Medan (Humas) — Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kecamatan Medan Denai terus menggalakkan pembinaan keagamaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat melalui program Safari Subuh. Kali ini, kegiatan dilaksanakan bersama jamaah dan Majelis Taklim Nurul Huda di Masjid Nurul Huda, Jalan Pasar III Datuk Kabu, Kecamatan Medan Denai, Senin (15/6/2026) ba’da Subuh.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut diawali oleh Yanuriyanto selaku protokol yang memandu rangkaian acara. Kehadiran Penyuluh Agama Islam disambut antusias oleh jamaah yang memadati masjid sejak usai menunaikan salat Subuh berjamaah.
Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nurul Huda, H. Iyi Halim, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi Penyuluh Agama Islam yang terus hadir memberikan pembinaan dan pencerahan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan keagamaan.
“Kami merasa bersyukur karena kegiatan pembinaan seperti ini terus dilaksanakan. Kehadiran penyuluh agama memberikan banyak manfaat bagi jamaah dalam meningkatkan pemahaman keagamaan sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Denai, Khoiruz Zaman, menyampaikan tausiah bertema “Kiat Menciptakan Masjid Ramah Anak.” Tema ini dipilih sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya menjadikan masjid sebagai ruang yang nyaman dan mendidik bagi generasi muda.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa masjid merupakan rumah Allah SWT yang terbuka bagi seluruh umat Islam, termasuk anak-anak. Kehadiran anak-anak di masjid hendaknya dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter keagamaan sejak dini.
“Anak-anak yang datang ke masjid sejatinya sedang belajar mencintai rumah Allah. Mereka perlu disambut dengan kasih sayang, dibimbing dengan kesabaran, dan diberikan keteladanan yang baik sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa salah satu langkah penting dalam mewujudkan masjid ramah anak adalah membangun budaya yang penuh kelembutan dan tidak mudah memarahi anak ketika mereka melakukan kesalahan. Sebaliknya, anak-anak perlu diarahkan dan diberikan pemahaman tentang adab berada di masjid secara bertahap sesuai usia dan tingkat pemahamannya.
Menurutnya, peran pengurus masjid, orang tua, dan jamaah sangat penting dalam menciptakan lingkungan masjid yang edukatif. Anak-anak perlu dibimbing untuk menjaga kebersihan, menghormati jamaah yang sedang beribadah, serta memahami tata krama ketika berada di rumah ibadah.
“Masjid yang ramah anak bukan berarti membiarkan anak tanpa aturan. Justru masjid harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendidik sehingga anak-anak merasa senang datang ke masjid sekaligus belajar nilai-nilai keislaman dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mendorong pengurus masjid untuk menghadirkan berbagai fasilitas dan program yang dapat menarik minat anak-anak dan remaja. Di antaranya melalui penyediaan pojok baca Islami, perpustakaan mini, ruang belajar, fasilitas wudhu yang aman, serta kegiatan pendidikan keagamaan seperti TPA, TPQ, tahfiz Al-Qur’an, pesantren kilat, lomba Islami, kajian remaja, dan pelatihan ibadah praktis.
“Masjid harus menjadi pusat pembinaan umat yang mampu melahirkan generasi berakhlak mulia, mencintai Al-Qur’an, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ketika anak-anak merasa dekat dengan masjid, maka kita sedang menanam investasi besar bagi masa depan umat,” tambahnya.
Suasana kajian berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari jamaah terkait pola pembinaan anak di lingkungan masjid. Salah seorang jamaah, H. Marwan, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari materi yang disampaikan.
“Materi ini sangat bermanfaat. Kami menjadi lebih memahami bahwa anak-anak perlu dirangkul dan dibimbing agar tumbuh rasa cinta terhadap masjid. Ini menjadi pelajaran penting bagi kami sebagai orang tua dan jamaah,” ungkapnya.
Di akhir tausiah, Khoiruz Zaman mengajak seluruh jamaah untuk bersama-sama membangun budaya masjid yang inklusif dan ramah terhadap anak-anak sebagai generasi penerus umat Islam.
“Anak-anak hari ini adalah calon pemakmur masjid di masa depan. Sambut mereka dengan kasih sayang, bimbing mereka dengan ilmu, dan tumbuhkan mereka dengan keteladanan agar kelak menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan mencintai masjid,” pesannya.
Kegiatan Safari Subuh kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Syaiful Akhyar, dilanjutkan dengan sarapan bersama yang semakin mempererat ukhuwah Islamiyah antara jamaah, pengurus masjid, dan penyuluh agama.
Melalui kegiatan Safari Subuh ini, PAI KUA Kecamatan Medan Denai terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang aktual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Diharapkan, semangat mewujudkan masjid ramah anak dapat semakin berkembang sehingga masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan karakter, pendidikan, dan pembentukan generasi Islam yang unggul di masa depan.

