Hadirkan Ketenangan dan Penguatan Iman, PAI Medan Amplas Berikan Bimroh Pasien ICU RS Mitra Sejati

Medan (Humas) – Kehadiran negara melalui pelayanan keagamaan tidak hanya diwujudkan dalam pembinaan di masjid atau majelis taklim, tetapi juga melalui pendampingan spiritual bagi masyarakat yang sedang menghadapi ujian kehidupan. Salah satunya diwujudkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Amplas melalui kegiatan Bimbingan Rohani (Bimroh) kepada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Kepala KUA Kecamatan Medan Amplas, H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan, S.Ag., M.A., yang mendorong seluruh Penyuluh Agama, Penghulu, dan Penata Layanan Operasional (PLO) agar senantiasa menghadirkan pelayanan keagamaan yang prima, profesional, humanis, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebagai implementasi dari komitmen tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Medan Amplas, Harun Arrasyid dan Nurbaiti, melaksanakan kegiatan Bimbingan Rohani (Bimroh) di Rumah Sakit Mitra Sejati, Selasa (30/6/2026). Pendampingan dilakukan di ruang Intensive Care Unit (ICU) lantai 2 dan lantai 3 dengan mengunjungi pasien secara langsung di ruang perawatan.

Dalam suasana yang penuh empati dan kekeluargaan, para penyuluh memberikan pendampingan spiritual kepada pasien dan keluarga. Melalui pendekatan yang persuasif dan humanis, mereka mengajak pasien untuk tetap bersabar, memperbanyak doa, memperkuat tawakal kepada Allah SWT, serta menjaga prasangka baik (husnuzan) atas setiap ketentuan yang diberikan-Nya.

Harun Arrasyid menyampaikan bahwa setiap ujian, termasuk sakit, merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT yang mengandung hikmah. Oleh karena itu, pasien diajak untuk tetap optimis, memperbanyak ibadah, dan menjadikan masa sakit sebagai momentum mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Sakit bukan hanya ujian fisik, tetapi juga kesempatan bagi seorang hamba untuk semakin mendekat kepada Allah SWT. Kesabaran, doa, dan tawakal adalah kekuatan yang mampu menenangkan hati serta menumbuhkan harapan di tengah ikhtiar pengobatan yang sedang dijalani. Insyaallah, setiap penyakit yang Allah turunkan juga telah disertai jalan menuju kesembuhan,” ujar Harun Arrasyid.

Selain memberikan motivasi spiritual, para penyuluh juga menyampaikan bimbingan mengenai tata cara pelaksanaan ibadah bagi orang yang sedang sakit. Mereka menjelaskan bahwa Islam memberikan berbagai kemudahan (rukhsah) sehingga pasien tetap dapat menjalankan kewajiban salat sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Nurbaiti menjelaskan bahwa pasien yang tidak diperkenankan menggunakan air karena pertimbangan medis dapat melaksanakan tayamum sebagai pengganti wudu. Ia menegaskan bahwa syariat Islam senantiasa memberikan kemudahan tanpa mengurangi nilai ibadah seorang muslim.

“Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan. Dalam kondisi sakit sekalipun, kewajiban beribadah tetap dapat dilaksanakan sesuai kemampuan. Jangan pernah merasa jauh dari Allah SWT hanya karena sedang terbaring sakit. Justru di saat seperti inilah doa, zikir, dan ibadah menjadi sumber kekuatan yang menenangkan hati,” tutur Nurbaiti.

Kehadiran para penyuluh disambut hangat oleh pasien maupun keluarga yang mendampingi. Pendampingan rohani tersebut menghadirkan suasana yang lebih tenang, memberikan semangat baru bagi pasien, sekaligus menjadi pengingat bahwa proses penyembuhan tidak hanya ditempuh melalui ikhtiar medis, tetapi juga melalui penguatan spiritual dan doa kepada Allah SWT.

Kegiatan Bimbingan Rohani ditutup dengan doa bersama. Dalam doa tersebut, para penyuluh memohon agar Allah SWT memberikan kesembuhan kepada seluruh pasien, mengangkat penyakit yang diderita, menguatkan lahir dan batin mereka, memberikan kesabaran kepada keluarga yang mendampingi, serta melimpahkan kesehatan dan keberkahan kepada seluruh tenaga medis yang memberikan pelayanan.

Melalui kegiatan ini, KUA Kecamatan Medan Amplas terus menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan keagamaan yang responsif, humanis, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Kehadiran penyuluh agama di rumah sakit diharapkan mampu memberikan ketenangan batin, menguatkan keimanan, serta menumbuhkan optimisme bagi pasien dalam menjalani proses penyembuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *