Melalui Laudato Si’, Penyuluh Katolik Medan Ajak Umat Rawat Bumi sebagai Rumah Bersama 

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan, Roni Antonius Sitanggang, menyampaikan Katekese Lima Menit bertema “Bumi sebagai Rumah Bersama dalam Dokumen Laudato Si’” kepada umat Gereja Katolik Stasi St. Fransiskus Xaverius Sunggal, Minggu (23/8/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Gereja Katolik Stasi St. Fransiskus Xaverius Sunggal, Jalan Abadi No. 54, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, pada pukul 09.45 WIB. Katekese dilaksanakan sebagai bagian dari pembinaan iman umat sebelum Perayaan Ekaristi sekaligus menjadi momentum untuk mengajak umat merefleksikan tanggung jawab manusia terhadap kelestarian lingkungan.

Dalam penyampaiannya, Roni mengajak umat memahami bahwa bumi merupakan rumah bersama yang dianugerahkan Tuhan bagi seluruh manusia dan makhluk ciptaan-Nya. Manusia memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam karena kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan lingkungan. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber daya alam perlu disertai dengan tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melestarikan ciptaan agar tetap dapat dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Roni menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar persoalan sosial atau ekologis, tetapi juga merupakan bagian dari penghayatan iman Katolik. Menurutnya, cara manusia memperlakukan alam mencerminkan bagaimana manusia menghargai karya ciptaan Tuhan. Ketika umat menjaga kebersihan, mengurangi kerusakan lingkungan, dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana, pada saat yang sama umat sedang mewujudkan tanggung jawab iman dalam kehidupan sehari-hari.

“Merawat bumi adalah bagian dari iman kita. Ketika kita menjaga lingkungan, kita turut menghargai dan memelihara ciptaan Tuhan yang dipercayakan kepada manusia sebagai rumah bersama. Kepedulian itu harus terlihat dalam tindakan nyata, bukan hanya menjadi pengetahuan atau wacana,” ujar Roni.

Lebih lanjut, Roni menjelaskan bahwa semangat Laudato Si’ mengajak umat membangun pertobatan ekologis, yaitu perubahan cara pandang, sikap, dan perilaku dalam memperlakukan alam. Menurutnya, persoalan lingkungan tidak hanya berbicara mengenai kerusakan ekosistem, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Kerusakan alam, pencemaran, pemborosan sumber daya, dan perubahan lingkungan dapat memberikan dampak yang lebih berat kepada masyarakat yang berada dalam kondisi rentan.

“Pertobatan ekologis berarti kita berani mengubah kebiasaan yang selama ini dapat merusak lingkungan. Kita belajar hidup lebih sederhana, tidak berlebihan, menggunakan apa yang kita perlukan dengan bijaksana, dan memiliki kepedulian terhadap dampak dari setiap tindakan kita terhadap alam dan sesama,” jelasnya.

Dalam katekese tersebut, umat juga diajak melihat bahwa kepedulian terhadap bumi dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yakni keluarga. Kebiasaan sederhana seperti membuang dan memilah sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghemat air dan listrik, serta menjaga tanaman di sekitar rumah merupakan tindakan kecil yang memiliki makna besar apabila dilakukan secara konsisten. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter ekologis bagi anak-anak sejak dini.

Roni juga mengingatkan bahwa menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan bersama. Gereja, keluarga, komunitas umat, dan masyarakat perlu membangun kesadaran bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan perlu terus dikembangkan agar budaya menjaga keutuhan ciptaan dapat tumbuh dalam kehidupan bersama.

“Jangan menunggu melakukan sesuatu yang besar untuk mulai mencintai lingkungan. Kita bisa memulainya dari hal sederhana di rumah, di lingkungan gereja, dan di tengah masyarakat. Jika setiap orang melakukan bagian kecilnya dengan penuh tanggung jawab, maka akan terbentuk perubahan yang lebih besar bagi bumi sebagai rumah kita bersama,” tambah Roni.

Melalui Katekese Lima Menit tersebut, umat Stasi St. Fransiskus Xaverius Sunggal diharapkan semakin memahami bahwa panggilan untuk merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab iman dan kehidupan bersama. Umat tidak hanya diajak untuk memahami pesan Laudato Si’, tetapi juga menerapkannya melalui pola hidup yang sederhana, bijaksana, hemat, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan tugas Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kota Medan dalam menghadirkan pembinaan iman yang kontekstual dan relevan dengan persoalan kehidupan masyarakat. Pembinaan iman tidak hanya diarahkan pada penguatan kehidupan rohani, tetapi juga mendorong umat untuk memiliki kepedulian sosial dan ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan semakin tumbuhnya kesadaran ekologis di tengah umat, semangat Laudato Si’ diharapkan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menjaga keutuhan ciptaan. Pertumbuhan iman yang berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan akan membantu umat menjadi pribadi yang tidak hanya semakin dekat dengan Tuhan, tetapi juga semakin bertanggung jawab dalam merawat bumi dan menjaga kehidupan bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *