Pertobatan yang Membebaskan, Penyuluh Kristen Kemenag Medan Kuatkan Iman di Polda Sumut

Medan (Humas) — Pesan tentang pertobatan dan kehidupan baru disampaikan dalam pelayanan keagamaan di lingkungan Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara, Jalan Sisingamangaraja Km. 10,5 No. 60, Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, Sabtu (19/9/2026). Pelayanan tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan dan penguatan iman bagi umat, khususnya dalam mendukung kehidupan rohani di tengah pelaksanaan tugas dan aktivitas sehari-hari. Mengangkat tema “Pertobatan yang Membebaskan” berdasarkan 2 Korintus 5:17, kegiatan mengajak peserta memahami pertobatan sebagai bagian penting dalam proses pembaruan kehidupan bersama Tuhan.

Kegiatan pelayanan diawali dengan rangkaian acara yang dipandu oleh Sri Surbakti, S.Pd.K., selaku pembawa acara. Selanjutnya, khotbah disampaikan oleh Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Medan, Fitri Marina, S.Pd., dengan berlandaskan firman Tuhan dari 2 Korintus 5:17. Dalam penyampaiannya, Fitri mengajak peserta memaknai pertobatan bukan sekadar penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan, tetapi juga sebagai keputusan untuk meninggalkan kehidupan lama dan menjalani kehidupan yang diperbarui.

“Pertobatan bukan hanya tentang meninggalkan kesalahan di masa lalu, tetapi juga tentang keberanian untuk menjalani kehidupan yang baru bersama Tuhan. Ketika seseorang sungguh-sungguh membuka hati dan bersedia berubah, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan yang lebih baik,” ujar Fitri.

Ia menjelaskan, kehidupan baru perlu diwujudkan melalui sikap, perkataan, dan perbuatan dalam keseharian. Pertobatan tidak berhenti pada pengakuan secara pribadi, tetapi perlu terlihat dalam perubahan perilaku serta hubungan dengan Tuhan dan sesama. Karena itu, setiap orang diajak untuk berani melakukan introspeksi, meninggalkan kebiasaan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, serta membangun kehidupan yang dilandasi kasih, pengampunan, dan pengharapan.

“Jangan biarkan masa lalu menentukan kehidupan kita selamanya, karena di dalam Tuhan selalu ada kesempatan untuk berubah dan memulai kembali. Kehidupan yang telah diperbarui hendaknya terlihat melalui cara kita berbicara, bersikap, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain,” lanjutnya.

Pesan tersebut menjadi relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan tanggung jawab di lingkungan kerja dan kehidupan bermasyarakat. Pertobatan mendorong setiap pribadi untuk tidak terus terbelenggu oleh kesalahan masa lalu, melainkan menjadikannya sebagai pembelajaran untuk melakukan perubahan. Dengan demikian, pembaruan iman diharapkan tidak hanya memberikan kekuatan secara rohani, tetapi juga membentuk sikap yang lebih bertanggung jawab, penuh kasih, dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Medan, Dr. H. Impun Siregar, MA, menyampaikan bahwa pelayanan keagamaan yang dilakukan para penyuluh merupakan bagian penting dari pelaksanaan tugas Kementerian Agama dalam menghadirkan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Menurutnya, penyuluh memiliki peran strategis dalam menyampaikan nilai-nilai keagamaan sekaligus memberikan penguatan spiritual kepada umat dalam berbagai lingkungan kehidupan.

“Pelayanan keagamaan merupakan bagian dari upaya Kementerian Agama untuk terus hadir memberikan penguatan iman dan pembinaan kepada masyarakat. Melalui peran para penyuluh, nilai-nilai keagamaan dapat disampaikan secara langsung dan diharapkan mampu memberikan penguatan bagi umat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari,” ujar Impun.

Ia juga menekankan bahwa pesan-pesan keagamaan hendaknya tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan atau ibadah semata, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Nilai pertobatan, pembaruan diri, kasih, pengampunan, dan kepedulian terhadap sesama diharapkan menjadi bagian dari sikap umat dalam kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat.

“Kita berharap setiap pelayanan keagamaan dapat memberikan manfaat yang nyata, sehingga umat tidak hanya semakin memahami ajaran agamanya, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan. Penguatan iman menjadi modal penting untuk membangun pribadi yang baik sekaligus menciptakan lingkungan yang penuh kedamaian dan kepedulian,” tambahnya.

Setelah penyampaian firman, kegiatan dilanjutkan dengan doa syafaat yang dipimpin oleh Amin Murni Zebua. Doa tersebut menjadi bagian dari rangkaian pelayanan untuk membawa berbagai pergumulan, harapan, serta kebutuhan umat dalam doa bersama. Suasana pelayanan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk merenungkan kembali pesan firman yang telah disampaikan.

Melalui pelayanan keagamaan tersebut, Penyuluh Agama Kristen Kemenag Medan terus mengambil bagian dalam pembinaan kehidupan rohani umat di berbagai lingkungan. Kehadiran pelayanan di lingkungan Polda Sumatera Utara diharapkan dapat memberikan ruang bagi umat untuk memperkuat iman, melakukan refleksi diri, serta membangun komitmen untuk menjalani kehidupan yang semakin baik.

Pesan “Pertobatan yang Membebaskan” pada akhirnya mengingatkan bahwa perubahan hidup merupakan proses yang perlu diwujudkan secara nyata. Dengan meninggalkan kehidupan lama dan membangun kehidupan baru berdasarkan nilai-nilai iman, peserta diharapkan mampu menjalani tugas dan tanggung jawab dengan sikap yang lebih baik serta menjadi pribadi yang membawa kasih, pengharapan, dan kebaikan bagi sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *