Penyuluh KUA Medan Denai Ingatkan Bahaya Ghibah dalam BIMLUH Majelis Taklim Nurul Huda

Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, S.H.I., melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (BIMLUH) di Majelis Taklim Nurul Huda, Gang Kumis, Jalan Denai, Kecamatan Medan Denai, Kamis (7/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut diikuti oleh jamaah majelis taklim dengan penuh antusias. Kehadiran penyuluh agama disambut baik oleh masyarakat sebagai bagian dari upaya pembinaan keagamaan dan penguatan akhlak di tengah kehidupan sosial masyarakat.

Acara dibuka oleh Ketua Majelis Taklim Nurul Huda, Marlina, yang menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan BIMLUH yang dinilai sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman agama jamaah.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran penyuluh agama yang terus memberikan pembinaan kepada masyarakat. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat besar bagi jamaah,” ujarnya.

Dalam penyampaiannya, Khoiruz Zaman mengangkat tema tentang bahaya ghibah atau menggosip dengan merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 24 yang menjelaskan bahwa pada hari kiamat kelak, lidah, tangan, dan kaki manusia akan menjadi saksi atas seluruh perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia.

Ia menjelaskan bahwa Islam sangat menjaga kehormatan sesama manusia dan melarang umatnya melakukan ghibah, fitnah, maupun menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Lisan yang tidak dijaga bisa menjadi sumber dosa yang besar. Ghibah bukan hanya merusak hubungan antarsesama, tetapi juga dapat menghapus pahala amal kebaikan apabila tidak segera disadari dan ditaubati,” jelas Khoiruz Zaman di hadapan jamaah.

Ia juga menegaskan bahwa keadilan Allah SWT sangat sempurna dan seluruh amal manusia akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk ucapan yang menyakiti orang lain.

“Mulut yang digunakan untuk berdusta dan menggunjing, tangan yang dipakai berbuat zalim, serta kaki yang melangkah menuju kemaksiatan akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT. Karena itu, menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim,” tambahnya.

Selain membahas bahaya ghibah, ia turut mengingatkan jamaah agar lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi dan persoalan viral di media sosial yang belum tentu benar kebenarannya.

Menurutnya, dosa akibat ghibah tidak cukup hanya dengan memohon ampun kepada Allah SWT, tetapi juga harus disertai permintaan maaf kepada orang yang telah menjadi korban gunjingan.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang dimanfaatkan jamaah untuk berkonsultasi terkait persoalan akhlak dan kehidupan sehari-hari. Suasana diskusi tampak hidup dan penuh semangat, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pembinaan keagamaan yang aplikatif dan menyentuh kehidupan nyata.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama, dengan harapan BIMLUH dapat terus menjadi sarana memperkuat pemahaman agama, membina akhlak mulia, serta membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan religius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *