Medan (Humas) — Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Ari Suryana, memberikan bimbingan pra perkawinan bagi remaja usia sekolah di Cetiya Aryavamsa, Kota Medan, Minggu (23/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan generasi muda Buddhis agar memiliki pemahaman yang baik mengenai kehidupan berkeluarga sekaligus mampu mempersiapkan masa depan secara matang dan bertanggung jawab. Bimbingan ini juga menjadi ruang edukasi untuk membekali remaja dengan pemahaman mengenai pentingnya membangun kualitas diri sebelum memasuki kehidupan dewasa.
Dalam pembinaan tersebut, Ari mengajak para remaja memahami bahwa kehidupan berumah tangga membutuhkan kesiapan yang lebih luas daripada sekadar usia yang cukup. Kesiapan tersebut meliputi kematangan karakter, mental, emosional, spiritual, moralitas, serta kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil. Menurutnya, membangun keluarga yang harmonis perlu diawali dengan pembentukan pribadi yang memiliki nilai-nilai positif dan mampu mengendalikan diri.
“Keluarga yang baik dibangun oleh individu yang baik. Karena itu, persiapan menuju kehidupan berkeluarga harus dimulai dari sekarang dengan membentuk karakter, memperkuat moralitas, meningkatkan pengetahuan, dan belajar bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kita ambil,” ujar Ari Suryana.
Lebih lanjut, Ari memberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun hubungan yang sehat, menghargai diri sendiri maupun orang lain, serta menjaga pergaulan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Remaja juga diajak untuk memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi sehingga perlu dipertimbangkan secara matang dan tidak dilakukan hanya berdasarkan dorongan sesaat. Menurutnya, masa remaja merupakan periode penting untuk membangun fondasi kepribadian sebelum mengambil keputusan besar dalam kehidupan.
Ari juga mendorong para peserta untuk memanfaatkan masa sekolah dengan sebaik-baiknya melalui pendidikan, pengembangan keterampilan, pencapaian cita-cita, serta penggalian potensi diri. Pendidikan dan keterampilan, menurutnya, akan menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan. Karena itu, remaja tidak perlu terburu-buru memasuki kehidupan berkeluarga sebelum memiliki kesiapan yang memadai.
“Gunakan masa muda untuk belajar dan mengembangkan diri. Pendidikan, keterampilan, cita-cita, dan pengalaman akan menjadi bekal penting ketika nanti memasuki kehidupan dewasa. Semakin baik kita mempersiapkan diri, semakin matang pula kita dalam menentukan pilihan hidup,” jelasnya.
Dalam perspektif Buddhadhamma, Ari menjelaskan bahwa kehidupan keluarga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan berbagai kebajikan, seperti cinta kasih, kesabaran, pengendalian diri, kejujuran, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Nilai-nilai tersebut perlu mulai dilatih sejak usia muda sehingga menjadi bagian dari karakter ketika seseorang kelak menjalani kehidupan berumah tangga.
“Karena itu, sebelum berpikir tentang menjadi pasangan hidup bagi orang lain, remaja perlu belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mampu mengendalikan diri, memiliki moralitas, dan memahami nilai-nilai Dhamma. Kualitas pribadi inilah yang nantinya menjadi dasar dalam membangun hubungan dan keluarga yang baik,” tambah Ari.
Bimbingan pra perkawinan tersebut juga mengajak para peserta untuk memahami bahwa perkawinan bukan sekadar menyatukan dua individu, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab dalam membangun kehidupan bersama. Kehidupan berkeluarga membutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi, saling menghargai, menyelesaikan persoalan secara bijaksana, serta menjaga komitmen dalam menghadapi berbagai keadaan.
Ari berharap pembinaan tersebut dapat membantu para remaja memiliki perspektif yang lebih matang mengenai kehidupan keluarga dan masa depan. Menurutnya, pembinaan sejak usia sekolah penting dilakukan agar generasi muda memiliki pemahaman yang benar sebelum mengambil keputusan besar dalam kehidupannya.
“Yang kita bangun melalui bimbingan ini bukan hanya pengetahuan tentang perkawinan, tetapi kesadaran untuk mempersiapkan masa depan. Kita ingin generasi muda Buddhis tumbuh menjadi pribadi yang memiliki moralitas, bijaksana dalam mengambil keputusan, mampu menjaga diri, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan yang akan dijalaninya,” ungkapnya.
Kegiatan bimbingan berlangsung sebagai bagian dari pembinaan keagamaan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Melalui pendekatan yang edukatif, para remaja diarahkan untuk melihat kehidupan berkeluarga sebagai sesuatu yang perlu dipersiapkan secara serius, dengan mengutamakan kematangan pribadi, pendidikan, moralitas, dan penghayatan nilai-nilai Dhamma.
Melalui kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Medan terus berupaya memberikan bimbingan keagamaan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, khususnya pembinaan karakter generasi muda. Dengan penguatan nilai-nilai Dhamma sejak dini, para remaja diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang matang, berkarakter, memiliki kebijaksanaan dalam menentukan pilihan, serta mampu menjalani kehidupan di masa depan dengan penuh tanggung jawab.

