus melakukan kebaikan. Menurutnya, pengalaman hidup yang panjang telah membentuk para lansia menjadi pribadi yang memiliki banyak pelajaran berharga, sehingga pengalaman tersebut dapat diwariskan kepada generasi berikutnya melalui nasihat, keteladanan, dan kehidupan yang penuh kasih. “Setiap perjalanan hidup memiliki makna di hadapan Tuhan. Karena itu, jangan merasa bahwa usia yang semakin bertambah membuat kita tidak lagi berguna. Justru melalui pengalaman dan keteladanan, kita masih dapat menjadi berkat bagi orang lain,” tutur Zetra.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kehidupan yang dipenuhi rasa syukur, terutama ketika menghadapi berbagai perubahan yang datang seiring bertambahnya usia. Menurut Zetra, rasa syukur dapat membantu seseorang melihat kebaikan Tuhan dalam setiap keadaan, termasuk ketika menghadapi keterbatasan dan tantangan kehidupan. “Kita mungkin tidak dapat mengubah keadaan yang sudah terjadi, tetapi kita dapat memilih bagaimana menjalani hari-hari yang Tuhan berikan. Jalani dengan iman, syukur, dan pengharapan, karena Tuhan senantiasa menyertai umat-Nya,” katanya. Pesan tersebut disampaikan sebagai penguatan agar para lansia tetap memiliki semangat untuk menjalani kehidupan dengan hati yang damai.
Selain menyampaikan renungan, para penyuluh juga memberikan pendampingan secara langsung kepada para lansia melalui interaksi dan kebersamaan selama kegiatan berlangsung. Pendampingan tersebut menjadi kesempatan untuk mendengarkan pengalaman serta memberikan perhatian kepada para peserta, sehingga pelayanan tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi keagamaan. “Pelayanan kepada lansia bukan hanya tentang menyampaikan firman atau materi keagamaan, tetapi juga tentang hadir, mendengarkan, dan memberikan perhatian. Kehadiran kita di tengah mereka diharapkan dapat membuat mereka merasa tidak sendiri dan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama,” ujar Zetra.
Ibadah diawali dengan doa yang dibawakan oleh Marulam Nainggolan dan dilanjutkan dengan renungan serta pendampingan rohani. Para Penyuluh Agama Katolik dan Kristen hadir bersama memberikan pelayanan keagamaan dengan semangat kebersamaan, sekaligus membangun komunikasi yang lebih dekat dengan para lansia. Suasana ibadah berlangsung hangat dan penuh sukacita, dengan para lansia mengikuti setiap rangkaian kegiatan secara khidmat. Kebersamaan tersebut diharapkan menjadi sumber kekuatan bagi para peserta untuk terus memelihara iman dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pelayanan penyuluh agama tidak hanya berfokus pada pembinaan umat dalam kelompok usia produktif, tetapi juga menjangkau masyarakat lanjut usia yang membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan. Para penyuluh berupaya menghadirkan pelayanan yang menyentuh aspek spiritual sekaligus kemanusiaan, sehingga para lansia dapat merasakan perhatian dan kepedulian secara nyata. “Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu kali pertemuan. Pendampingan yang berkelanjutan sangat penting agar para lansia terus mendapatkan penguatan iman, penghiburan, dan semangat dalam menjalani kehidupan,” ungkap Zetra.
Melalui kegiatan tersebut, para Penyuluh Agama Katolik dan Kristen Kementerian Agama Kota Medan berharap para lansia semakin menyadari bahwa kehidupan mereka tetap memiliki nilai dan tujuan di hadapan Tuhan. Penguatan iman diharapkan mampu menumbuhkan keteguhan hati, rasa syukur, dan pengharapan sehingga para lansia dapat menjalani masa tua dengan lebih tenang, bermakna, dan penuh sukacita. Kehadiran penyuluh agama di tengah para lansia juga diharapkan terus menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian, kebersamaan, serta pelayanan keagamaan yang humanis. Dengan iman yang terpelihara dan dukungan dari lingkungan sekitar, para lansia diharapkan tetap mampu menjalani setiap hari sebagai anugerah sekaligus kesempatan untuk terus menjadi berkat bagi sesama.

