Medan (Humas) — Dalam upaya meningkatkan pembinaan keagamaan dan memperkuat pemahaman ibadah bagi warga binaan, Penyuluh Agama Islam melaksanakan kegiatan berbagi buku panduan salat kepada warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Perempuan Kelas IIA Medan, Kamis (8/5/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung penuh kehangatan dan disambut antusias oleh para warga binaan. Buku panduan salat yang dibagikan berisi tata cara salat, bacaan doa, hingga tuntunan ibadah harian yang diharapkan dapat menjadi pedoman dalam meningkatkan kualitas ibadah serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selain pembagian buku, kegiatan juga diisi dengan pembinaan rohani, tausiyah singkat, pendampingan praktik ibadah, serta dialog keagamaan yang memberikan ruang bagi warga binaan untuk menyampaikan pertanyaan dan pengalaman spiritual mereka selama menjalani masa pembinaan. Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan tampak selama kegiatan berlangsung.
Adapun penyuluh agama yang bertugas dalam kegiatan tersebut merupakan tim lintas unsur, yakni M. Iqbal, M.H., Heriansani, M.Ag., Syarifuddin Pasaribu, M.Kom., Wan Nur Ainun, S.Ag., Mahmud Alkausari Pulungan, M.Psi., Mahmud Hasan, M.Ag., Nadiah Masruroh, M.Ag., serta Leonhard, S.S., yang secara konsisten hadir memberikan pembinaan rohani dengan pendekatan humanis dan penuh empati.
Kehadiran para penyuluh agama tersebut tidak hanya memberikan pendampingan spiritual, tetapi juga menjadi wujud nyata perhatian dan kepedulian terhadap pembinaan mental warga binaan agar tetap memiliki semangat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Dengan pendekatan yang persuasif dan penuh kekeluargaan, para penyuluh berupaya menanamkan nilai-nilai keagamaan, kedisiplinan, serta motivasi untuk terus memperbaiki diri.

M. Iqbal menyampaikan bahwa pembinaan rohani di lingkungan rutan menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran spiritual warga binaan. “Kami berharap melalui pembinaan dan pembagian buku panduan salat ini, warga binaan semakin termotivasi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menjadikan ibadah sebagai kekuatan dalam menjalani proses pembinaan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pembinaan keagamaan harus dilakukan secara berkelanjutan agar mampu memberikan dampak positif terhadap perubahan perilaku dan pola pikir warga binaan.
“Pendekatan yang lembut dan penuh perhatian menjadi kunci agar pesan-pesan keagamaan dapat diterima dengan baik dan menyentuh hati mereka,” tambahnya.
Senada dengan itu, Syarifuddin menuturkan bahwa kegiatan lintas unsur penyuluh agama ini menjadi bentuk kolaborasi dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang menyentuh sisi kemanusiaan warga binaan.
“Pendampingan rohani bukan hanya soal memberikan materi keagamaan, tetapi juga menghadirkan harapan, ketenangan, dan semangat baru bagi mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.
Menurutnya, pembinaan spiritual memiliki peran besar dalam membantu warga binaan menemukan kembali makna kehidupan serta membangun optimisme untuk masa depan. “Kami ingin hadir bukan untuk menghakimi, tetapi mendampingi dan memberikan penguatan agar mereka memiliki keyakinan untuk bangkit dan memperbaiki diri,” katanya.
Pihak Rutan Perempuan Kelas IIA Medan mengapresiasi perhatian dan kepedulian para penyuluh agama dalam memberikan pembinaan keagamaan kepada warga binaan. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dalam mendukung pembinaan karakter, meningkatkan kesadaran spiritual, serta membangun harapan baru bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Pembinaan rohani menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembentukan karakter warga binaan. Kami menyampaikan terima kasih atas kontribusi dan kepedulian para penyuluh agama yang terus hadir mendampingi warga binaan dengan penuh keikhlasan,” ujar salah satu pihak Rutan.
Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan nilai-nilai keagamaan dapat terus tumbuh dalam diri warga binaan sehingga menjadi bekal positif dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta saat kembali berbaur di lingkungan masyarakat.

